alexametrics
30.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Paruman Pengesahan Perarem di Desa Adat Pecatu Ricuh

MANGUPURA– Paruman (rapat) Desa Adat Pecatu dalam rangka pengesahan Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu di Wantilan Murda Ulangun Desa Pecatu, Selasa (1/6) ricuh.

Bahkan video kericuhan saat paruman juga santer beredar di media sosial dan viral.

Perbekel Pecatu Made Karyana Yadnya tak menampik dengan kejadian yang terjadi di wilayahnya.

Menurutnya, terkait insiden ricuh, Made Karyana mengaku sebagai bagian dari dinamika yang biasa terjadi di kehidupan bermasyarakat.

Dikatakan, paruman tersebut berkenaan dengan tahapan pembentukan Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu.

Mengingat masa waktu Kelian Desa Adat Pecatu telah berakhir.

“Masa waktu Kelian Desa Adat  sudah berakhir. Maka dibuatkanlah Perarem (aturan) yang dipakai dalam rangka Ngadegang Kelian Desa Adat. Perarem inilah yang akan dipakai pedoman ke depannya,” terang Karyana.

- Advertisement -

Ditambahkannya, dalam rangka penyusunan Perarem telah dibentuk sebuah tim.

Tim bersangkutan diisi oleh utusan dari masing-masing banjar. Bahkan ia juga ikut serta didalamnya, yakni sebagai seorang Pengarah.  

Baca Juga:  Ibu Tiri Korban Pembunuhan Diotopsi, Astawa Terancam Pasal Mematikan

“Tim ini sudah berjalan, beberapa kali sudah mengadakan kegiatan pertemuan. Bahkan sampai tahapan kesembilan, rancangan perarem itu sudah bisa diwujudkan oleh tim,”paparnya.

Selain itu, untuk penyempurnaan rancangan itupun diakui sudah dilakukan penyerapan aspirasi dari masyarakat sebelum ditetapkan.

“Jadi ruang dan waktu sebenarnya sudah diberikan, yang karena kondisi pandemi, jadi saat itu yang datang adalah utusan banjar lewat Tempekannya masing-masing 4 orang,” bebernya.

Pada saat itu, kata Karyana, terdapat sejumlah masukan yang dipastikan telah tercatat.

Kemudian, masukan itu juga diakui telah ditindaklanjuti dengan pembahasan dalam tim.

“Kita kaji dalam tim, dan memang ada beberapa hal yang perlu kita sempurnakan dan ada pula yang dianggap tidak relevan,” bebernya.

Setelah disempurnakan, rancangan Perarem bersangkutan dipastikan sudah dimintakan verifikasi ke Majelis Desa Adat (MDA).

Sehingga mendapat semacam disposisi kepada tim untuk melanjutkan dan menetapkan Perarem bersangkutan.

“Tadi pagi (Selasa, kemarin) kita undang lagi masyarakat lewat Paruman Krama. Disanalah disampaikan semuanya oleh Bapak Nyoman Sujendra selaku Ketua Tim Penyusunan Perarem,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kasus Perumahan di Badung Caplok Jalur Hijau Dilaporkan ke Polda Bali

Lebih lanjut, di luar dugaan  kericuhan terjadi pada saat ketua tim memastikan kembali apakah perarem bersangkutan sudah bisa disahkan atau tidak.

Namun ternyata, ada beberapa masyarakat yang ingin memberikan masukan kembali.

“Tapi saat itu situasi sudah segera cair, dan sudah menjadi keputusan bahwa Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu sudah sah,” tegasnya.

Senada dengan perbekel,  Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta juga  tidak menampik dengan kejadian tersebut.

Sayangnya, ia masih enggan berkomentar lebih jauh terkait pokok persoalan yang menyebabkan keributan.

Sebaliknya, atas terjadinya insiden ricuh itu, Sumerta menyarankan untuk mengkonfirmasi hal itu ke ketua perumus pararem I Nyoman Sujendra yang kebetulan juga merupakan Asisten 1 Setda Badung.

“Cikal bakal masalahnya hubungi asisten 1 (Nyoman Sujendra),” pintanya singkat.

Sementara  I Nyoman Sujendra belum bisa dimintai keterangan. Beberapa kali dihubungi tidak mengangkat telepon. Bahkan ketika kembali dihubungi, nomor ponsel yang bersangkutan diketahui tidak aktif. Begitu juga melalui pesan singkat juga tidak ada jawaban. 

- Advertisement -

MANGUPURA– Paruman (rapat) Desa Adat Pecatu dalam rangka pengesahan Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu di Wantilan Murda Ulangun Desa Pecatu, Selasa (1/6) ricuh.

Bahkan video kericuhan saat paruman juga santer beredar di media sosial dan viral.

Perbekel Pecatu Made Karyana Yadnya tak menampik dengan kejadian yang terjadi di wilayahnya.

Menurutnya, terkait insiden ricuh, Made Karyana mengaku sebagai bagian dari dinamika yang biasa terjadi di kehidupan bermasyarakat.

Dikatakan, paruman tersebut berkenaan dengan tahapan pembentukan Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu.

Mengingat masa waktu Kelian Desa Adat Pecatu telah berakhir.

“Masa waktu Kelian Desa Adat  sudah berakhir. Maka dibuatkanlah Perarem (aturan) yang dipakai dalam rangka Ngadegang Kelian Desa Adat. Perarem inilah yang akan dipakai pedoman ke depannya,” terang Karyana.

Ditambahkannya, dalam rangka penyusunan Perarem telah dibentuk sebuah tim.

Tim bersangkutan diisi oleh utusan dari masing-masing banjar. Bahkan ia juga ikut serta didalamnya, yakni sebagai seorang Pengarah.  

Baca Juga:  Wisdom Sempat Kelimpungan Keluar Bali Wajib PCR, Ternyata Begini...

“Tim ini sudah berjalan, beberapa kali sudah mengadakan kegiatan pertemuan. Bahkan sampai tahapan kesembilan, rancangan perarem itu sudah bisa diwujudkan oleh tim,”paparnya.

Selain itu, untuk penyempurnaan rancangan itupun diakui sudah dilakukan penyerapan aspirasi dari masyarakat sebelum ditetapkan.

“Jadi ruang dan waktu sebenarnya sudah diberikan, yang karena kondisi pandemi, jadi saat itu yang datang adalah utusan banjar lewat Tempekannya masing-masing 4 orang,” bebernya.

Pada saat itu, kata Karyana, terdapat sejumlah masukan yang dipastikan telah tercatat.

Kemudian, masukan itu juga diakui telah ditindaklanjuti dengan pembahasan dalam tim.

“Kita kaji dalam tim, dan memang ada beberapa hal yang perlu kita sempurnakan dan ada pula yang dianggap tidak relevan,” bebernya.

Setelah disempurnakan, rancangan Perarem bersangkutan dipastikan sudah dimintakan verifikasi ke Majelis Desa Adat (MDA).

Sehingga mendapat semacam disposisi kepada tim untuk melanjutkan dan menetapkan Perarem bersangkutan.

“Tadi pagi (Selasa, kemarin) kita undang lagi masyarakat lewat Paruman Krama. Disanalah disampaikan semuanya oleh Bapak Nyoman Sujendra selaku Ketua Tim Penyusunan Perarem,” ungkapnya.

Baca Juga:  8 Anggota Geng Cewek yang Telanjangi Siswi SMP di Klungkung Dibekuk

Lebih lanjut, di luar dugaan  kericuhan terjadi pada saat ketua tim memastikan kembali apakah perarem bersangkutan sudah bisa disahkan atau tidak.

Namun ternyata, ada beberapa masyarakat yang ingin memberikan masukan kembali.

“Tapi saat itu situasi sudah segera cair, dan sudah menjadi keputusan bahwa Perarem Ngadegang Kelian Desa Adat dan Prajuru Desa Adat Pecatu sudah sah,” tegasnya.

Senada dengan perbekel,  Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta juga  tidak menampik dengan kejadian tersebut.

Sayangnya, ia masih enggan berkomentar lebih jauh terkait pokok persoalan yang menyebabkan keributan.

Sebaliknya, atas terjadinya insiden ricuh itu, Sumerta menyarankan untuk mengkonfirmasi hal itu ke ketua perumus pararem I Nyoman Sujendra yang kebetulan juga merupakan Asisten 1 Setda Badung.

“Cikal bakal masalahnya hubungi asisten 1 (Nyoman Sujendra),” pintanya singkat.

Sementara  I Nyoman Sujendra belum bisa dimintai keterangan. Beberapa kali dihubungi tidak mengangkat telepon. Bahkan ketika kembali dihubungi, nomor ponsel yang bersangkutan diketahui tidak aktif. Begitu juga melalui pesan singkat juga tidak ada jawaban. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/