Kebocoran data kerap kali terjadi pada institusi pemerintahan. Tidak hanya ancaman data publik yang bocor dan diretas hacker, melainkan pula data pribadi aparatur sipil negara (ASN) juga menjadi sasaran diretas hacker.
GAGAP teknologi alias gaptek memang masih menjadi problem. Kondisi kebocoran data ini tak lain karena lemahnya sistem keamanan siber yang dimiliki. Selain itu masih minimnya literasi digital dari para ASN.
Mengingat pentingkan keamanan data dan literasi digital untuk itu Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tabanan memberikan pelatihan keamanan data digital, literasi digital hingga kecakapan teknologi informasi.
Pelatihan ini ditujukan khusus kepada sejumlah ASN yang di lingkungan Pemkab Tabanan. Sekertaris Diskominfo Tabanan I Gusti Putu Winiantara mengatakan pelatihan keamanan data digital dan literasi dunia digital akan dilakukan secara bertahap. Dengan target peserta dari ASN sebanyak 50 orang.
"Kami sudah mulai pada bulan Juni ini sampai Desember nanti," ujar pria yang akrab disapa Anom, Minggu kemarin (15/6/2025).
Pelatihan keamanan data dan literasi dunia digital ini adalah untuk menyikapi deras arus transformasi digital yang kian pesat.
Masyarakat dituntut memiliki kecakapan dalam memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi serta teknologi secara cerdas dan bijak.
Disrupsi media telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat, sehingga pemahaman terhadap etika digital, keamanan data, dan literasi media menjadi semakin penting.
"Dengan titik tekan kami pada peningkatan keamanan data siber, karena apa kebocoran data ini masih menjadi ancaman serius saat ini pada institusi pemerintah," ungkpanya.
Pelaksanaan pelatihan keamanan data siber ini dengan menggandeng akademisi, praktisi, serta relawan dari berbagai komunitas. Salah satunya adalah Komunitas Insan Kreatif Generasi Singasana (IKGS) yang telah menyatakan kesiapannya menjadi volunteer.
Disamping beberapa akademisi asal Tabanan yang memiliki latar belakang teknologi informasi juga siap turut dilibatkan.
Para ASN ini akan dilatih bagaimana memperbaharui perangkat lunak dan infrastruktur yang digunakan. Kemudian menerapkan protokol keamanan yang lebih ketat.
"Salah satunya dalam penggunaan teknologi seperti enkripsi dan multi factor authentication juga harus menjadi standar dalam setiap sistem yang menangani data sensitif," tandasnya. [*]
Editor : Hari Puspita