“Sarah” yang ini bukan nama cewek sinetron. Kehadiran Sarah merupakan buah dari ketekunan puluhan tahun. Berawal dari upaya Suardika memulihkan lahan kopinya yang kritis akibat pupuk kimia pada 1991, ia mulai menyilangkan Salak Madu dengan Salak Gula Pasir asal Karangasem. Setelah mutasi panjang, genetik baru ini akhirnya stabil dan menunjukkan karakter uniknya.
Kini, Salak Merah sedang menjalani riset mendalam oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Brida Tabanan. Hasil uji laboratorium menunjukkan kejutan: DNA Salak Merah terbukti murni varietas lokal baru, bukan berasal dari Salak Madu maupun varietas asal Maluku.
Baca Juga: Tiga Remaja Otaki Pencurian Buah Salak di Kebun Warga, Total Ada 22 TKP
“Fase sekarang adalah tahap uji keunggulan. Kami mengambil sampel dari 15 pohon untuk diteliti, mulai dari kandungan buah hingga dampaknya terhadap kesehatan,” jelas Ketut Suardika.
Meski telah terdaftar sebagai varietas lokal, "Sarah" belum boleh diperjualbelikan secara bebas hingga sertifikasi pelepasan varietas terbit. Harapannya, legalitas ini segera rampung sehingga petani lain dapat membudidayakan salak eksotis ini dan masyarakat luas bisa segera mencicipi keunikannya.[*]
Editor : Hari Puspita