Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Tabanan selama ini tersohor sebagai sentra industri genteng dan keramik tanah liat. Namun, kelangkaan bahan baku tanah liat premium belakangan menjadi tantangan berat bagi para perajin lokal. Berangkat dari persoalan tersebut, seorang perajin keramik setempat, I Made Danu, 48, sukses melahirkan inovasi bernama Abu Teko (semacam peranti khusus untuk membuat terracotta) dengan memanfaatkan limbah di lingkungan sekitar.
JERIH PAYAH itu tak sia-sia. Atas inovasi dan dedikasinya di bidang industri kreatif berbasis kearifan lokal, I Made Danu diganjar penghargaan Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 .
Apresiasi itu diberikan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali pada Selasa (18/8/2026).
I Made Danu menjelaskan, pengalihan produksi ke seni kerajinan terracotta memerlukan variasi motif yang dinamis. Penggunaan mesin cetak modern selain berbiaya mahal juga dinilai menghilangkan nilai estetika dan roh budaya Bali.
”Karena itu saya tergerak mencari solusi dengan menciptakan Abu Teko. Alat ini ramah kantong, tetapi kaya akan nilai seni,” ujar Danu saat ditemui Selasa (18/8/2026).
Abu Teko merupakan seperangkat alat bantu produksi yang fleksibel, mencakup alat cetak, pemadat, pemotong, pengukir, hingga penghalus. Pengerjaannya terbilang sederhana dan murah sehingga mudah dijangkau perajin pemula.
Berkat inovasi ini, perajin Desa Pejaten kini mampu menghasilkan ragam motif terracotta khas Bali berdetail tinggi—seperti motif Semar Dewi, Saraswati, Karang Boma, hingga sosok Petani.
Tidak hanya memangkas biaya produksi dan meningkatkan produktivitas, hasil olahan keramik Pejaten berbasis inovasi Abu Teko kini bahkan berhasil menembus pasar ekspor global.
Danu berharap inovasi ini mampu terus menghidupkan denyut ekonomi dan pelestarian seni ukir terracotta secara mandiri di Desa Pejaten.[*]
Editor : Hari PuspitaSumber : Radar Bali