DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Di tengah ambisi besar Pemerintah Indonesia untuk merampingkan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari ribuan menjadi hanya sekitar 300 perusahaan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berdiri tegak sebagai anomali yang sukses.
Di saat banyak BUMN lain berguguran atau merugi, Telkom justru mencatatkan performa gemilang dengan pendapatan mencapai Rp157 triliun dan laba bersih Rp23 triliun di tahun 2025.
Komisaris Telkom Indonesia, Rizal Mallaranggeng, memaparkan rahasia di balik daya tahan Telkom di era disrupsi.
Ia memberikan perbandingan tajam antara Telkom dan entitas BUMN lainnya. Ia menyebutkan bahwa dari ribuan BUMN yang ada, kontribusi pendapatan terhadap PDB nasional mencapai 9 persen.
Namun secara value hanya sekitar 5 persen. Banyak yang merugi dan membebani ekonomi.
"Salah satu contohnya maskapai Merpati. Dulu sangat vital, tapi sekarang tinggal puing-puing karena gagal mengimbangi zaman. Sementara Telkom, dalam 3-4 dekade terakhir, mampu berkembang di luar sektor perbankan (Himbara) dan menjadi salah satu BUMN paling ekselen," ujar Rizal Media Gathering dan Pelatihan Jurnalistik Mendalam dari Tim Publisiana di Denpasar, 5-6 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa tantangan Telkom jauh lebih berat dibandingkan BUMN besar lainnya seperti PLN atau Pertamina. Jika PLN masih menggunakan infrastruktur kabel tembaga dan sistem energi yang relatif stabil, Telkom harus menghadapi revolusi teknologi yang berubah setiap lima tahun—mulai dari migrasi kabel tembaga ke serat optik (IndiHome) hingga munculnya raksasa global seperti WhatsApp, Google, dan Facebook.
Salah satu ancaman sekaligus peluang terbesar saat ini adalah teknologi satelit rendah (LEO) milik Elon Musk, Starlink. Rizal mengungkapkan bahwa Telkom memilih strategi adaptif ketimbang defensif.
"Kita tidak ingin menjadi museum. Maka, Telkom bekerja sama dengan Starlink untuk memonitor teknologinya. Dalam dua tahun terakhir, kita sudah meraih revenue Rp850 miliar tanpa modal besar karena memanfaatkan infrastruktur SpaceX," jelasnya.
Rizal juga menyoroti masa depan komunikasi di mana ponsel akan langsung terhubung ke satelit. Dengan 8.000 satelit yang sudah mengangkasa dan target 40.000 satelit oleh SpaceX, Telkom harus bersiap jika peran BTS mulai terdisrupsi.
Transformasi Menuju Raksasa Data dan Infrastruktur
Ke depan, Telkom melalui Danantara tengah memacu langkah strategis di tiga lini utama:
- Data Center & Cloud: Melalui fasilitas di Cikarang (75 MW) dan Singapura, Telkom mulai masuk ke bisnis "gudang digital" dan kecerdasan buatan (AI), meskipun harus berpartner dengan pemain global untuk mempercepat penguasaan teknologi.
- Mitratel: Menguasai 30 persen menara telekomunikasi di Indonesia dengan 40.000 tower, Telkom berambisi menjadi penguasa pasar Asia melalui skala besar dan akuisisi.
- Solusi Digital (Enterprise): Menciptakan solusi digital bagi korporasi dan pemerintah guna memastikan pertumbuhan di atas rata-rata nasional.
"Pertumbuhan ekonomi kita sekitar 5 persen, dan Telkom harus mampu mengimbanginya. Meski ada disrupsi, kita terus melakukan upaya organisasi melalui bisnis tower, data center, dan pemanfaatan satelit gaya baru," tambahnya.
Rizal menutup paparannya dengan pesan kuat bagi seluruh jajaran, termasuk di Bali, bahwa adaptivitas adalah harga mati. Telkom berkomitmen untuk terus bergerak cepat agar tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi tetap menjadi mesin utama penggerak ekonomi digital Indonesia.***
Editor : M.Ridwan