alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Diterjang Angin Ngelinus, Bale Gong Pura Desa Lemukih Buleleng Ambruk

SINGARAJA – Bangunan Bale Gong di Pura Desa Adat Lemukih ambruk. Bangunan itu ambruk gara-gara diterjang angin puting beliung alias angina ngelinus  pada Jumat (29/1) lalu.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, bangunan berukuran 16×6 meter itu benar-benar rata dengan tanah.

Bale gong baru saja selesai direnovasi pada bulan September lalu. Bangunan itu bahkan belum sempat digunakan. Namun keburu rusak karena bencana alam.

Kelian Desa Adat Lemukih, Jro Nyarikan Gede Widarta mengungkapkan, musibah itu terjadi sekitar pukul 15.00 Jumat (29/1) siang lalu.

Saat itu wilayah Lemukih tengah diguyur hujan lebat diikuti dengan hembusan angin kencang. Sekitar pukul 15.00 siang ia didatangi warga yang tinggal dekat Pura Desa.

Baca Juga:  Rumah Korban Dibongkar, BPBD Minta Keluarga Waspada Longsor Susulan

“Saya dikasih tahu kalau bale gong sudah ambruk. Langsung saya ke pura. Memang waktu kejadian itu, hujan lebat dan angin lencang,” kata Widarta.

Lebih lanjut Widarta mengatakan, bale gong itu sebenarnya baru saja direnovasi pada tahun 2020 lalu. Saat itu desa adat mendapat bantuan dana sebanyak Rp 120 juta dari pemerintah desa.

Selain itu krama juga melakukan swadaya senilai Rp 100 juta. Sehingga bale gong tuntas diperbaiki.

“Tapi namanya bencana memang tidak bisa diprediksi. Ini belum sempat kami pakai, sudah ambruk begini. Saat kejadian memang tidak ada orang dan tidak ada gong.

Gongnya kami simpan di wantilan, untuk latihan muda-mudi. Kalau ada karya atau piodalan, baru dipindahkan ke bale gong ini,” jelasnya.

Terkait bencana itu, Widarta mengaku sudah melaporkan hal tersebut pada BPBD Buleleng. Rencananya pada Jumat (5/2) mendatang, pihaknya akan menggelar paruman prajuru untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Baca Juga:  Kasus Melonjak Dua Kali Lipat, Sekeluarga di Wanagiri Positif Covid-19

Setelah ada keputusan dari prajuru adat, baru dirinya akan menggelar paruman krama secara lebih luas.

“Ya mungkin dalam waktu dekat akan ada gotong royong. Mana bagian yang masih bisa dipakai, akan dikumpulkan.

Nanti saat paruman krama akan dibicarakan, apakah ini akan diperbaiki atau bagaimana. Kalau diperbaiki, sumber dananya dari mana. Biar transparan nanti,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Sawan I Gusti Putu Ngurah Mastika yang dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya kejadian tersebut. Mastika mengatakan tim dari kecamatan sudah mendatangi lokasi kejadian pada Senin (1/2) pagi.

“Memang kerusakannya cukup parah. Tadi kami sudah minta tim dari Trantib Kecamatan cek lokasi. Nanti akan kami teruskan informasi ini ke BPBD Buleleng, untuk penanganan selanjutnya,” kata Mastika. 



SINGARAJA – Bangunan Bale Gong di Pura Desa Adat Lemukih ambruk. Bangunan itu ambruk gara-gara diterjang angin puting beliung alias angina ngelinus  pada Jumat (29/1) lalu.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, bangunan berukuran 16×6 meter itu benar-benar rata dengan tanah.

Bale gong baru saja selesai direnovasi pada bulan September lalu. Bangunan itu bahkan belum sempat digunakan. Namun keburu rusak karena bencana alam.

Kelian Desa Adat Lemukih, Jro Nyarikan Gede Widarta mengungkapkan, musibah itu terjadi sekitar pukul 15.00 Jumat (29/1) siang lalu.

Saat itu wilayah Lemukih tengah diguyur hujan lebat diikuti dengan hembusan angin kencang. Sekitar pukul 15.00 siang ia didatangi warga yang tinggal dekat Pura Desa.

Baca Juga:  Kelian Adat Pengastulan TSK,AKP Vicky: Bukan Pungli, Murni Penggelapan

“Saya dikasih tahu kalau bale gong sudah ambruk. Langsung saya ke pura. Memang waktu kejadian itu, hujan lebat dan angin lencang,” kata Widarta.

Lebih lanjut Widarta mengatakan, bale gong itu sebenarnya baru saja direnovasi pada tahun 2020 lalu. Saat itu desa adat mendapat bantuan dana sebanyak Rp 120 juta dari pemerintah desa.

Selain itu krama juga melakukan swadaya senilai Rp 100 juta. Sehingga bale gong tuntas diperbaiki.

“Tapi namanya bencana memang tidak bisa diprediksi. Ini belum sempat kami pakai, sudah ambruk begini. Saat kejadian memang tidak ada orang dan tidak ada gong.

Gongnya kami simpan di wantilan, untuk latihan muda-mudi. Kalau ada karya atau piodalan, baru dipindahkan ke bale gong ini,” jelasnya.

Terkait bencana itu, Widarta mengaku sudah melaporkan hal tersebut pada BPBD Buleleng. Rencananya pada Jumat (5/2) mendatang, pihaknya akan menggelar paruman prajuru untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Baca Juga:  Kasus Melonjak Dua Kali Lipat, Sekeluarga di Wanagiri Positif Covid-19

Setelah ada keputusan dari prajuru adat, baru dirinya akan menggelar paruman krama secara lebih luas.

“Ya mungkin dalam waktu dekat akan ada gotong royong. Mana bagian yang masih bisa dipakai, akan dikumpulkan.

Nanti saat paruman krama akan dibicarakan, apakah ini akan diperbaiki atau bagaimana. Kalau diperbaiki, sumber dananya dari mana. Biar transparan nanti,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Sawan I Gusti Putu Ngurah Mastika yang dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya kejadian tersebut. Mastika mengatakan tim dari kecamatan sudah mendatangi lokasi kejadian pada Senin (1/2) pagi.

“Memang kerusakannya cukup parah. Tadi kami sudah minta tim dari Trantib Kecamatan cek lokasi. Nanti akan kami teruskan informasi ini ke BPBD Buleleng, untuk penanganan selanjutnya,” kata Mastika. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/