Duh, Ternyata Masalah Ekonomi Jadi Pemicu Utama, Ribuan ODGJ di Tabanan Jalani Perawatan

Juliadi Radar Bali • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 06:53 WIB
Ilustrasi ODGJ di Tabanan Tengah menjalani perekaman foto E-KTP saat dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatanan Sipil (Disdukcapil) , beberapa waktu lalu. (Juliadi/Radar Bali)
Ilustrasi ODGJ di Tabanan Tengah menjalani perekaman foto E-KTP saat dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatanan Sipil (Disdukcapil) , beberapa waktu lalu. (Juliadi/Radar Bali)

Jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Tabanan ternyata menembus angka ribuan orang. Data ini terkuak setelah dilakukan pencatatan berkala saat pemeriksaan kesehatan. Hingga rekapitulasi data tahun 2025, angka ODGJ di Tabanan tercatat sebanyak 1.093 orang.

SAAT ini ada ribuan penderita ODGJ tersebut mayoritas menjalani perawatan di rumah masing-masing di bawah pengawasan keluarga dan puskesmas setempat.

Baca Juga: Meresahkan Warga, Pria ODGJ yang Mengamuk di Beraban Akhirnya Dievakuasi ke RSUD Tabanan

Namun, sebagian lainnya mendapatkan perawatan khusus di rumah singgah Pondok Sosial Tresna Werdha Santhi milik Dinas Sosial Tabanan.

Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial (PRS) Dinas Sosial Tabanan, Ni Wayan Wiwik Suryani menyampaikan bahwa angka penderita ODGJ di Tabanan terbilang tinggi.

Baca Juga: Sambil Bawa Sabit, Pria ODGJ di Kintamani Kurung Diri, Eh Ternyata Malah Live Tiktok hingga Resahkan Keluarga

Kendati demikian, jika dibandingkan dengan data tahun 2024 yang mencapai 1.115 orang, jumlah penderita di tahun 2025 sebenarnya mengalami penurunan.

"Terjadi penurunan karena beberapa faktor, seperti pindah domisili, meninggal dunia, serta adanya perubahan diagnosa," ujarnya pada Minggu (9/8/2026).

Ia menjelaskan, tingginya angka ODGJ di Tabanan dipicu beragam persoalan. Mulai dari masalah ekonomi, persoalan rumah tangga, hingga lingkungan keluarga. "Namun, dari hasil pendataan di lapangan, mayoritas pemicu gangguan jiwa adalah masalah ekonomi," terangnya.

Menyinggung penanganan terhadap penderita ODGJ, Wiwik Suryani menyebutkan bahwa pemerintah daerah telah menyalurkan berbagai bantuan. Bantuan berupa paket sembako bersumber dari APBD serta kolaborasi program CSR. Selain itu, terdapat program bantuan bedah kamar melalui Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S).

Layanan kesehatan berupa penanganan medis dan pemberian obat berada di bawah kewenangan Dinas Kesehatan. "Bagi mereka yang bergejala berat, biasanya langsung dirujuk oleh pihak keluarga ke rumah sakit," ungkapnya.

Data 1.115 ODGJ tersebut merupakan penderita yang tercatat pernah melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit. Sebaran wilayah penderita terbanyak berada di Kecamatan Kediri dan Kecamatan Tabanan, sementara sisanya tersebar di kecamatan lain.

"Data kami menunjukkan wilayah Kecamatan Selemadeg Timur menjadi kawasan dengan jumlah ODGJ paling sedikit," pungkasnya. [*]

Editor : Hari Puspita
Sumber : Radar Bali
masalah kejiwaan dinas sosial tabanan odgj masalah ekonomi K3S