alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Batal PTM, Banyak Ortu Akui Anaknya Mulai Bosan Belajar Jarak Jauh

PEMERINTAH lagi-lagi kembali memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2-4 Jawa-Bali.

Akibat perpanjangan PPKM berkali-kali, pembelajaran tatap muka kembali batal.

Dampak lainnya, tidak sedikit dari orang tua yang mulai mengaku jika anaknya mulai jenuh dan bosan belajar jarak jauh alias online atau daring (dalam jaringan).

 

JULIADI, Tabanan

 

SUDAH dua tahun masyarakat harus berjuang melawan pandemi Covid-19.

Sejak wabah pandemi, seluruh kegiatan belajar mengajar siswa praktis dilakukan online (daring) di rumah.

Dua tahun tanpa kejalasan, kini tidak sedikit para pelajar yang mulai dilanda rasa jenuh dan bosan.

Bahkan selain rasa bosan, tidak sedikit dari para orang tua yang mengeluh dan mengaku terbebani dengan sistem pembelajaran daring.

Selain keterbatasan kemampuan, tidak semya orang tua bisa melakukan pendampingan terhadap anak mereka.

Salah satunya seperti diakui salah satu orang tua siswa Agung Kayika.

Agung mengaku, akibat pemberlakuan sistem belajar daring, banyak anak dan orang tua mulai merasa jenuh.

Kejenuhan itu, bahkan imbuhnya bukan hanya dialami mereka yang bersekolah di negeri. Namun, banyak dari siswa di sekolah swasta yang merasakan nasib serupa.

“Kebetulan anak saya SD di sekolah swasta jadi setiap hari belajar daring dengan zoom metting. Interaksi siswa dan guru itu ada,” ungkap Agung Kayika saat dikonfirmasi, Rabu (1/9) kemarin.

Baca Juga:  Perkantoran Pemprov Bali Terapkan Aplikasi PeduliLindungi

Meski daring secara zoom metting, ia mengaku tidak semua anak bisa menyerap pelajaran secara langsung.

Apalagi bagi siswa SD seperti anaknya. “Mau tidak mau sebagai orang tua harus mendampingi,”akunya.

Untuk itu, dengan adanya kondisi ini, selaku orang tua siswa, pihaknya berharap membuka kembali belaja tatap muka.

“Tentunya dengan skema protokol kesehatan secara ketat . Belajar daring ini bukan hanya menurunkan kualitas pendidikan. Tetapi juga perkembangan psikologis anak hingga interaksi sosial anak dengan lingkungan mereka di sekolah,”terangnya.

Sementara itu orang tua siswa lainnya I Ketut Narta mengaku anaknya yang duduk di SMP mengikuti belajar daring hanya mengalami kendala tahap awal saat belajar daring digelar.

Tahap awal perlu pendampingan karena anak belum memahami dengan baik aplikasi daring. Demikian juga baru mengenal google metting.

 “Hanya tahap awal saja saya harus damping berkali-kali,” kata narta.

Narta menyebut anaknya yang baru kelas 7 SMP sejatinya ingin tetap belajar tatap muka.

“Anak ingin tatap muka agar mengenal guru dan teman-teman lebih dekat. Namun apa dikata karena pandemi Covid-19 menjadi pertimbangan untuk melaksanakan belajar daring,”ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Tabanan, I Nyoman Putra menyatakan meski adanya kelonggaran pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan kapasitas maksimal 25 persen sesuai Inmendagri Nomor 35 tahun 2021 tentang PPKM di Jawa dan Bali. Namun pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk melaksanakan PTM.

Baca Juga:  PPKM Darurat, Bos PO Gunung Harta; Pelan Pelan Kita Mati!

Mengingatkan Tabanan memberlakukan PPKM Level 4.

Pihaknya sejatinya sudah siap dan sudah melakukan simulasi bagaimana PTM itu dilaksanakan dengan skema Covid-19.

“Lagi-lagi kebijakan pimpinan daerah soal PTM digelar,” imbuhnya.

Penegasan soal PTM juga disampaikan Sekda Tabanan I Gede Susila. PTM apakah bisa atau tidak dilakukan di Tabanan.

Lagi-lagi tidak dapat dilaksanakan ini lantaran Tabanan masuk zona merah penularan Covid-19.

Selain Tabanan kembali masuk dalam perpanjangan PPKM Level 4 sampai dengan September mendatang.

“Ini kan Covid-19 belum terkendali, jadi kami pastikan belum bisa menerapkan PTM,” ungkapnya.

Kemudian juga sesuai arahan Gubenur Bali Kabupaten Tabanan belum bisa melaksanakan PTM. Akan tetapi kebijakan ini bisa saja berubah. Namun tergantung dari kasus Covid-19.

Turunnya kasus Covid-19 memang dibutuhkan kerjasama semua pihak. Dengan cara apa mengurangi aktivitas diluar rumah.

Selain itu terpenting kurangi hal-hal yang menimbulkan kerumunan salah satu pelaksanaan kegiatan keagamaan.

“Kami berharap masyarakat dapat menyadari hal ini sehingga kasus Covid-19 turun dan kondisi ekonomi mulai membaik,” tukasnya.

PEMERINTAH lagi-lagi kembali memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2-4 Jawa-Bali.

Akibat perpanjangan PPKM berkali-kali, pembelajaran tatap muka kembali batal.

Dampak lainnya, tidak sedikit dari orang tua yang mulai mengaku jika anaknya mulai jenuh dan bosan belajar jarak jauh alias online atau daring (dalam jaringan).

 

JULIADI, Tabanan

 

SUDAH dua tahun masyarakat harus berjuang melawan pandemi Covid-19.

Sejak wabah pandemi, seluruh kegiatan belajar mengajar siswa praktis dilakukan online (daring) di rumah.

Dua tahun tanpa kejalasan, kini tidak sedikit para pelajar yang mulai dilanda rasa jenuh dan bosan.

Bahkan selain rasa bosan, tidak sedikit dari para orang tua yang mengeluh dan mengaku terbebani dengan sistem pembelajaran daring.

Selain keterbatasan kemampuan, tidak semya orang tua bisa melakukan pendampingan terhadap anak mereka.

Salah satunya seperti diakui salah satu orang tua siswa Agung Kayika.

Agung mengaku, akibat pemberlakuan sistem belajar daring, banyak anak dan orang tua mulai merasa jenuh.

Kejenuhan itu, bahkan imbuhnya bukan hanya dialami mereka yang bersekolah di negeri. Namun, banyak dari siswa di sekolah swasta yang merasakan nasib serupa.

“Kebetulan anak saya SD di sekolah swasta jadi setiap hari belajar daring dengan zoom metting. Interaksi siswa dan guru itu ada,” ungkap Agung Kayika saat dikonfirmasi, Rabu (1/9) kemarin.

Baca Juga:  Gunung Agung Erupsi, Tiga Desa Alami Hujan Abu

Meski daring secara zoom metting, ia mengaku tidak semua anak bisa menyerap pelajaran secara langsung.

Apalagi bagi siswa SD seperti anaknya. “Mau tidak mau sebagai orang tua harus mendampingi,”akunya.

Untuk itu, dengan adanya kondisi ini, selaku orang tua siswa, pihaknya berharap membuka kembali belaja tatap muka.

“Tentunya dengan skema protokol kesehatan secara ketat . Belajar daring ini bukan hanya menurunkan kualitas pendidikan. Tetapi juga perkembangan psikologis anak hingga interaksi sosial anak dengan lingkungan mereka di sekolah,”terangnya.

Sementara itu orang tua siswa lainnya I Ketut Narta mengaku anaknya yang duduk di SMP mengikuti belajar daring hanya mengalami kendala tahap awal saat belajar daring digelar.

Tahap awal perlu pendampingan karena anak belum memahami dengan baik aplikasi daring. Demikian juga baru mengenal google metting.

 “Hanya tahap awal saja saya harus damping berkali-kali,” kata narta.

Narta menyebut anaknya yang baru kelas 7 SMP sejatinya ingin tetap belajar tatap muka.

“Anak ingin tatap muka agar mengenal guru dan teman-teman lebih dekat. Namun apa dikata karena pandemi Covid-19 menjadi pertimbangan untuk melaksanakan belajar daring,”ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Tabanan, I Nyoman Putra menyatakan meski adanya kelonggaran pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan kapasitas maksimal 25 persen sesuai Inmendagri Nomor 35 tahun 2021 tentang PPKM di Jawa dan Bali. Namun pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk melaksanakan PTM.

Baca Juga:  Berani Tolak Vaksin, Koster Minta Perbekel Beri Sanksi Ini ke Warganya

Mengingatkan Tabanan memberlakukan PPKM Level 4.

Pihaknya sejatinya sudah siap dan sudah melakukan simulasi bagaimana PTM itu dilaksanakan dengan skema Covid-19.

“Lagi-lagi kebijakan pimpinan daerah soal PTM digelar,” imbuhnya.

Penegasan soal PTM juga disampaikan Sekda Tabanan I Gede Susila. PTM apakah bisa atau tidak dilakukan di Tabanan.

Lagi-lagi tidak dapat dilaksanakan ini lantaran Tabanan masuk zona merah penularan Covid-19.

Selain Tabanan kembali masuk dalam perpanjangan PPKM Level 4 sampai dengan September mendatang.

“Ini kan Covid-19 belum terkendali, jadi kami pastikan belum bisa menerapkan PTM,” ungkapnya.

Kemudian juga sesuai arahan Gubenur Bali Kabupaten Tabanan belum bisa melaksanakan PTM. Akan tetapi kebijakan ini bisa saja berubah. Namun tergantung dari kasus Covid-19.

Turunnya kasus Covid-19 memang dibutuhkan kerjasama semua pihak. Dengan cara apa mengurangi aktivitas diluar rumah.

Selain itu terpenting kurangi hal-hal yang menimbulkan kerumunan salah satu pelaksanaan kegiatan keagamaan.

“Kami berharap masyarakat dapat menyadari hal ini sehingga kasus Covid-19 turun dan kondisi ekonomi mulai membaik,” tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/