alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Redam Mahasiswa Demo, PKS Gianyar Sebut Ada Agenda Settingan Aparat

GIANYAR – Demo menolak RUU kontroversial, tampaknya, belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Meski UU KPK tengah diajukan judicial review di Mahkamah Konstitusi dan beberapa RUU ditunda penetapannya oleh pemerintah, para mahasiswa tak surut menghentikan langkahnya: menuntut pembatalan RUU kontroversial itu.

Mereka terus bergerak di seluruh Indonesia. Yang menarik, disaat para mahasiswa bergerak, aparat di Gianyar justru mengumpulkan mahasiswa setempat.

Mereka mengajak para mahasiswa untuk menyalurkan hak politiknya dijalur yang tepat, dan tidak sampai memicu kerusuhan yang menganggu pariwisata.

Kondisi ini disikapi Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Gianyar Ngakan Made Rai. Ngakan Rai menilai ikrar menolak unjuk rasa dianggap agenda settingan dari penegak hukum.

Sejak tiga hari terakhir, Ngakan Rai melihat agenda itu serempak digelar oleh mahasiswa dan pelajar di Gianyar.

“Redaksional kalimat pernyataan mereka kok sama semua. Sepertinya ada yang setting,” ujar Ngakan Rai, kemarin.

Apabila memang betul dengan kesadaran sendiri menolak, mereka pasti menggelar dengan cara sendiri. “Ini bacaan sama. Mereka baris,” ujarnya.

Pihaknya bukan tidak suka dengan agenda tersebut. “Kami rasa itu berlebihan. Kami khawatir malah terjadi riak-riak,” ujarnya.

Padahal, kata dia, di Gianyar tidak mungkin ada masyarakat demo. “Pikiran orang Gianyar, lebih baik nyari makan daripada demo. Jadi tidak perlu agenda begitu,” ujar pria yang dulu kerap unjuk rasa di depan kantor bupati Gianyar itu.

Belum lagi warga Papua yang tinggal di Gianyar, sempat dijamu makan bersama ketika ada keributan di Jawa dan di Papua.

“Baru ada masalah, baru diajak makan mereka. Seharusnya dari dulu menjalin kebersamaan seperti itu. Bukan pada saat ada masalah saja,” jelasnya.

Ngakan Rai mengaku akumulasi keributan terjadi lantaran tidak terpenuhinya keadilan. “Masih banyak kasus. Di Gianyar, gedung IKM Celuk, pasar Silakarang mangrak. Belum lagi judi tajen merajalela,” terangnya.

Sebaiknya, dia meminta hal semacam itu yang dibenahi. “Kalau hukum ditegakkan, kami rasa tidak ada riak. Gianyar akan semakin aman,” pungkasnya. 



GIANYAR – Demo menolak RUU kontroversial, tampaknya, belum akan berhenti dalam waktu dekat.

Meski UU KPK tengah diajukan judicial review di Mahkamah Konstitusi dan beberapa RUU ditunda penetapannya oleh pemerintah, para mahasiswa tak surut menghentikan langkahnya: menuntut pembatalan RUU kontroversial itu.

Mereka terus bergerak di seluruh Indonesia. Yang menarik, disaat para mahasiswa bergerak, aparat di Gianyar justru mengumpulkan mahasiswa setempat.

Mereka mengajak para mahasiswa untuk menyalurkan hak politiknya dijalur yang tepat, dan tidak sampai memicu kerusuhan yang menganggu pariwisata.

Kondisi ini disikapi Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Gianyar Ngakan Made Rai. Ngakan Rai menilai ikrar menolak unjuk rasa dianggap agenda settingan dari penegak hukum.

Sejak tiga hari terakhir, Ngakan Rai melihat agenda itu serempak digelar oleh mahasiswa dan pelajar di Gianyar.

“Redaksional kalimat pernyataan mereka kok sama semua. Sepertinya ada yang setting,” ujar Ngakan Rai, kemarin.

Apabila memang betul dengan kesadaran sendiri menolak, mereka pasti menggelar dengan cara sendiri. “Ini bacaan sama. Mereka baris,” ujarnya.

Pihaknya bukan tidak suka dengan agenda tersebut. “Kami rasa itu berlebihan. Kami khawatir malah terjadi riak-riak,” ujarnya.

Padahal, kata dia, di Gianyar tidak mungkin ada masyarakat demo. “Pikiran orang Gianyar, lebih baik nyari makan daripada demo. Jadi tidak perlu agenda begitu,” ujar pria yang dulu kerap unjuk rasa di depan kantor bupati Gianyar itu.

Belum lagi warga Papua yang tinggal di Gianyar, sempat dijamu makan bersama ketika ada keributan di Jawa dan di Papua.

“Baru ada masalah, baru diajak makan mereka. Seharusnya dari dulu menjalin kebersamaan seperti itu. Bukan pada saat ada masalah saja,” jelasnya.

Ngakan Rai mengaku akumulasi keributan terjadi lantaran tidak terpenuhinya keadilan. “Masih banyak kasus. Di Gianyar, gedung IKM Celuk, pasar Silakarang mangrak. Belum lagi judi tajen merajalela,” terangnya.

Sebaiknya, dia meminta hal semacam itu yang dibenahi. “Kalau hukum ditegakkan, kami rasa tidak ada riak. Gianyar akan semakin aman,” pungkasnya. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/