alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Puji Tanpa Ada Plastik, Koster Sindir Parade Budaya Tanpa Aksara Bali

NEGARA – Pawai Budaya yang digelar Pemkab Jembrana, Minggu (1/9) kemarin, di Jalan Sudirman dalam rangka Hut ke-124 Kota Negara, mendapat kritik dari Gubernur Bali Wayan Koster.

Kritiknya mengenai penggunaan aksara Bali yang tidak ada di sekitar parade, terutama pada tulisan parade budaya yang dipasang di seberang panggung tamu undangan.

Koster awalnya memuji pelaksanaan Parade Budaya yang tidak menggunakan plastik pada minuman. Di meja undangan, terutama di meja Koster tidak ada botol plastik air mineral.

Artinya, Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, dijalankan dengan baik.

Namun, Koster menyinggung Parade Budaya yang tidak terlihat sama sekali penggunaan aksara Bali.

Baca Juga:  Eks Hardys Gianyar Disulap Mirip Plaza Renon, Komentar Netizen Menohok

Padahal sudah ada Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

Koster menyayangkan tidak ada penggunaan aksara Bali terlihat di sekitar Parade Budaya. “Jadi harus menggunakan aksara Bali, karena itu salah satu simbol dari kebudayaan kita,” ungkapnya.

Menurutnya, kebudayaan Bali harus dibangun dengan sungguh-sungguh, karena Bali hanya bermodal budaya. Bali tidak punya tambang atau kekayaan alam seperti daerah lain.

Karena itu budaya Bali ini harus dirawat dengan baik, dengan serius, sangat serius malahan. “Kalau lalai membangun Bali maka pulau Bali ini tidak ada keistimewaan sama sekali, sama saja dengan yang lainnya,“ terang Koster.

Baca Juga:  Warga Sumberklampok Ucapkan Terima Kasih ke Gubernur Koster

Karena kekayaan Budaya itulah nama Bali menjadi harum dikunjungi wisatawan. Bukan semata karena keindahan alamnya, tapi tradisi, budaya serta kearifan lokal yang menjiwai masyarakatnya selama ini.

“Karena itu pemkab dan masyarakatnya harus mempunyai arah dan kebijakan dalam membangun budaya Bali. UU juga menegaskan bahwa kebudayaan itu investasi bukan harga atau biaya, jadi jangan dihitung,” tegasnya. 



NEGARA – Pawai Budaya yang digelar Pemkab Jembrana, Minggu (1/9) kemarin, di Jalan Sudirman dalam rangka Hut ke-124 Kota Negara, mendapat kritik dari Gubernur Bali Wayan Koster.

Kritiknya mengenai penggunaan aksara Bali yang tidak ada di sekitar parade, terutama pada tulisan parade budaya yang dipasang di seberang panggung tamu undangan.

Koster awalnya memuji pelaksanaan Parade Budaya yang tidak menggunakan plastik pada minuman. Di meja undangan, terutama di meja Koster tidak ada botol plastik air mineral.

Artinya, Peraturan Gubernur Bali No.97/2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, dijalankan dengan baik.

Namun, Koster menyinggung Parade Budaya yang tidak terlihat sama sekali penggunaan aksara Bali.

Baca Juga:  Warga Luar Radius Berbahaya Picu Jumlah Pengungsi Membengkak

Padahal sudah ada Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

Koster menyayangkan tidak ada penggunaan aksara Bali terlihat di sekitar Parade Budaya. “Jadi harus menggunakan aksara Bali, karena itu salah satu simbol dari kebudayaan kita,” ungkapnya.

Menurutnya, kebudayaan Bali harus dibangun dengan sungguh-sungguh, karena Bali hanya bermodal budaya. Bali tidak punya tambang atau kekayaan alam seperti daerah lain.

Karena itu budaya Bali ini harus dirawat dengan baik, dengan serius, sangat serius malahan. “Kalau lalai membangun Bali maka pulau Bali ini tidak ada keistimewaan sama sekali, sama saja dengan yang lainnya,“ terang Koster.

Baca Juga:  Astungkara! Pemprov Segera Pasang Wifi Gratis di 1.490 Desa Pakraman

Karena kekayaan Budaya itulah nama Bali menjadi harum dikunjungi wisatawan. Bukan semata karena keindahan alamnya, tapi tradisi, budaya serta kearifan lokal yang menjiwai masyarakatnya selama ini.

“Karena itu pemkab dan masyarakatnya harus mempunyai arah dan kebijakan dalam membangun budaya Bali. UU juga menegaskan bahwa kebudayaan itu investasi bukan harga atau biaya, jadi jangan dihitung,” tegasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/