TABANAN, Radar Bali.id – Ratusan tukik perlahan bergerak meninggalkan bibir Pantai Abian Kapas, Desa Beraban, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, menuju laut lepas pada Minggu (9/8/2026).
Sebanyak 300 ekor anak penyu dilepasliarkan sebagai bentuk nyata menjaga habitat penyu sekaligus mengedukasi masyarakat pesisir.
Baca Juga: Badah! Dikira Dicuri, Puluhan Tukik Konservasi di Nusa Penida Ternyata "Nyemplung" ke Septic Tank
Aksi pelepasliaran tukik ini dirangkaikan dengan kegiatan bersih-bersih pantai. Aksi lingkungan ini melibatkan ratusan siswa dari SMPN 1, 2, dan 3 Selemadeg Timur, Sekaa Teruna Teruni (STT), komunitas nelayan, hingga Yayasan Bhakti Yoga Dharma.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa pelepasan ratusan tukik merupakan bukti keberhasilan konservasi masyarakat lokal yang berkomitmen hidup berdampingan dengan habitat penyu.
"Menjaga habitat penyu berarti menjaga lingkungan pesisir secara keseluruhan," tegas Made Dirga pada Minggu (9/8/2026).
Dirga juga meminta seluruh komponen warga berperan aktif mengawasi kawasan perairan umum. Ia melarang keras tindakan yang merusak ekosistem seperti penggunaan strum listrik, racun kimia (tuba), maupun bahan berbahaya lainnya.
"Masyarakat tidak hanya fokus pada pelestarian, tetapi juga harus ikut mengawasi. Jika ada kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan, segera laporkan ke aparat penegak hukum," terangnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Bhakti Yoga Dharma, Jro Mangku Nyoman Putra, menjelaskan bahwa kegiatan pelepasliaran tukik dan bersih pantai merupakan agenda sosial tahunan.
Kegiatan ini menjadi manifestasi konsep Tri Hita Karana dalam merawat keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Pelepasan 300 ekor tukik ini juga menjadi bagian dari pemuliaan alam pada dimensi niskala. "Slogan Segara Kerthi bukan sekadar kiasan kata, melainkan bentuk pemuliaan laut yang kami ejawantahkan secara sekala dan niskala," tambahnya. [*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali