alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 20, 2022

Kebakaran Meluas, 10 Haktare Hutan Dilereng Gunung Agung Terbakar

 

AMLAPURA —Angin kancang dan juga musim kering membuat kebakaran di lereng Gunung Agung makin meluas.

Awalnya kebakaran terjadi sekitar 1 haktare pada hari pertama. Sekarang sudah empat hari belum juga berhasil dilakukan penanganan.

Bahkan, kali ini diperkirakan sekitar 10 haktare lahan hutan di lereng timur Gunung Agung sudah hangus dilalap sijago merah.

Tim pemadam yang terdiri dari banyak unsur, mulai pihak kehutanan, Damkar Karangasem, dan BPBD Karangasem belum bisa berbuat banyak.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Ketut Arimbawa, areal hutan yang terbakar berada di hutan lindung di Dusun Belong dan Dusun Pucang, Desa Ban, Kubu.

Kebakaran terjadi tepatnya di kompleks hutan Gunung Agung. Kawasan ini ada pada zona merah kawasan rawan bencana III di Pal batas hutan B 500-510.

 Kebakaran paling banyak terjadi Sabtu pagi lalu. Ini terpantau dari Dusun Bonyoh, Desa Ban, dan di hutan Dusun Belong.

Kebakaran mengarah ke timur dengan tiga titik api. Sementara di Dusun Pucang api mengarah ke atas dan barat daya.

Baca Juga:  Diterjang Banjir, Akses Menuju Obyek Wisata Rumah Pohon Putus Lagi

Semua titik api sangat sulit dijangkau petugas. Selain medan yang terjal juga angin cukup kencang. Sehingga khawatir kalau petugas naik akan terjebak dalam kobaran api.

Titik api sendiri masih jauh dari rumah penduduk. Saat ini, petugas hanya bisa melakukan pengamatan.

Sempat juga dibuat sekat di Dusun Pucang dekat Pura Madya bersama Kodim Karangasem dan Polres Karangasem.

“Upaya untuk menekan agar tidak merambat kebawah kami sudah lakukan dengan pembuatan sekat atau parit,” ujar Arimbawa.

Sekat-sekat lainya juga dibuat warga masyarakat seperti di Dusun Belong.  Sabtu malam lalu api malah semakin membesar.

Hal ini sempat membuat tim gabungan bergerak cepat. Mereka kembali meluncur ke Desa Pucang.

Hanya saja saat tim naik, mereka sudah menemukan sekitar 50 warga Pucang baru kembali dari hutan sekitar pukul 22.00 Wita.

Mereka ini baru saja berusaha memadamkan api dengan membuat sekat. “Tim sudah naik sekitar pukul 17.00 Wita,” ujar Arimbawa.

Baca Juga:  Astungkara, Angka Kesembuhan Pasien di Denpasar Tembus 95,64 Persen

Pantauan kemarin, masih terlihat enam titik api. Di antaranya ada tiga titik di Dusun Belong dan tiga titik di hutan Dusun Pucang.

Kedua titik api ini memang masih jauh dari permukiman penduduk. Api juga terlihat dari Dusun Pucang dengan ketinggian 1000 sampai 1200 Mpdl.

Asap terus mengepul. Api juga terlihat diatas pura Pundak Madya, Pucang dan Tukad Jabah. Sementara di Dusun Belong juga masih terlihat dua titik api.

Semua titik api tersebut ada di atas dan sangat sulit dijangkau petugas. Beberapa pohon yang terbakar adalah cemara, seming, nangi, semak belukar dan beberapa pohon lainnya.

Kebakaran terjadi diduga karena gesekan antar ranting kayu kering karena angin. Sehingga keluar api dan membakar rumput dan pohon yang kering disekitarnya.

Tiupan angin di puncak yang cukup keras membuat api cepat membesar. 



 

AMLAPURA —Angin kancang dan juga musim kering membuat kebakaran di lereng Gunung Agung makin meluas.

Awalnya kebakaran terjadi sekitar 1 haktare pada hari pertama. Sekarang sudah empat hari belum juga berhasil dilakukan penanganan.

Bahkan, kali ini diperkirakan sekitar 10 haktare lahan hutan di lereng timur Gunung Agung sudah hangus dilalap sijago merah.

Tim pemadam yang terdiri dari banyak unsur, mulai pihak kehutanan, Damkar Karangasem, dan BPBD Karangasem belum bisa berbuat banyak.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Karangasem Ida Ketut Arimbawa, areal hutan yang terbakar berada di hutan lindung di Dusun Belong dan Dusun Pucang, Desa Ban, Kubu.

Kebakaran terjadi tepatnya di kompleks hutan Gunung Agung. Kawasan ini ada pada zona merah kawasan rawan bencana III di Pal batas hutan B 500-510.

 Kebakaran paling banyak terjadi Sabtu pagi lalu. Ini terpantau dari Dusun Bonyoh, Desa Ban, dan di hutan Dusun Belong.

Kebakaran mengarah ke timur dengan tiga titik api. Sementara di Dusun Pucang api mengarah ke atas dan barat daya.

Baca Juga:  Diterjang Banjir, Akses Menuju Obyek Wisata Rumah Pohon Putus Lagi

Semua titik api sangat sulit dijangkau petugas. Selain medan yang terjal juga angin cukup kencang. Sehingga khawatir kalau petugas naik akan terjebak dalam kobaran api.

Titik api sendiri masih jauh dari rumah penduduk. Saat ini, petugas hanya bisa melakukan pengamatan.

Sempat juga dibuat sekat di Dusun Pucang dekat Pura Madya bersama Kodim Karangasem dan Polres Karangasem.

“Upaya untuk menekan agar tidak merambat kebawah kami sudah lakukan dengan pembuatan sekat atau parit,” ujar Arimbawa.

Sekat-sekat lainya juga dibuat warga masyarakat seperti di Dusun Belong.  Sabtu malam lalu api malah semakin membesar.

Hal ini sempat membuat tim gabungan bergerak cepat. Mereka kembali meluncur ke Desa Pucang.

Hanya saja saat tim naik, mereka sudah menemukan sekitar 50 warga Pucang baru kembali dari hutan sekitar pukul 22.00 Wita.

Mereka ini baru saja berusaha memadamkan api dengan membuat sekat. “Tim sudah naik sekitar pukul 17.00 Wita,” ujar Arimbawa.

Baca Juga:  Hujan Deras, Tebing Jaba Sisi Pura Pasar Agung Sebudi Longsor

Pantauan kemarin, masih terlihat enam titik api. Di antaranya ada tiga titik di Dusun Belong dan tiga titik di hutan Dusun Pucang.

Kedua titik api ini memang masih jauh dari permukiman penduduk. Api juga terlihat dari Dusun Pucang dengan ketinggian 1000 sampai 1200 Mpdl.

Asap terus mengepul. Api juga terlihat diatas pura Pundak Madya, Pucang dan Tukad Jabah. Sementara di Dusun Belong juga masih terlihat dua titik api.

Semua titik api tersebut ada di atas dan sangat sulit dijangkau petugas. Beberapa pohon yang terbakar adalah cemara, seming, nangi, semak belukar dan beberapa pohon lainnya.

Kebakaran terjadi diduga karena gesekan antar ranting kayu kering karena angin. Sehingga keluar api dan membakar rumput dan pohon yang kering disekitarnya.

Tiupan angin di puncak yang cukup keras membuat api cepat membesar. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/