alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

37 SD di Buleleng Di-regrouping Jadi 17 Sekolah

SINGARAJA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng memutuskan melakukan regrouping terhadap beberapa sekolah dasar (SD) di Buleleng. Keputusan itu diambil untuk mengurangi manajemen sekolah. Terlebih sekolah yang di-regrouping itu masih ada dalam satu halaman.

 

Total ada 37 sekolah dasar yang menjalani regrouping. Puluhan sekolah itu kemudian digabung menjadi 17 sekolah saja. Kebijakan itu akan mulai berlaku mulai tahun ajaran 2021-2022 ini.

 

Kepala Disdikpora Buleleng Made Astika mengatakan, kebijakan itu diambil untuk melakukan efisiensi manajemen sekolah. Terutama di tataran kepala sekolah. Astika mengaku selama ini Disdikpora selalu kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk kepala sekolah.

 

“Sekarang dengan ada regrouping, kami harap tidak ada kekurangan SDM kepala sekolah lagi. Selama ini kan ada belasan sekolah yang diisi pelaksana tugas,” kata Astika.

Baca Juga:  Lupa Matikan Dupa, Gudang Perlengkapan Upacara Terbakar

 

Selain itu dengan menggabungkan sekolah, diyakini bisa membuat tata kelola manajerial menjadi lebih baik. Mengingat sekolah-sekolah yang digabung selama ini masih berada dalam satu halaman.

 

Ia mencontohkan keberadaan SDN 1, 2, dan 5 Banyuasri. Ketiga sekolah itu ada dalam satu halaman. Namun dikelola oleh tiga kepala sekolah yang berbeda. Demikian pula dengan SDN 1 dan 6 Banjar Jawa.

 

“Kalau ini dijadikan satu kan lebih efisien. Baik dari segi manajerial maupun dari segi penganggaran. Ini bagian dari efisiensi juga,” imbuhnya.

 

Di sisi lain, Disdikpora Buleleng juga menjamin akan mempertahankan sekolah-sekolah yang siswanya minim. Sebut saja SDN 2 Bongancina. Saat ini sekolah itu memiliki siswa kurang dari 60 orang. Bahkan pada tahun ajaran ini, siswa yang melamar tak lebih dari 15 orang.

Baca Juga:  Cuma Seharga Lalapan, 40 Hotel dan Restoran di Klungkung Tolak Hibah

 

“Meskipun jumlahnya sedikit, tetap kami pertahankan. Karena ini menyangkut hak dasar anak-anak di sana mendapatkan pendidikan. Karena kalau kami tutup, mereka malah bisa tidak sekolah. Karena sekolah lainnya terlalu jauh,” demikian Astika.


SINGARAJA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng memutuskan melakukan regrouping terhadap beberapa sekolah dasar (SD) di Buleleng. Keputusan itu diambil untuk mengurangi manajemen sekolah. Terlebih sekolah yang di-regrouping itu masih ada dalam satu halaman.

 

Total ada 37 sekolah dasar yang menjalani regrouping. Puluhan sekolah itu kemudian digabung menjadi 17 sekolah saja. Kebijakan itu akan mulai berlaku mulai tahun ajaran 2021-2022 ini.

 

Kepala Disdikpora Buleleng Made Astika mengatakan, kebijakan itu diambil untuk melakukan efisiensi manajemen sekolah. Terutama di tataran kepala sekolah. Astika mengaku selama ini Disdikpora selalu kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk kepala sekolah.

 

“Sekarang dengan ada regrouping, kami harap tidak ada kekurangan SDM kepala sekolah lagi. Selama ini kan ada belasan sekolah yang diisi pelaksana tugas,” kata Astika.

Baca Juga:  Komisi III DPRD Bali Dorong Kolam Renang Dilengkapi Tribun Penonton

 

Selain itu dengan menggabungkan sekolah, diyakini bisa membuat tata kelola manajerial menjadi lebih baik. Mengingat sekolah-sekolah yang digabung selama ini masih berada dalam satu halaman.

 

Ia mencontohkan keberadaan SDN 1, 2, dan 5 Banyuasri. Ketiga sekolah itu ada dalam satu halaman. Namun dikelola oleh tiga kepala sekolah yang berbeda. Demikian pula dengan SDN 1 dan 6 Banjar Jawa.

 

“Kalau ini dijadikan satu kan lebih efisien. Baik dari segi manajerial maupun dari segi penganggaran. Ini bagian dari efisiensi juga,” imbuhnya.

 

Di sisi lain, Disdikpora Buleleng juga menjamin akan mempertahankan sekolah-sekolah yang siswanya minim. Sebut saja SDN 2 Bongancina. Saat ini sekolah itu memiliki siswa kurang dari 60 orang. Bahkan pada tahun ajaran ini, siswa yang melamar tak lebih dari 15 orang.

Baca Juga:  Ngenes, SMP TP 45 Wanagiri Pailit, Disdikpora Terpaksa Ambil Alih

 

“Meskipun jumlahnya sedikit, tetap kami pertahankan. Karena ini menyangkut hak dasar anak-anak di sana mendapatkan pendidikan. Karena kalau kami tutup, mereka malah bisa tidak sekolah. Karena sekolah lainnya terlalu jauh,” demikian Astika.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/