Petani di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan mulai menghadapi kendala klasik di tengah musim panen padi seperti sekarang ini. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi para petani di subak setempat adalah krisis atau kesulitan mencari tenaga buruh panen atau tenaga manyi tradisional.
SEBETULNYA ini bukan problem baru. Masalah kesulitan mencari tenaga buruh panen ini ternyata menjadi siklus tahunan yang hampir selalu terjadi setiap kali musim panen padi tiba.
Baca Juga: Musim Panen, Kesulitan Cari Buruh Petik Cengkih, Petani Merugi
Penyebab utama sulitnya mencari tenaga kerja pemotong padi ini adalah akibat minimnya penerus dari generasi muda untuk menekuni dunia pertanian. Di sisi lain, tenaga buruh panen padi yang tersisa dan bertahan di Desa Jatiluwih rata-rata sudah berusia tua.
Baca Juga: Diserbu Tungro, Tenggerek dan Tikus, Belasan Hektare Tanaman Padi Baturiti Bisa Nihil Tanpa Panen
Petani asal Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Penebel, I Wayan Semarajaya, 52, yang juga merupakan petani padi beras merah mengaku kesulitan mencari buruh panen padi.
Sejatinya hal ini bukan hanya terjadi di desanya atau Subak Jatiluwih yang telah berstatus warisan budaya dunia dari Unesco tersebut.
Namun, krisis tenaga kerja ini juga terjadi pada subak-subak di desa lainnya di wilayah Kabupaten Tabanan. Seperti di daerah Wangaya Gede, Wangaya Betan, Senganan, Babahan, Munduk Lumbang, Bugbugan, dan beberapa subak lainnya.
Padahal, keberadaan buruh panen padi ini sangat krusial dan membantu petani dalam mempercepat proses panen padi di sawah. Dengan waktu panen yang cepat, para petani dapat segera mengolah kembali lahan pertanian mereka untuk ditanami padi pada musim berikutnya.
"Kalau sudah memasuki musim panen, pasti petani di desa kesulitan mencari tenaga panen padi. Terlebih lagi jika panen padi terjadi dalam waktu yang bersamaan antar-subak," ujarnya saat ditemui pada Minggu (21/6/2026) sekitar pukul 10.00 Wita.
Menurutnya, kesulitan mencari tenaga panen padi ini disebabkan oleh beberapa faktor mendasar. Salah satunya adalah minimnya ketertarikan penerus dari generasi muda di desa untuk bekerja di sektor pertanian, lantaran mereka lebih banyak memilih untuk bekerja di sektor pariwisata yang dinilai lebih menjanjikan. Selain itu, sebagian besar petani yang tersisa di desa kondisinya sudah berumur atau orang tua.
Kondisi pelik ini terpaksa membuat para petani di Desa Jatiluwih menyiasatinya dengan mendatangkan buruh panen padi dari luar daerah. "Kami terpaksa harus mendatangkan tukang panen atau buruh panen dari luar wilayah," ungkapnya.
Ia menjelaskan, di era modern ini sejatinya telah tersedia alat mekanisasi pertanian modern untuk memanen padi. Hanya saja, kondisi padi di Jatiluwih dengan daerah lainnya sangat berbeda secara karakteristik.
Mengingat para petani di Desa Jatiluwih hingga kini masih berkomitmen menanam padi lokal (padi tahun) yang ciri karakter batangnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan padi hibrida.
Kemudian ditambah lagi dengan topografi lahan pertanian di Jatiluwih yang berbentuk terasering atau pundak berundak-undak khas pegunungan. Alhasil, penggunaan alat mesin panen modern pun tidak dapat beroperasi secara maksimal di sana.
Karena proses panen masih sangat bergantung pada tenaga manyi manual dari luar daerah, para petani di desa pun harus pintar-pintar mengatur jadwal panen secara bergiliran. Langkah ini terpaksa dilakukan guna mencegah risiko bulir padi mengalami kerusakan akibat terlalu lama terkatung-katung di sawah.
"Rata-rata kami menyewa tenaga panen atau tenaga manyi sebanyak 4 sampai 5 orang jika panen padi dilakukan dengan luas lahan sekitar 50 are. Itu pun membutuhkan jangka waktu pengerjaan panen selama 5 hari," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita