alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Berpotensi Jadi Pandemi Baru, Warga Bali Diminta Waspadai Virus Nipah

MANGUPURA– Setelah sebelumnya heboh penyebaran virus African Swine Fever (ASF) yang membunuh ribuan ternak babi milik peternak di Bali.

Kini masyarakat kembali dibuat resah dengan kabar penyebaran virus Nipah (NiV).

Bahkan, meski penyebaran virus ini belum ditemukan di Indonesia, namun sebagai antisipasi, Pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Pangan juga tetap waspada dan kerap melakukan sosialisasi kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak babi.

Seperti disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijana, Selasa (2/2).

Untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus Nipah, pihaknya meminta para peternak khususnya di Kabupaten Badung memaksimalkan sistem biosecurity.

Alasannya, kata Wijana, karena biosecurity merupakan prosedur atau usaha yang dilakukan untuk dapat mencegah kontak antara ternak dalam peternakan dengan agen atau sumber penyakit, sehingga dapat menekan resiko dan konsekuensi penularan penyakit.

Baca Juga:  Bule Bayar Parkir di Bandara Bali Rp9,6 Juta, Begini Cara Hitungnya

“Sampai saat ini kami belum menerima peringatan kewaspadaan dini terhadap serangan wabah virus Nipah. Namun demikian karena Bali merupakan pintu ģerbang internasional yang berpotensi masuknya berbagai virus, maka kewaspadaan perlu terus dilakukan,” beber Wayan Wijana.

Wijana menerangkan berdasar informasi yang diperoleh, Virus Nipah bisa menular ke manusia (Zoonosis) maka upaya pencegahan dan edukasi perlu dilakukan.

Untuk itu, penerapan biosecurity yang merupakan perlindungan dari penyebaran penyakit infeksius, parasit dan hama ke unit produksi ternak perlu ditingkatkan.  

“Saat ini kami juga masih terus memonitor perkembangan virus ASF, maka kami terus menghimbau kepada masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melaksanakan biosecurity secara ketat,” terangnya.

Baca Juga:  SMA Jadi Kewenangan Provinsi, Pemkab Badung Tetap Bangun SMA Baru

Sementara hasil pendataan jumlah kelompok ternak babi di Kabupaten Badung tercatat 11 kelompok.

Sedangkan, masyarakat yang beternak babi kurang lebih mencapai 132 orang. Dari angka tersebut satu peternak babi minimal memelihara 5 (lima) ekor belum termasuk peternak rumahan yang memelihara antara satu hingga dua ekor.

“Jumlahnya cukup banyak, karena di pedesaan rata-rata rumah tangga memelihara babi sebagai tatakan banyu,” pungkasnya.



MANGUPURA– Setelah sebelumnya heboh penyebaran virus African Swine Fever (ASF) yang membunuh ribuan ternak babi milik peternak di Bali.

Kini masyarakat kembali dibuat resah dengan kabar penyebaran virus Nipah (NiV).

Bahkan, meski penyebaran virus ini belum ditemukan di Indonesia, namun sebagai antisipasi, Pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Pangan juga tetap waspada dan kerap melakukan sosialisasi kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak babi.

Seperti disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijana, Selasa (2/2).

Untuk mengantisipasi adanya penyebaran virus Nipah, pihaknya meminta para peternak khususnya di Kabupaten Badung memaksimalkan sistem biosecurity.

Alasannya, kata Wijana, karena biosecurity merupakan prosedur atau usaha yang dilakukan untuk dapat mencegah kontak antara ternak dalam peternakan dengan agen atau sumber penyakit, sehingga dapat menekan resiko dan konsekuensi penularan penyakit.

Baca Juga:  Bule Bayar Parkir di Bandara Bali Rp9,6 Juta, Begini Cara Hitungnya

“Sampai saat ini kami belum menerima peringatan kewaspadaan dini terhadap serangan wabah virus Nipah. Namun demikian karena Bali merupakan pintu ģerbang internasional yang berpotensi masuknya berbagai virus, maka kewaspadaan perlu terus dilakukan,” beber Wayan Wijana.

Wijana menerangkan berdasar informasi yang diperoleh, Virus Nipah bisa menular ke manusia (Zoonosis) maka upaya pencegahan dan edukasi perlu dilakukan.

Untuk itu, penerapan biosecurity yang merupakan perlindungan dari penyebaran penyakit infeksius, parasit dan hama ke unit produksi ternak perlu ditingkatkan.  

“Saat ini kami juga masih terus memonitor perkembangan virus ASF, maka kami terus menghimbau kepada masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melaksanakan biosecurity secara ketat,” terangnya.

Baca Juga:  Polisi Klungkung Bagi-bagi Masker & Nasi Jinggo, Ini Pesan Kompol Amy

Sementara hasil pendataan jumlah kelompok ternak babi di Kabupaten Badung tercatat 11 kelompok.

Sedangkan, masyarakat yang beternak babi kurang lebih mencapai 132 orang. Dari angka tersebut satu peternak babi minimal memelihara 5 (lima) ekor belum termasuk peternak rumahan yang memelihara antara satu hingga dua ekor.

“Jumlahnya cukup banyak, karena di pedesaan rata-rata rumah tangga memelihara babi sebagai tatakan banyu,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/