Pernahkah Anda mendengar tentang "Nyepi di Sawah"? Tradisi unik inilah yang dilakukan para petani di Subak Jatiluwih, Tabanan, saat mengawali musim tanam beras merah tahun 2026 ini.
INI seperti dituturkan I Wayan Mustra, selaku Pekaseh Subak mengungkapkan, seluruh petani di Jatiluwih kini mulai turun ke sawah untuk menanam bibit padi cendana.
Baca Juga: Meskipun Permintaan Pasar Tinggi, Ternyata Produksi Beras Merah Jatiluwih Tabanan Masih Minim
Kali ini, apa yang dilakukan untuk menanam padi dengan warna beras merah alias oryza nivara ini memang bukan sembarang menanam, proses ini diatur dalam awig-awig subak yang sangat sakral dan dilestarikan hingga saat ini.
Ini menjadi tradisi yang khas, dari generasi ke generasi berikutnya, dari tahun ke tahun, secara turun temurun.
Beberapa poin unik dari sistem pertanian di Jatiluwih antara lain: ritual berlapis: Mulai dari menyambut air (Mapag Toya) hingga upacara Ngerestiti untuk mengusir hama.
Pertanian Organik
Pertanian minim kimia dan sudah tidak menggunakan pestisida, hanya mengandalkan pupuk kandang dan organik. Waktu panen lama: Berbeda dengan padi jenis lain, beras merah Jatiluwih membutuhkan waktu enam bulan untuk bisa dipanen.
"Seluruh langkah ini dilakukan sebagai wujud syukur dan tanggung jawab kami menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih, Tabanan, yang sudah mendunia," pungkas Mustra.[*]
Editor : Hari Puspita