alexametrics
27.6 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Di Tengah Pandemi Covid-19, Perkara Judi Meningkat Drastis di Buleleng

SINGARAJA – Trend perkara pidana di Pengadilan Negeri Singaraja, menunjukkan pergeseran. Biasanya perkara pidana didominasi oleh perkara pencurian, narkotika, maupun penipuan/ penggelapan. Tapi pada tahun 2021 lalu, trend tersebut berubah. Kali ini perkara kejahatan perjudian atau judi masuk dalam daftar tiga besar perkara pidana yang ditangani PN Singaraja.

Mengacu data PN Singaraja, sepanjang tahun 2021, tercatat ada 213 perkara yang ditangani. Dari ratusan perkara itu, perkara yang dominan adalah pencurian dengan 56 perkara, narkotika dengan 49 perkara, dan perjudian dengan 14 perkara.

Menariknya lagi, perkara perjudian itu melibatkan 110 orang terdakwa. Sebagian besar merupakan terdakwa yang tersangkut judi toto gelap (togel) dan tajen.

Akademisi Hukum, Dewa Gede Sudika Mangku mengungkapkan, hal itu merupakan fenomena yang sangat kontra produktif. Menurutnya pada masa pandemi, pendapatan masyarakat terus merosot. Namun di sisi lain, masyarakat menyisihkan pendapatan mereka untuk bermain judi. Entah itu menebak nomor buntut atau sabung ayam.

Baca Juga:  Menjelang Kuningan dan Tilem Kepitu, Ayam Caru Langka dan Mahal

“Kami khawatir bila masyarakat sekarang ini punya pandangan baru. Takutnya mereka berpikir bahwa dengan berjudi mereka bisa kaya. Iya kalau menang, sedangkan kalau kalah, dampak sosialnya bisa lebih parah. Apalagi judi itu jelas melanggar hukum,” kata Sudika Mangku.

Pria yang juga dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu menyebut, kejahatan perjudian berpotensi memicu sejumlah kejahatan lain. Masyarakat yang kecanduan judi, bisa saja melakukan tindak kejahatan lain. Seperti pencurian. Hal itu pun sempat terjadi di Buleleng.

“Saat kalah berjudi, uang habis, tidak punya pekerjaan, pilihan untuk melakukan tindak pidana itu terbuka. Termasuk melakukan pencurian. Hal ini sebenarnya bisa dicegah dengan memberikan lapangan pekerjaan yang luas dan layak bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara PN Singaraja, Wawan Edi Prastiyo mengungkapkan, secara sosiologi kenaikan trend perkara perjudian bisa disebabkan 2 hal. Pertama, masyarakat menganggap judi sebagai hiburan pada masa pandemi. Kedua, judi dianggap cara cepat menghasilkan uang.

Baca Juga:  Angin Kencang Tumbangkan Beringin, Rumah dan Gudang Hancur

“Cara itu dianggap memberikan pendapatan. Karena tuntutan psikis dan ekonomi, mereka lupa bahwa judi itu juga bentuk kejahatan,” kata Wawan.

Parahnya lagi, kejahatan perjudian bisa memicu sejumlah masalah lain. Diantaranya masalah rumah tangga. Wawan mengungkap, dari 719 perkara perdata yang ditangani PN Singaraja, sebanyak 637 perkara diantaranya adalah perceraian. Salah satu faktor pemicunya adalah ekonomi.

“Ada yang kami temukan, karena judi, jatuh miskin, akhirnya bercerai. Tapi itu hanya beberapa perkara. Lebih dominan itu ekonomi, juga cek cok terus menerus. Padahal sebelum masuk pengadilan, sudah sempat dimediasi di desa. Tapi tidak ada titik temu, akhirnya berlanjut ke pengadilan,” demikian Wawan. 



SINGARAJA – Trend perkara pidana di Pengadilan Negeri Singaraja, menunjukkan pergeseran. Biasanya perkara pidana didominasi oleh perkara pencurian, narkotika, maupun penipuan/ penggelapan. Tapi pada tahun 2021 lalu, trend tersebut berubah. Kali ini perkara kejahatan perjudian atau judi masuk dalam daftar tiga besar perkara pidana yang ditangani PN Singaraja.

Mengacu data PN Singaraja, sepanjang tahun 2021, tercatat ada 213 perkara yang ditangani. Dari ratusan perkara itu, perkara yang dominan adalah pencurian dengan 56 perkara, narkotika dengan 49 perkara, dan perjudian dengan 14 perkara.

Menariknya lagi, perkara perjudian itu melibatkan 110 orang terdakwa. Sebagian besar merupakan terdakwa yang tersangkut judi toto gelap (togel) dan tajen.

Akademisi Hukum, Dewa Gede Sudika Mangku mengungkapkan, hal itu merupakan fenomena yang sangat kontra produktif. Menurutnya pada masa pandemi, pendapatan masyarakat terus merosot. Namun di sisi lain, masyarakat menyisihkan pendapatan mereka untuk bermain judi. Entah itu menebak nomor buntut atau sabung ayam.

Baca Juga:  GTPP Covid-19 Ingatkan “New Normal” Bukan Sebuah Kebebasan

“Kami khawatir bila masyarakat sekarang ini punya pandangan baru. Takutnya mereka berpikir bahwa dengan berjudi mereka bisa kaya. Iya kalau menang, sedangkan kalau kalah, dampak sosialnya bisa lebih parah. Apalagi judi itu jelas melanggar hukum,” kata Sudika Mangku.

Pria yang juga dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu menyebut, kejahatan perjudian berpotensi memicu sejumlah kejahatan lain. Masyarakat yang kecanduan judi, bisa saja melakukan tindak kejahatan lain. Seperti pencurian. Hal itu pun sempat terjadi di Buleleng.

“Saat kalah berjudi, uang habis, tidak punya pekerjaan, pilihan untuk melakukan tindak pidana itu terbuka. Termasuk melakukan pencurian. Hal ini sebenarnya bisa dicegah dengan memberikan lapangan pekerjaan yang luas dan layak bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Juru Bicara PN Singaraja, Wawan Edi Prastiyo mengungkapkan, secara sosiologi kenaikan trend perkara perjudian bisa disebabkan 2 hal. Pertama, masyarakat menganggap judi sebagai hiburan pada masa pandemi. Kedua, judi dianggap cara cepat menghasilkan uang.

Baca Juga:  Menjelang Kuningan dan Tilem Kepitu, Ayam Caru Langka dan Mahal

“Cara itu dianggap memberikan pendapatan. Karena tuntutan psikis dan ekonomi, mereka lupa bahwa judi itu juga bentuk kejahatan,” kata Wawan.

Parahnya lagi, kejahatan perjudian bisa memicu sejumlah masalah lain. Diantaranya masalah rumah tangga. Wawan mengungkap, dari 719 perkara perdata yang ditangani PN Singaraja, sebanyak 637 perkara diantaranya adalah perceraian. Salah satu faktor pemicunya adalah ekonomi.

“Ada yang kami temukan, karena judi, jatuh miskin, akhirnya bercerai. Tapi itu hanya beberapa perkara. Lebih dominan itu ekonomi, juga cek cok terus menerus. Padahal sebelum masuk pengadilan, sudah sempat dimediasi di desa. Tapi tidak ada titik temu, akhirnya berlanjut ke pengadilan,” demikian Wawan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/