Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Sudah di Ambang Punah, Cemara Pandak di Bali Kini Tersisa Kurang dari Lima Pohon, BRIN Kebun Raya Kebal Balapan dengan Waktu

Juliadi Radar Bali • Jumat, 29 Mei 2026 | 08:47 WIB
Ilustrasi bibit cemara pandak bali. (gambar digital gemini/radar bali)
Ilustrasi bibit cemara pandak bali. (gambar digital gemini/radar bali)

Alarm bahaya kelestarian lingkungan kembali berbunyi nyaring dari dataran tinggi Bali. Tanaman cemara pandak dengan nama latin Darcrycarpus Imbricatus, yang merupakan salah satu tumbuhan endemik asli pulau dewata, kini dilaporkan berada di ambang kepunahan total.

PERLU  langkah cepat dan efektif. Karena keberadaan pohon purba dataran tinggi ini memegang peran yang sangat vital dalam menjaga kelembapan tanah, menjaga pasokan air, serta membentengi kawasan pegunungan dari ancaman bencana erosi.

Baca Juga: PNM Salurkan Bantuan Sanitasi dan Penghijauan di Kampung Madani Bali 

Saat ini, melacak keberadaan pohon cemara pandak di habitat aslinya sudah luar biasa sulit. Tingginya angka perburuan liar karena kayu cemara pandak kerap diincar sebagai material premium bahan bangunan menjadi pemicu utama ambruknya populasi tanaman ini.

Menyikapi kondisi darurat tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berbasis di Kawasan Konservasi Ilmiah (KKI) Kebun Raya Eka Karya Bali, Bedugul, langsung mengambil langkah penyelamatan progresif.

Mereka mulai melakukan upaya perbanyakan populasi massal melalui pembibitan intensif, serta meluncurkan gerakan penanaman pohon di sepanjang kawasan konservasi Danau Tamblingan.

Staf Edukasi Kebun Raya Eka Karya Bali, Komang Sandiasa mengungkapkan, status kritis atau kepunahan dari tanaman Cemara Pandak ini bukan isapan jempol belaka, melainkan berbasis pada hasil riset dan data sahih Red List dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Atas dasar itulah, Kebun Raya Bali langsung menetapkan tanaman ini sebagai prioritas tinggi untuk dikonservasi dan dikembangbiakkan.

"Jika merujuk pada angka global di habitat aslinya, jumlah pohon yang berukuran dewasa saat ini terpantau di bawah 5 pohon saja. Kondisi ini sangat kritis. Kami di Kebun Raya saat ini sedang berpacu dengan waktu untuk memperbanyak tanaman tersebut lewat metode ilmiah supaya vegetasi endemik ini tetap lestari," ungkap Komang Sandiasa saat ditemui di kawasan Bedugul pada Senin (25/5/2026).

Sandiasa tidak menampik bahwa faktor utama yang mencekik populasi Cemara Pandak adalah keserakahan manusia. Kualitas kayu dari pohon ini dikenal sangat berkelas, kokoh, dan tahan lama, sehingga sering diburu secara ilegal untuk dijadikan komponen utama konstruksi rumah atau bangunan mewah.

"Bisa dibilang, saat ini kualitas dan prestise kayu pohon Cemara Pandak ini sudah setara dengan kayu jati. Nilai ekonomis yang tinggi itulah yang memicu aksi pembabatan dan perburuan liar di dalam hutan berlangsung sangat masif dan cepat," sesalnya.

Menyelamatkan Cemara Pandak nyatanya bukan perkara mudah. Karakteristik tanaman ini tergolong lambat dalam beregenerasi. Untuk memproses sekadar menjadi bibit awal saja, tim peneliti membutuhkan waktu tunggu sekitar 5 hingga 6 bulan. Selanjutnya, dibutuhkan waktu perawatan intensif selama satu tahun penuh agar bibit tersebut siap bertransformasi menjadi bibit pohon yang layak tanam di alam liar.

"Melalui kerja keras tim konservasi, saat ini sudah ada sekitar 50 pohon tanaman Cemara Pandak yang berhasil kami perbanyak di pembibitan. Ini menjadi bukti nyata bahwa fungsi utama Kebun Raya Bali sebagai benteng konservasi berjalan maksimal," papar Sandiasa.

Lebih lanjut, Sandiasa menambahkan bahwa tanaman Cemara Pandak memiliki ego ekologis yang tinggi; mereka sama sekali tidak akan bisa bertahan hidup jika dipaksakan ditanam di daerah dataran rendah. Karakteristiknya hanya adaptif di daerah pegunungan berhawa dingin, dengan sebaran wilayah ideal berada di kawasan penyangga air seperti Danau Tamblingan dan seputaran Bedugul.

"Sebagai langkah konkret pengembalian ke alam, beberapa waktu lalu kami juga sudah turun langsung melakukan aksi penanaman kembali (replanting) pohon Cemara Pandak ini. Aksi ini kami lakukan dengan berkolaborasi bersama komunitas peduli lingkungan lokal, Brasti (Baga Raksa Alas Merjati) di areal sakral hutan Danau Tamblingan," tutupnya. [*]

Editor : Hari Puspita
#tumbuhan endemik #pelestarian #lingkungan #penghijauan #tanaman