alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Senin Jadi VC Terlama, Sebelum Ari, Suami, dan 3 Anaknya Jadi Korban

SUASANA duka menyelimuti kediaman Diah Ari Meiyani, 39, salah satu penumpang yang ikut menjadi korban dalam musibah karamnya KMP Yunicee di Perairan Selat Bali, Selasa (29/6) malam.

 

Menyedihkan lagi, perempuan asal Lingkungan Dangin Sema, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Karangasem, ini tak menjadi korban sendirian.

 

Suaminya Gatot Pujianto dan tiga anaknya juga ikut dalam musibah ini.

 

ZULFIKA RAHMAN, Amlapura

- Advertisement -

 

USAI salat subuh, sejumlah pelayat tampak terus berdatangan menyampaikan bela sungkawa.

 

Tepat pukul 05.30, Rabu (30/6) pagi, jenazah Diah Ari Meiyani tiba menggunakan ambulance. Sontak, kedatangan jenazah ibu tiga anak ini langsung membuat tangis keluarga pecah saat jenazah baru saja tiba di rumah duka.

 

Ari sendiri bekerja sebagai petugas klaim asuransi BPJS yang bertugas di RSUD Karangasem.

 

Sementara sang suami Gatot Pujianto yang merupakan warga asal Banyuwangi, Jawa Timur dan bekerja sebagai pembuat letter dan plat nomor di Jalan Untung Suropati, Karangasem.

 

Dari hasil pernikahan keduanya, mereka dikaruniai tiga orang onak.

 

Anak pertama mereka Bunga Cinta Ramadani, 14, yang kini duduk di bangku kelas VIII MTs Negeri Amlapura. Sedangkan anak keduanya Cesya Putri berusia  5 tahun, dan anak terakhir yakni Rafasa Putra Pujianto berusia 4 tahun.

 

Dengan mata yang masih sembab, kakak mendiang, yakni Mira Arifiyanti, 46, berusaha menerima ikhlas.

Baca Juga:  Ida Bhatara Mesineb, Gunung Agung Kembali Keluarkan Hembusan Susulan

Meski sesekali ia menangis ketika menceritakan adik paling bungsunya itu. Ari sendiri sejak seminggu lalu meninggalkan rumah untuk pulang ke rumah suami menggunakan mobil.

 

“Dia cuti seminggu. Berangkat pas hari Rabu minggu lalu. Karena anaknya juga libur sekolah, akhirnya pulang mudik ke rumah suami,” ujar Mira mengawali cerita.

 

Kepulangan Ari ke rumah suaminya itu karena saat menjelang lebaran tidak bisa mudik akibat larangan mudik lebaran yang diterapkan pemerintah.

 

“Berangkat dari Banyuwangi Selasa sore, sempat telepon bilang sudah berangkat ke Bali. Karena harusnya hari ini (Rabu) adik saya masuk kerja,” kata Mira.

 

Selama berada di Banyuwangi, Mira dan Ari selalu berkabar lewat video call (VC).

 

Karena keduanya tinggal berjauhan. Mira tinggal di Lombok, sementara mendiang Ari tinggal di Karangasem.

 

Selama berkomunikasi, hampir tidak ada firasat apapun yang dirasakan pihak keluarga.

 

“Yang membuat saya aneh, waktu vidio call hari Senin itu dia bilang sudah di Karangasem. Padahal baru berangkat Selasa. Saya mengira itu hanya guyon. Ternyata ini jawabannya,” kenang Mira.

 

Bahkan saat berkomunikasi pada Senin itu, Mira mengatakan bahwa hari itu menjadi waktu yang cukup lama berkomunikasi dengan mendiang.

 

Karena sebelum-sebelumnya hanya sebentar lantaran handphone yang digunakan berkomunikasi selalu direbut oleh anaknya.

Baca Juga:  Tambah Kasus Meninggal, Staf DLH Buleleng Terkonfirmasi Positif Covid

 

“Senin itu tumben lama sekali saya ngobrol sama adik saya ini,” ucapnya.

 

Ari sendiri dikenal pendiam, baik di lingkungan keluarga maupun pekerjaan.

 

Selain diam, Ari juga dikenal sangat supel dan baik.

 

Selama menikah dengan Gatot Pujianto, ia memilih tinggal terpisah yakni di BTN Graha Indah Gargita di Kelurahan Subagan.

 

“Tapi kalau pagi saat dia kerja, anaknya di rumah. Mainan di sini,” tuturnya.

 

Menjelang keeprgian adiknya itu, Mira sempat merasa kehilangan, namun tidak tahu kehilangan dalam bentuk apa.

 

“Saya itu merasa aja kehilangan. Tapi saya tidak tahu kehilangan apa. Ternyata musibah ini. Kami mencoba menerima ikhlas,” akunya.

 

Hingga saat ini, suami Ari yakni Gatot dan dua anaknya yakni Cesya Putri dan Rafasa Putra Pujianto belum juga ditemukan.

 

Sementara anak pertamanya Bunga Citra Ramadani ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 siang.

 

Ibu dan anak itu langsung dimakamkan jadi satu dalam satu liang lahat di Kuburan Muslim Lingkungan Dangin Sema, Kelurahan Karangasem usai menunaikan sholat Ashar.

 

“Kami berharap suami dan dua anaknya bisa segera ditemukan. dalam keadaan selamat. Karena itu harapan kami sekeluarga,” tukasnya.

- Advertisement -

SUASANA duka menyelimuti kediaman Diah Ari Meiyani, 39, salah satu penumpang yang ikut menjadi korban dalam musibah karamnya KMP Yunicee di Perairan Selat Bali, Selasa (29/6) malam.

 

Menyedihkan lagi, perempuan asal Lingkungan Dangin Sema, Kelurahan Karangasem, Kecamatan Karangasem, ini tak menjadi korban sendirian.

 

Suaminya Gatot Pujianto dan tiga anaknya juga ikut dalam musibah ini.

 

ZULFIKA RAHMAN, Amlapura

 

USAI salat subuh, sejumlah pelayat tampak terus berdatangan menyampaikan bela sungkawa.

 

Tepat pukul 05.30, Rabu (30/6) pagi, jenazah Diah Ari Meiyani tiba menggunakan ambulance. Sontak, kedatangan jenazah ibu tiga anak ini langsung membuat tangis keluarga pecah saat jenazah baru saja tiba di rumah duka.

 

Ari sendiri bekerja sebagai petugas klaim asuransi BPJS yang bertugas di RSUD Karangasem.

 

Sementara sang suami Gatot Pujianto yang merupakan warga asal Banyuwangi, Jawa Timur dan bekerja sebagai pembuat letter dan plat nomor di Jalan Untung Suropati, Karangasem.

 

Dari hasil pernikahan keduanya, mereka dikaruniai tiga orang onak.

 

Anak pertama mereka Bunga Cinta Ramadani, 14, yang kini duduk di bangku kelas VIII MTs Negeri Amlapura. Sedangkan anak keduanya Cesya Putri berusia  5 tahun, dan anak terakhir yakni Rafasa Putra Pujianto berusia 4 tahun.

 

Dengan mata yang masih sembab, kakak mendiang, yakni Mira Arifiyanti, 46, berusaha menerima ikhlas.

Baca Juga:  PTMT, Maksimal 3 Jam Pelajaran

Meski sesekali ia menangis ketika menceritakan adik paling bungsunya itu. Ari sendiri sejak seminggu lalu meninggalkan rumah untuk pulang ke rumah suami menggunakan mobil.

 

“Dia cuti seminggu. Berangkat pas hari Rabu minggu lalu. Karena anaknya juga libur sekolah, akhirnya pulang mudik ke rumah suami,” ujar Mira mengawali cerita.

 

Kepulangan Ari ke rumah suaminya itu karena saat menjelang lebaran tidak bisa mudik akibat larangan mudik lebaran yang diterapkan pemerintah.

 

“Berangkat dari Banyuwangi Selasa sore, sempat telepon bilang sudah berangkat ke Bali. Karena harusnya hari ini (Rabu) adik saya masuk kerja,” kata Mira.

 

Selama berada di Banyuwangi, Mira dan Ari selalu berkabar lewat video call (VC).

 

Karena keduanya tinggal berjauhan. Mira tinggal di Lombok, sementara mendiang Ari tinggal di Karangasem.

 

Selama berkomunikasi, hampir tidak ada firasat apapun yang dirasakan pihak keluarga.

 

“Yang membuat saya aneh, waktu vidio call hari Senin itu dia bilang sudah di Karangasem. Padahal baru berangkat Selasa. Saya mengira itu hanya guyon. Ternyata ini jawabannya,” kenang Mira.

 

Bahkan saat berkomunikasi pada Senin itu, Mira mengatakan bahwa hari itu menjadi waktu yang cukup lama berkomunikasi dengan mendiang.

 

Karena sebelum-sebelumnya hanya sebentar lantaran handphone yang digunakan berkomunikasi selalu direbut oleh anaknya.

Baca Juga:  Seperti Firasat, Biasa ke Jawa Sendirian, Tumben Putrinya Memaksa Ikut

 

“Senin itu tumben lama sekali saya ngobrol sama adik saya ini,” ucapnya.

 

Ari sendiri dikenal pendiam, baik di lingkungan keluarga maupun pekerjaan.

 

Selain diam, Ari juga dikenal sangat supel dan baik.

 

Selama menikah dengan Gatot Pujianto, ia memilih tinggal terpisah yakni di BTN Graha Indah Gargita di Kelurahan Subagan.

 

“Tapi kalau pagi saat dia kerja, anaknya di rumah. Mainan di sini,” tuturnya.

 

Menjelang keeprgian adiknya itu, Mira sempat merasa kehilangan, namun tidak tahu kehilangan dalam bentuk apa.

 

“Saya itu merasa aja kehilangan. Tapi saya tidak tahu kehilangan apa. Ternyata musibah ini. Kami mencoba menerima ikhlas,” akunya.

 

Hingga saat ini, suami Ari yakni Gatot dan dua anaknya yakni Cesya Putri dan Rafasa Putra Pujianto belum juga ditemukan.

 

Sementara anak pertamanya Bunga Citra Ramadani ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 siang.

 

Ibu dan anak itu langsung dimakamkan jadi satu dalam satu liang lahat di Kuburan Muslim Lingkungan Dangin Sema, Kelurahan Karangasem usai menunaikan sholat Ashar.

 

“Kami berharap suami dan dua anaknya bisa segera ditemukan. dalam keadaan selamat. Karena itu harapan kami sekeluarga,” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/