Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Rupiah Keok Tembus Rp 17.800, Perajin Tempe di Tabanan Mulai Waswas dan  Memperkecil Ukuran

Juliadi Radar Bali • Rabu, 27 Mei 2026 | 05:15 WIB
WASWAS DOLAR TERUS NAIK : Pelaku usaha pengrajin tempe Mohammad Abdulah di Pasar Kodok, Desa Dauh Peken, Tabanan yang ingka memproduksi tempe.(juliadi/radar bali)
WASWAS DOLAR TERUS NAIK : Pelaku usaha pengrajin tempe Mohammad Abdulah di Pasar Kodok, Desa Dauh Peken, Tabanan yang ingka memproduksi tempe.(juliadi/radar bali)

Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian liar mulai memicu kegelisahan di tingkat bawah. Di Tabanan, para perajin tempe kini dihantui kecemasan mendalam. Pasalnya, mata uang paman Sam yang sempat menyentuh angka Rp 17.800 per dolar AS berpotensi besar mengerek harga kedelai impor yang menjadi napas utama usaha mereka.

FAKTA yang tidak mengenakkan. Hingga saat ini, harga kedelai di pasaran sebenarnya masih tertahan di angka Rp 10.450 per kilogram.

Baca Juga: IHSG Ambles 3,59 % dan Rupiah Sentuh Level Terlemah Rp 17.730 per Dolar AS

Namun, karena mayoritas pasokan kedelai tanah air masih bergantung pada keran impor, para perajin tahu betul bahwa bom waktu kenaikan harga bahan baku bisa meledak kapan saja jika rupiah terus tertekan.

Kekhawatiran ini diakui oleh Mohammad Abdulah, salah satu perajin tempe di kawasan Pasar Kodok, Desa Dauh Peken, Tabanan. Sebagai pelaku usaha mikro, ia mengaku tidak tenang melihat pergerakan kurs saat ini.

"Pasti cemas kalau dolar naik terus. Harapan kami sebagai pelaku usaha kecil, harga bahan baku kedelai ini bisa turun, atau paling tidak stabil di angka normal," keluh Abdulah saat ditemui, Rabu (27/5).

Ia memprediksi harga kedelai saat ini tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, harga pasar akan menyesuaikan dengan nilai tukar dolar yang melambung.

Siasat 'Sunat' Ketebalan ketimbang Naikkan Harga

Berada di posisi dilematis, Abdulah dan rekan sesama perajin tempe di Tabanan memutar otak demi bertahan hidup. Menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang belum stabil dianggap sebagai langkah bunuh diri. Alhasil, mereka memilih opsi pamungkas: menyunat ukuran tempe.

Jika biasanya Abdulah memproduksi tempe dengan ketebalan standar 2,5 sentimeter, kini ia terpaksa memangkasnya menjadi 2 sentimeter saja. Langkah ini diambil agar ia tidak kehilangan pelanggan setianya.

"Harga jual tempe tetap kami pertahankan di angka Rp 5.000 per potong. Tidak kami naikkan, cuma ukuran ketebalannya saja yang terpaksa dikurangi," tuturnya blak-blakan.

Pria yang sudah puluhan tahun menggeluti usaha ini membeberkan, dalam sehari ia menghabiskan sekitar 90 hingga 100 kilogram kedelai. Dari volume tersebut, ia mampu memproduksi sekitar 300 potong tempe yang siap dipasarkan.

Bagi Abdulah, tempe bukan sekadar bisnis, melainkan komoditas sensitif bagi isi dompet wong cilik. Jika harga bahan baku melambung, imbasnya akan langsung memukul rantai paling bawah.

“Hitungannya sederhana, kalau harga kedelai murah, harga tempe terjangkau masyarakat dan produksi kami bisa melimpah. Tapi kalau harga kedelai naik, pembeli pasti langsung berkurang. Bagaimanapun, tempe itu sudah identik dengan makanan rakyat yang murah meriah,” pungkasnya penuh harap agar pemerintah segera turun tangan menstabilkan keadaan. [*]

Editor : Hari Puspita
#dolar naik #perajin tempe #dampak ekonomi #kedelai #tempe