Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Unik! Inilah Rahasia Beras Merah Jatiluwih,Tabanan, Tetap Lestari: Dari Awig-Awig Hingga Ritual Nyepi Sawah

Juliadi Radar Bali • Kamis, 8 Januari 2026 | 10:50 WIB

 

DIUPACARAI DULU :  Prosesi ritual Mapag Toya sebelum melakukan proses pengairan lahan pertanian di Subak Jatiluwih Kecamatan Penebel, Tabanan. (juliadi)
DIUPACARAI DULU : Prosesi ritual Mapag Toya sebelum melakukan proses pengairan lahan pertanian di Subak Jatiluwih Kecamatan Penebel, Tabanan. (juliadi)

Pernahkah Anda mendengar tentang "Nyepi di Sawah"? Tradisi unik inilah yang dilakukan para petani di Subak Jatiluwih, Tabanan, saat mengawali musim tanam beras merah tahun 2026 ini.

INI seperti dituturkan I Wayan Mustra,  selaku Pekaseh Subak mengungkapkan, seluruh petani di Jatiluwih kini mulai turun ke sawah untuk menanam bibit padi cendana.

HAMPARAN PADI : Suasana Jatiluwih dengan hamparan padi terasering. (dok.Radar Bali)
HAMPARAN PADI : Suasana Jatiluwih dengan hamparan padi terasering. (dok.Radar Bali)

Baca Juga: Meskipun Permintaan Pasar Tinggi, Ternyata Produksi Beras Merah Jatiluwih Tabanan Masih Minim

Kali ini, apa yang dilakukan untuk menanam padi dengan warna beras merah alias oryza nivara  ini  memang bukan sembarang menanam, proses ini diatur dalam awig-awig subak yang sangat sakral dan dilestarikan hingga saat ini.

Ini menjadi tradisi yang khas, dari generasi ke generasi berikutnya, dari tahun ke tahun, secara turun temurun.

 Beberapa poin unik dari sistem pertanian di Jatiluwih antara lain: ritual berlapis: Mulai dari menyambut air (Mapag Toya) hingga upacara Ngerestiti untuk mengusir hama.

Pertanian Organik

Pertanian minim kimia dan sudah tidak menggunakan pestisida, hanya mengandalkan pupuk kandang dan organik. Waktu panen lama: Berbeda dengan padi jenis lain, beras merah Jatiluwih membutuhkan waktu enam  bulan untuk bisa dipanen.

"Seluruh langkah ini dilakukan sebagai wujud syukur dan tanggung jawab kami menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih, Tabanan,  yang sudah mendunia," pungkas Mustra.[*]

Editor : Hari Puspita
#Jatiluwih #pertanian organik #beras merah #tradisi turun temurun