alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Di Bandara Asal Cuma Rapid Antigen, Sampai Bali Disuruh Swab PCR

MANGUPURA – Penerapan hari pertama layanan wajib swab PCR khusus untuk kedatangan di Bandara Internasional Bali diwarnai komplain penumpang. Rabu (30/6) salah satunya adalah seorang kerabat penumpang rute Labuan Bajo-Denpasar yang merasa layanan wajib PCR masuk Bali melalui bandara kurang dipersiapkan dengan matang.

 

Pasalnya, di bandara asal penumpang diperbolehkan rapid antigen, kemudian setelah sampai di Bandara Ngurah Rai penumpang tersebut kembali diwajibkan Swab PCR. Jadi, mereka dua kali dibebankan biaya untuk tes tersebut.

 

Salah satu kerabat penumpang tujuan Labuan Bajo-Denpasar sempat beradu argumen terhadap petugas di Bandara Ngurah Rai. Pasalnya, saudaranya yang datang ke Bali sudah melakukan rapid test di bandara asalnya Labuan Bajo. Sedangkan di Bandara Ngurah Rai kembali disuruh untuk wajib menunjukkan surat keterangan wajib Swab PCR. 

 

“Saudari saya ini datang ke Bali untuk kuliah. Di sana (bandara asal), saudari saya ini sudah Rapid Antigen dengan biaya yang kalau tidak salah senilai Rp 250 ribu. Kemudian sampai di sini dia harus PCR lagi dengan biaya Rp 900 ribu,” ungkap pria yang enggan disebut namanya, Rabu (30/6).

 

Memang sesuai SE Gubernur Bali terbaru bagi penumpang yang masuk Bali diwajibkan menunjukan hasil negatif Swab PCR.  Menurutnya, pemerintah maupun pihak terkait harusnya cukup menerapkan satu pengujian saja.

Baca Juga:  Bandara Klaim Desa Adat Tuban dan Kelan Setujui Reklamasi, Asal...

 

Misalnya kalau memang wajib swab PCR, maka cukup berlakukan swab PCR saja di bandara tujuan. Tidak perlu lagi berbekal hasil Rapid Test Antigen saat berangkat.

 

“Jadi yang sekarang ini kesannya buang-buang duit. Karena di sana (Labuan Bajo) tidak ada PCR tes, kemudian di sini ada PCR tes, kan mending di tes PCR di sini saja. Tidak usah lagi persyaratkan Antigen saat berangkat,”  keluhnya.

 

Namun, dalam proses selanjutnya pasca di tes swab PCR sembari menunggu hasil, para penumpang bersangkutan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanannya. Padahal hasilnya itu belum tentu negatif maupun positif. “Efektivitasnya ini jadi pertanyaan saya. Karena dalam perjalanan, pasti akan bertemu banyak orang,” jelas pria yang mengaku tinggal di wilayah Canggu tersebut.

 

Sementara  Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara I Gusti Ngurah Rai Taufan Yudhistira mengaku memaklumi adanya respon masyarakat semacam itu. Apalagi Rabu (30/6), notabene merupakan hari pertama penerapan layanan tersebut.

 

“Ketika ada komplain ataupun masukan, tentu kami akan tampung untuk perbaikan pelayanan kami ke depan,” ungkapnya.

 

Kata dia,  dibukanya layanan PCR khusus penumpang dari wilayah tertentu, adalah wujud respon dari aturan berlaku khususnya SE Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2021. Pada aturan tersebut menyatakan bahwa PPDB moda transportasi udara wajib melengkapi diri dengan hasil negatif uji swab PCR.

Baca Juga:  Saat Beraksi Baklanova Khrystyna Pakai Rambut Palsu

 

Sementara di sisi lain, masih ada beberapa wilayah di Indonesia yang tidak memiliki layanan swab PCR.

 

“Jadi penumpang dari daerah-daerah tertentu itu wajib menjalani tes swab PCR begitu landing di Bali,” terangnya.

 

Setelah dites, Taufan mengakui bahwa sementara ini para penumpang bersangkutan diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Begitu hasilnya keluar, maka akan dikabarkan ke yang bersangkutan, baik melalui email ataupun SMS.  

 

“Pendataan sudah dilakukan secara lengkap saat pengujian. Mulai dari nama, alamat, nomor ponsel, dan lain sebagainya. Jadi jika ternyata hasil tesnya adalah positif, maka itu akan ditindaklanjuti oleh Tim Satgas,” bebernya.

 

Ia menegaskan tidak akan ada penumpang yang merasa terjebak oleh tes swab PCR itu. Karena kebijakan tersebut sudah diberitahukan kepada para penumpang sebelum terbang ke Bali.

 

“Untuk penumpang dari daerah yang tidak ada PCR, itu wajib mengisi surat pernyataan bahwa mereka siap untuk melakukan PCR di Bali dengan menggunakan biaya pribadi. Kalau tidak mengisi, itu tidak masalah. Tapi mereka wajib melakukan pembatalan penerbangan. Entahkah itu bentuknya nanti reschedule atau bagaimana, itu kembali ke masing-masing,” pungkasnya.

 


MANGUPURA – Penerapan hari pertama layanan wajib swab PCR khusus untuk kedatangan di Bandara Internasional Bali diwarnai komplain penumpang. Rabu (30/6) salah satunya adalah seorang kerabat penumpang rute Labuan Bajo-Denpasar yang merasa layanan wajib PCR masuk Bali melalui bandara kurang dipersiapkan dengan matang.

 

Pasalnya, di bandara asal penumpang diperbolehkan rapid antigen, kemudian setelah sampai di Bandara Ngurah Rai penumpang tersebut kembali diwajibkan Swab PCR. Jadi, mereka dua kali dibebankan biaya untuk tes tersebut.

 

Salah satu kerabat penumpang tujuan Labuan Bajo-Denpasar sempat beradu argumen terhadap petugas di Bandara Ngurah Rai. Pasalnya, saudaranya yang datang ke Bali sudah melakukan rapid test di bandara asalnya Labuan Bajo. Sedangkan di Bandara Ngurah Rai kembali disuruh untuk wajib menunjukkan surat keterangan wajib Swab PCR. 

 

“Saudari saya ini datang ke Bali untuk kuliah. Di sana (bandara asal), saudari saya ini sudah Rapid Antigen dengan biaya yang kalau tidak salah senilai Rp 250 ribu. Kemudian sampai di sini dia harus PCR lagi dengan biaya Rp 900 ribu,” ungkap pria yang enggan disebut namanya, Rabu (30/6).

 

Memang sesuai SE Gubernur Bali terbaru bagi penumpang yang masuk Bali diwajibkan menunjukan hasil negatif Swab PCR.  Menurutnya, pemerintah maupun pihak terkait harusnya cukup menerapkan satu pengujian saja.

Baca Juga:  Percepat Vaksinasi Pada Anak, Polisi Dikerahkan Jemput Siswa

 

Misalnya kalau memang wajib swab PCR, maka cukup berlakukan swab PCR saja di bandara tujuan. Tidak perlu lagi berbekal hasil Rapid Test Antigen saat berangkat.

 

“Jadi yang sekarang ini kesannya buang-buang duit. Karena di sana (Labuan Bajo) tidak ada PCR tes, kemudian di sini ada PCR tes, kan mending di tes PCR di sini saja. Tidak usah lagi persyaratkan Antigen saat berangkat,”  keluhnya.

 

Namun, dalam proses selanjutnya pasca di tes swab PCR sembari menunggu hasil, para penumpang bersangkutan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanannya. Padahal hasilnya itu belum tentu negatif maupun positif. “Efektivitasnya ini jadi pertanyaan saya. Karena dalam perjalanan, pasti akan bertemu banyak orang,” jelas pria yang mengaku tinggal di wilayah Canggu tersebut.

 

Sementara  Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara I Gusti Ngurah Rai Taufan Yudhistira mengaku memaklumi adanya respon masyarakat semacam itu. Apalagi Rabu (30/6), notabene merupakan hari pertama penerapan layanan tersebut.

 

“Ketika ada komplain ataupun masukan, tentu kami akan tampung untuk perbaikan pelayanan kami ke depan,” ungkapnya.

 

Kata dia,  dibukanya layanan PCR khusus penumpang dari wilayah tertentu, adalah wujud respon dari aturan berlaku khususnya SE Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2021. Pada aturan tersebut menyatakan bahwa PPDB moda transportasi udara wajib melengkapi diri dengan hasil negatif uji swab PCR.

Baca Juga:  Dituntut 7 Tahun, Kakek Umur Seabad Kumat Pikunnya, Begini Dia Bilang…

 

Sementara di sisi lain, masih ada beberapa wilayah di Indonesia yang tidak memiliki layanan swab PCR.

 

“Jadi penumpang dari daerah-daerah tertentu itu wajib menjalani tes swab PCR begitu landing di Bali,” terangnya.

 

Setelah dites, Taufan mengakui bahwa sementara ini para penumpang bersangkutan diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Begitu hasilnya keluar, maka akan dikabarkan ke yang bersangkutan, baik melalui email ataupun SMS.  

 

“Pendataan sudah dilakukan secara lengkap saat pengujian. Mulai dari nama, alamat, nomor ponsel, dan lain sebagainya. Jadi jika ternyata hasil tesnya adalah positif, maka itu akan ditindaklanjuti oleh Tim Satgas,” bebernya.

 

Ia menegaskan tidak akan ada penumpang yang merasa terjebak oleh tes swab PCR itu. Karena kebijakan tersebut sudah diberitahukan kepada para penumpang sebelum terbang ke Bali.

 

“Untuk penumpang dari daerah yang tidak ada PCR, itu wajib mengisi surat pernyataan bahwa mereka siap untuk melakukan PCR di Bali dengan menggunakan biaya pribadi. Kalau tidak mengisi, itu tidak masalah. Tapi mereka wajib melakukan pembatalan penerbangan. Entahkah itu bentuknya nanti reschedule atau bagaimana, itu kembali ke masing-masing,” pungkasnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/