alexametrics
26.5 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Ajaib! Tarif Parkir di Tabanan Naik 100 Persen, Tapi Pendapatan Tetap

TABANAN – Kendati tarif parkir di Kabupaten Tabanan telah naik 100 persen pada tahun 2017 lalu, namun pendapatan dari retribusi parkir malah tetap. Bahkan parkir elektronik (e-parkir) yang diterapkan di sejumlah pasar tidak ada pengaruh terhadap pendapatan parkir.

 

Tak pelak, kondisi ini menjadi sorotan di kalangan DPRD Tabanan. Diketahui, tarif parkir di Tabanan sudah naik dari semula Rp1.000 menjadi Rp2.000 untuk kendaraan roda dua. Begitu pula untuk kendaraan roda empat dari Rp2.000 menjadi Rp3.000.

 

“Ini artinya harus kita lakukan evaluasi pelaksanaan pengelolaan parkir di Tabanan. Kok bisa demikian (tarif naik, tapi pendapatan tetap), padahal kantong-kantong parkir begitu besar yang dapat menghasilkan pendapatan daerah,” kata Ketua Fraksi Golkar Tabanan I Made Asta Dharma usai rapat paripurna internal pembentukan Panitia Khusus Optimalisasi Parkir.

 

Menurutnya, dugaan kebocoran parkir bisa saja terjadi. Misalnya satu lokasi parkir A katakanlah masuk 100 unit kendaraan roda dua, padahal di sana potensinya bisa 200 kendaraan roda dua. Nah itu, kata dia, yang perlu evaluasi.

 

“Caranya libatkan pihak ketiga untuk melakukan survey di lokasi titik parkir tersebut. Agar dapat mengetahui rata-rata dan faktanya berapa sih pemasukan parkir di lokasi tersebut,” jelas Asta Dharma yang kini juga masuk sebagai anggota Pansus Optimalisasi Parkir.

Baca Juga:  Duh, Pendapatan Parkir Jeblok, Bappeda Gianyar Rancang Parkir Per Jam

 

Dengan ada hasil survei ini, maka OPD terkait yakni Dishub tidak asal-asalan menentukan uang setoran parkir kepada petugas parkir.

Selain itu, Asta Dharma juga menyebut, soal pelaksanaan e-parking atau parkir elektronik yang sudah berjalan sejak awal perlu juga dievaluasi. Sejauh ini sudah efektif atau tidak dan berjalan dengan baik atau tidak.

 

“Karena apa kalau tidak berjalan efektif lebih baik ditinggalkan atau lebih diaktifkan kembali,” ungkapnya.

 

Pantauan radarbali.id, e-parking sudah terbengkalai. Sebagai contoh e-parking di Jalan Gajah Mada, hampir tidak ada yang menggunakan. Akhirnya, petugas parkir kembali memberlakukan seperti semula. Yakni langsung memungut uang parkir kepada pengguna jasa parkir. 

  

Asta Dharma melanjutkan, hal lainnya adalah soal penentuan obyek-obyek atau potensi terbaru titik lokasi parkir secara obyektif. Ini juga harus dilakukan. Caranya melibatkan pihak ketiga untuk melakukan survey. Sehingga pada titik lokasi perki baru tersebut diketahui sebenarnya berapa pendapatan yang bisa dihasilkan.

Baca Juga:  Jokowi ke Buleleng, Ini yang Akan Disampaikan Bupati Buleleng ke Presiden

“Bahkan di setiap lokasi titik parkir gunakan teknologi dan dilengkapi pengawas kamera CCTV,” bebernya.  

 

Dharma juga menyinggung soal  pengelolaan obyek-obyek parkir yang dikelola desa adat. Ini juga dicarikan solusinya dan diluruskan dulu. Solusi parkir dikerjasamakan dengan desa adat, namun Pemkab memberikan bantuan fasilitas

 

Dia berharap dengan pembentukan Pansus Optimalisasi Parkir, maka hasilnya bisa dibawa dan dijadikan rekomendasi pada OPD terkait untuk bisa meningkatkan PAD Tabanan pada retribusi parkir.

 

“Mengingat Tabanan tarif parkir sudah Rp 2.000, namun PAD dari sektor itu tak ada kenaikan signifikan,” pungkasnya.  

 

Sekadar diketahui pendapatan Tabanan dari retribusi parkir yang dikelola Dinas Perhubungan Tabanan terjadi penurunan kendati tarif parkir telah mengalami kenaikan sebesar 100 persen.

 

Tahun 2019 lalu pendapatan parkir hanya mencapai sekitar Rp5,6 miliar. Kemudian terjadi penurunan tahun 2020 menjadi Rp4,3 miliar lebih dan tahun 2021 pendapatannya hanya Rp4,3 miliar lebih.



TABANAN – Kendati tarif parkir di Kabupaten Tabanan telah naik 100 persen pada tahun 2017 lalu, namun pendapatan dari retribusi parkir malah tetap. Bahkan parkir elektronik (e-parkir) yang diterapkan di sejumlah pasar tidak ada pengaruh terhadap pendapatan parkir.

 

Tak pelak, kondisi ini menjadi sorotan di kalangan DPRD Tabanan. Diketahui, tarif parkir di Tabanan sudah naik dari semula Rp1.000 menjadi Rp2.000 untuk kendaraan roda dua. Begitu pula untuk kendaraan roda empat dari Rp2.000 menjadi Rp3.000.

 

“Ini artinya harus kita lakukan evaluasi pelaksanaan pengelolaan parkir di Tabanan. Kok bisa demikian (tarif naik, tapi pendapatan tetap), padahal kantong-kantong parkir begitu besar yang dapat menghasilkan pendapatan daerah,” kata Ketua Fraksi Golkar Tabanan I Made Asta Dharma usai rapat paripurna internal pembentukan Panitia Khusus Optimalisasi Parkir.

 

Menurutnya, dugaan kebocoran parkir bisa saja terjadi. Misalnya satu lokasi parkir A katakanlah masuk 100 unit kendaraan roda dua, padahal di sana potensinya bisa 200 kendaraan roda dua. Nah itu, kata dia, yang perlu evaluasi.

 

“Caranya libatkan pihak ketiga untuk melakukan survey di lokasi titik parkir tersebut. Agar dapat mengetahui rata-rata dan faktanya berapa sih pemasukan parkir di lokasi tersebut,” jelas Asta Dharma yang kini juga masuk sebagai anggota Pansus Optimalisasi Parkir.

Baca Juga:  Gara-Gara Ketangkap Pesta Sabu dengan Teman, Kartolo Dibui Lagi

 

Dengan ada hasil survei ini, maka OPD terkait yakni Dishub tidak asal-asalan menentukan uang setoran parkir kepada petugas parkir.

Selain itu, Asta Dharma juga menyebut, soal pelaksanaan e-parking atau parkir elektronik yang sudah berjalan sejak awal perlu juga dievaluasi. Sejauh ini sudah efektif atau tidak dan berjalan dengan baik atau tidak.

 

“Karena apa kalau tidak berjalan efektif lebih baik ditinggalkan atau lebih diaktifkan kembali,” ungkapnya.

 

Pantauan radarbali.id, e-parking sudah terbengkalai. Sebagai contoh e-parking di Jalan Gajah Mada, hampir tidak ada yang menggunakan. Akhirnya, petugas parkir kembali memberlakukan seperti semula. Yakni langsung memungut uang parkir kepada pengguna jasa parkir. 

  

Asta Dharma melanjutkan, hal lainnya adalah soal penentuan obyek-obyek atau potensi terbaru titik lokasi parkir secara obyektif. Ini juga harus dilakukan. Caranya melibatkan pihak ketiga untuk melakukan survey. Sehingga pada titik lokasi perki baru tersebut diketahui sebenarnya berapa pendapatan yang bisa dihasilkan.

Baca Juga:  Ahli Vulkanologi Ingatkan Puncak Erupsi Belum Terjadi, Awas…

“Bahkan di setiap lokasi titik parkir gunakan teknologi dan dilengkapi pengawas kamera CCTV,” bebernya.  

 

Dharma juga menyinggung soal  pengelolaan obyek-obyek parkir yang dikelola desa adat. Ini juga dicarikan solusinya dan diluruskan dulu. Solusi parkir dikerjasamakan dengan desa adat, namun Pemkab memberikan bantuan fasilitas

 

Dia berharap dengan pembentukan Pansus Optimalisasi Parkir, maka hasilnya bisa dibawa dan dijadikan rekomendasi pada OPD terkait untuk bisa meningkatkan PAD Tabanan pada retribusi parkir.

 

“Mengingat Tabanan tarif parkir sudah Rp 2.000, namun PAD dari sektor itu tak ada kenaikan signifikan,” pungkasnya.  

 

Sekadar diketahui pendapatan Tabanan dari retribusi parkir yang dikelola Dinas Perhubungan Tabanan terjadi penurunan kendati tarif parkir telah mengalami kenaikan sebesar 100 persen.

 

Tahun 2019 lalu pendapatan parkir hanya mencapai sekitar Rp5,6 miliar. Kemudian terjadi penurunan tahun 2020 menjadi Rp4,3 miliar lebih dan tahun 2021 pendapatannya hanya Rp4,3 miliar lebih.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/