Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Di Balik Semerbak Durian Pupuan, Tabanan saat Cuaca Ekstrem : Angin Kencang Merontokkan Buah Muda, Merampas Harapan Petani

Juliadi Radar Bali • Selasa, 3 Februari 2026 | 10:23 WIB
SELAMAT YANG SUDAH MASA PANEN : Durian yang sudah masa panen di Pupuan, Tabanan, selamat dari cuaca ekstrem dan siap petik. (juliadi)
SELAMAT YANG SUDAH MASA PANEN : Durian yang sudah masa panen di Pupuan, Tabanan, selamat dari cuaca ekstrem dan siap petik. (juliadi)

 

Cuaca ekstrem dengan angin kencangnya semakin sering terjadi belakangan ini. Tak hanya merobohkan sejumlah pohon, buah durian muda pun rontok gagal berkembang.

AROMA manis durian alias Durio zibethinus, seharusnya mulai tercium dari balik rimbunnya perbukitan Kecamatan Pupuan, Tabanan.

Bagi para petani di sana, awal Februari biasanya menjadi masa yang paling dinanti—waktu saat  "emas hijau" dari dahan-dahan tinggi siap dipetik dan dikonversi menjadi pundi-pundi rupiah.

Namun, musim panen kali ini hadir dengan wajah yang berbeda. Alih-alih senyum lebar, raut cemas justru terpancar dari wajah Nyoman Kasim, seorang petani asal Desa Padangan. Cuaca ekstrem berupa angin kencang yang mengamuk belakangan ini telah berubah menjadi mimpi buruk bagi kebunnya.

"Belum waktunya matang, buahnya sudah berjatuhan disapu angin. Bahkan cabang-cabang pohon yang penuh buah pun patah tidak kuat menahan kencangnya embusan angin," tutur Kasim dengan nada lirih saat ditemui pada Senin (2/2/2026).

Pupuan memang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian unggulan di Bali, selain kopi dan manggis. Namun tahun ini, kencangnya angin tidak hanya menggugurkan bunga-bunga yang baru mekar, tetapi juga memaksa buah durian muda—yang seharusnya baru siap panen akhir Februari atau Maret mendatang—jatuh ke tanah sebelum waktunya.

Bagi Kasim dan petani lainnya, jatuhnya durian muda adalah kerugian telak. Berbeda dengan buah lain yang bisa diperam, durian yang jatuh sebelum masanya tidak memiliki nilai jual.

 "Kalau dijual pasti tidak laku. Rasanya hambar, dagingnya keras. Akhirnya terbuang sia-sia," akunya.

Potensi kerugian ini terasa kian menyakitkan jika melihat harga pasar. Durian lokal Bali biasanya dibanderol antara Rp20.000 hingga Rp50.000 per butir.

Sementara varietas unggul seperti Durian Kane atau Bawor bisa menyentuh angka Rp75.000 per kilogram.

Kini, harga-harga itu seolah melayang di udara, tertiup angin yang sama yang merontokkan harapan mereka.

Keresahan serupa dirasakan oleh Perbekel Desa Munduk Temu, I Gusti Made Arsana. Sebagai sosok yang juga bergelut di dunia tani, ia memahami betul betapa besarnya dampak anomali cuaca ini.

 Tak hanya soal buah yang jatuh, angin kencang juga mengancam keselamatan pohon-pohon besar yang menjadi investasi jangka panjang mereka.

"Cuaca sekarang pengaruhnya luar biasa besar. Selain buah yang jatuh prematur, risiko pohon tumbang juga menghantui. Mengingat kami menanam dengan sistem tumpang sari, satu pohon durian yang tumbang bisa merusak tanaman kopi atau manggis di bawahnya," jelas Arsana.

Di tengah deru angin yang masih enggan bersahabat, para petani di Pupuan hanya bisa bersandar pada harapan. Mereka memandang langit, berdoa agar atmosfer segera tenang.

"Namanya juga bertani, pasti ada risikonya. Kami hanya berharap di awal Februari ini kondisi cuaca membaik, agar sisa buah yang masih bertahan bisa matang sempurna dan tepat waktu untuk dipanen," pungkasnya penuh harap.[*]

Editor : Hari Puspita
#buah durian #pupuan tabanan #cuaca ekstrem #panen durian #durian tabanan