Bukan sekadar "omon-omon" saja, aktivis lingkungan di Tabanan yang tergabung dalam Tabanan Lovers dan Patradesa, bekerja sama dengan TPS3R Sadu Kencana. Mereka meluncurkan aksi nyata berupa dropping point sampah.
GERAKAN ini hadir sebagai respons atas fenomena banyaknya warga yang mengeluh di media sosial terkait mandeknya pengangkutan sampah meski mereka sudah melakukan pemilahan dari rumah.
Baca Juga: BRIN Kaji TPS3R Desa Baktiseraga: Dorong Implementasi Gerakan Bali Bersih Sampah di Buleleng
Solusi di Tengah Kebingungan Aturan
Aksi ini bertujuan menjembatani keresahan warga pasca-terbitnya Surat Edaran Bupati Tabanan No. 07/DLH/2026 tentang percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber. Warga dituntut memilah sampah, namun di lapangan, infrastruktur pendukung dianggap belum siap.
"Masyarakat sudah memilah sampah dari rumah sesuai aturan, tapi faktanya sampah itu tidak ada yang mengambil karena DLH hanya menerima residu. Inilah alasan kami bergerak," tegas Gus Sumberdana (Gus Tulang), penggagas gerakan sekaligus pengurus pendamping desa, Sabtu (16/5/2026).
Antusiasme di Luar Prediksi
Gerakan ini dilaksanakan di tiga titik strategis: Jalan Darwangsa, area parkir Gedung Kesenian I Ketut Maria, dan Lapangan Alit Saputra Dangin Carik. Hasilnya mengejutkan. Hanya dalam satu hari, sebanyak 27 warga datang membawa sampah yang sudah terpilah rapi. Total sampah terkumpul: 36 kg anorganik, 13 kg residu, dan 1 kg organik.
Sentilan untuk Pemerintah Daerah
Gus Tulang menekankan bahwa aksi ini juga menjadi "masukan" bagi Pemkab Tabanan. Menurutnya, pemerintah jangan hanya membuat aturan dan mengedukasi, tapi juga harus hadir sebagai jembatan melalui penyediaan infrastruktur dan skema pengangkutan yang terintegrasi.
"Pemerintah punya petugas dan armada. Minimal buatkan jadwal skema pengangkutan. Misalnya, hari Minggu khusus sampah organik. Jika semua terfasilitasi, kebocoran sampah ke lingkungan bisa diminimalisir," pungkasnya.[*]
Editor : Hari Puspita