alexametrics
24.8 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Cuaca Buruk, Nelayan Buleleng Sementara Puasa Melaut

RadarBali.com – Cuaca di Bumi Panji Sakti akhir-akhir ini semakin ekstrem. Hujan disertai angin kencang seakan menjadi langganan belakangan ini.

Di wilayah perbukitan, ancaman longsor dan banjir pun dapat terjadi kapan saja. Begitu juga dengan para nelayan harus memarkir perahunya untuk sementara sambil menunggu cuaca membaik kembali.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali di Pantai Penimbangan, deburan ombak begitu kencang. Saat ombak menghantam pembatas Pura Segara, percikan airnya pun cukup tinggi.

Begitu juga dengan kencangnya angin laut dari arah barat laut. Sejumlah warung pun mesti tutup karena buruknya cuaca kemarin.

Sementara itu, para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Segara, Pantai Penimbangan, Singaraja pun mengaku harus puasa untuk mencari ikan sementara waktu.

Baca Juga:  Diterjang Hujan Angin, Dapur Warga Melaya Roboh Rata dengan Tanah

“Mulai pagi tadi (kemarin), cuacanya seperti ini. Biasanya, cuaca seperti ini akan berlangsung selama satu minggu,” tutur Widiara, 27, seorang nelayan yang ditemui Jawa Pos Radar Bali.

Buruknya cuaca diakuinya memang menjadi siklus tahunan. Dalam kalender Bali, ini sudah masuk dalam sasih ke enam.

“Tiap tahun memang seperti ini. Nanti pada sasih kepitu dan keulu, baru ombaknya jauh lebih mengamuk dari pada sekarang.

Semua nelayan dimana pun pasti akan istirahat total, yakni sekitar 3 bulan, dari Januari hingga Maret,” tuturnya.

Buruknya cuaca seperti ini, tentu membuat penghasilannya mengurang. Biasanya, setiap melaut rata-rata dapat 20-30 kilo ikan.

Oleh karena itu, penghasilan dalam sekali melaut, dengan mencapai keuntungan rata-rata Rp 100 ribu pun kini sirna. “Tak apa. Keselamatan yang utama,” tutupnya.

Baca Juga:  Awas, Tiga Hari Mengilang, Anjing Rabies Gigit Sang Tuan

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Buleleng, Ni Luh Putu Eka Suyasmin saat dikonfirmasi tidak menyangkal bahwa cuaca akhir-akhir ini memang cukup ekstrem.

“Cuaca seperti ini sudah terjadi sejak tanggal 27 November lalu dan kami perkirakan akan berlangsung sampai tanggal 3 Desember ini,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya tetap mengimbau kepada para nakhoda maupun nelayan untuk tidak melaut dalam kondisi cuaca sedang buruk.

“Memang tidak semua laut cuacanya buruk, tapi jangan memaksakan diri untuk berlayar jika memang cuaca tidak bersahabat,” imbuhnya.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, pihak syahbandar belum melakukan penutupan terhadap pelabuhan yang ada di Buleleng



RadarBali.com – Cuaca di Bumi Panji Sakti akhir-akhir ini semakin ekstrem. Hujan disertai angin kencang seakan menjadi langganan belakangan ini.

Di wilayah perbukitan, ancaman longsor dan banjir pun dapat terjadi kapan saja. Begitu juga dengan para nelayan harus memarkir perahunya untuk sementara sambil menunggu cuaca membaik kembali.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali di Pantai Penimbangan, deburan ombak begitu kencang. Saat ombak menghantam pembatas Pura Segara, percikan airnya pun cukup tinggi.

Begitu juga dengan kencangnya angin laut dari arah barat laut. Sejumlah warung pun mesti tutup karena buruknya cuaca kemarin.

Sementara itu, para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sari Segara, Pantai Penimbangan, Singaraja pun mengaku harus puasa untuk mencari ikan sementara waktu.

Baca Juga:  Diterjang Hujan Angin, Dapur Warga Melaya Roboh Rata dengan Tanah

“Mulai pagi tadi (kemarin), cuacanya seperti ini. Biasanya, cuaca seperti ini akan berlangsung selama satu minggu,” tutur Widiara, 27, seorang nelayan yang ditemui Jawa Pos Radar Bali.

Buruknya cuaca diakuinya memang menjadi siklus tahunan. Dalam kalender Bali, ini sudah masuk dalam sasih ke enam.

“Tiap tahun memang seperti ini. Nanti pada sasih kepitu dan keulu, baru ombaknya jauh lebih mengamuk dari pada sekarang.

Semua nelayan dimana pun pasti akan istirahat total, yakni sekitar 3 bulan, dari Januari hingga Maret,” tuturnya.

Buruknya cuaca seperti ini, tentu membuat penghasilannya mengurang. Biasanya, setiap melaut rata-rata dapat 20-30 kilo ikan.

Oleh karena itu, penghasilan dalam sekali melaut, dengan mencapai keuntungan rata-rata Rp 100 ribu pun kini sirna. “Tak apa. Keselamatan yang utama,” tutupnya.

Baca Juga:  Terkikis Abrasi, Jalan Banjar Pebuahan Nyaris Putus

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Buleleng, Ni Luh Putu Eka Suyasmin saat dikonfirmasi tidak menyangkal bahwa cuaca akhir-akhir ini memang cukup ekstrem.

“Cuaca seperti ini sudah terjadi sejak tanggal 27 November lalu dan kami perkirakan akan berlangsung sampai tanggal 3 Desember ini,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya tetap mengimbau kepada para nakhoda maupun nelayan untuk tidak melaut dalam kondisi cuaca sedang buruk.

“Memang tidak semua laut cuacanya buruk, tapi jangan memaksakan diri untuk berlayar jika memang cuaca tidak bersahabat,” imbuhnya.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, pihak syahbandar belum melakukan penutupan terhadap pelabuhan yang ada di Buleleng


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/