alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Arus Mudik, Gilimanuk – Ketapang Dilayani 36 Kapal, 24 Sisanya Off

NEGARA – Untuk menyambut arus mudik Lebaran 2018, semua instansi terkait mulai melakukan persiapan.

PT ASDP Indonesia Ferry yang menjadi ujung tombak kelancaran arus mudik juga sudah menyiapkan kapal-kapal untuk melayani penyebrangan di selat Bali.

Untuk menyambut arus mudik, ASDP menyiapkan 56 kapal. Namun, tidak semua kapal bisa dioperasikan untuk menyeberangkan pemudik.

Setiap hari kapal yang bisa dioperasikan hanya 36. Sisanya 24 kapal tidak bisa dioperasikan karena keterbatasan dermaga.

“Ke 56 kapal yang kita siapkan untuk arus mudik semuanya layak untuk beroprasi. Namun, yang kita operasikan hanya 32 unit,” ujar Manajer Usaha ASDP Pelabuhan Gilimanuk Heru Wahyono kemarin.

24 kapal lainnya tidak dioperasikan karena jumlah dermaga yang ada di pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang hanya tujuh.

Yakni tiga dermaga Movile Brigdge (MB), satu ponton, dan dermaga Landing Craft Macine (LCM) yang bisa disandari tiga kapal.

Baca Juga:  Target Vaksinasi Ketiga Nakes di Tabanan Tuntas Bulan Agustus 2021

Dari 32 kapal yang dioperasikan,  20 kapal bongkar muat di dermaga MB dan Ponton serta 12 kapal di dermaga LCM.

“Setiap hari yang beroperasi 32 kapal, tapi tidak hanya kapal yang itu-itu saja. Kita gilir pengoperasianya sesuai jadwal.

Jika ada kapal yang off atau mengalami kerusakan maka kapal lain akan mengantikanya,”jelasnya.

Jika terjadi lonjakan penumpang  yang cukup padat akan diberlakukan sistim mempercepat bongkar muat. Maksimal bongkar buat dengan waktu 15 sampai 20 menit sudah langsung berangkat.

Begitupula jika terjadi lonjakan pemudik dengan kendaraan sepeda motor, maka masing-masing kapal lebih banyak memuat sepeda motor.

Sehingga antrean sepeda motor tidak panjang. “Kalau terjadi lonjakan yang padat, kapal tetap yang kita operasikan.

Baca Juga:  Sebelum Covid Bandara Ngurah Rai Layani 80.000 Pemudik, Kini Cuma 1000

Hanya bongkar muat yang dipercepat dan memperioritaskan kendaraan mana yang lonjakanya padat,”ungkapnya.

Sebab jika semua kapal dioperasikan, dikhawatirkan akan terjadi krodit. Terutama antrean kapal untuk bersandar di dermaga akan lebih lama atau sama saja memindahkan antrean dari darat ke laut.

“Waktu mengapung kapal akan lebih lama. Itu beresiko menimbulkan kecelakaan laut terutama saat terjadi cuaca buruk. Kita lebih mengutamakan keselamatan,” terangnya,

Untuk  pengoperasian menurut Heru, masih dikaji ulang, lantaran kapal besar akan mengganggu proses sandar kapal kecil lainnya.

“Kapal besar saat sandar itu kan memerlukan tempat untuk dua kapal kecil, jadi sangat mengganggu. Tapi, jika pemerintah mewajibkan untuk pengoperasian kapal besar,

kami akan laksanakan. Yang jelas kami berusaha agar arus mudik lancar, aman dan selamat,” pungkasnya.



NEGARA – Untuk menyambut arus mudik Lebaran 2018, semua instansi terkait mulai melakukan persiapan.

PT ASDP Indonesia Ferry yang menjadi ujung tombak kelancaran arus mudik juga sudah menyiapkan kapal-kapal untuk melayani penyebrangan di selat Bali.

Untuk menyambut arus mudik, ASDP menyiapkan 56 kapal. Namun, tidak semua kapal bisa dioperasikan untuk menyeberangkan pemudik.

Setiap hari kapal yang bisa dioperasikan hanya 36. Sisanya 24 kapal tidak bisa dioperasikan karena keterbatasan dermaga.

“Ke 56 kapal yang kita siapkan untuk arus mudik semuanya layak untuk beroprasi. Namun, yang kita operasikan hanya 32 unit,” ujar Manajer Usaha ASDP Pelabuhan Gilimanuk Heru Wahyono kemarin.

24 kapal lainnya tidak dioperasikan karena jumlah dermaga yang ada di pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang hanya tujuh.

Yakni tiga dermaga Movile Brigdge (MB), satu ponton, dan dermaga Landing Craft Macine (LCM) yang bisa disandari tiga kapal.

Baca Juga:  Target Vaksinasi Ketiga Nakes di Tabanan Tuntas Bulan Agustus 2021

Dari 32 kapal yang dioperasikan,  20 kapal bongkar muat di dermaga MB dan Ponton serta 12 kapal di dermaga LCM.

“Setiap hari yang beroperasi 32 kapal, tapi tidak hanya kapal yang itu-itu saja. Kita gilir pengoperasianya sesuai jadwal.

Jika ada kapal yang off atau mengalami kerusakan maka kapal lain akan mengantikanya,”jelasnya.

Jika terjadi lonjakan penumpang  yang cukup padat akan diberlakukan sistim mempercepat bongkar muat. Maksimal bongkar buat dengan waktu 15 sampai 20 menit sudah langsung berangkat.

Begitupula jika terjadi lonjakan pemudik dengan kendaraan sepeda motor, maka masing-masing kapal lebih banyak memuat sepeda motor.

Sehingga antrean sepeda motor tidak panjang. “Kalau terjadi lonjakan yang padat, kapal tetap yang kita operasikan.

Baca Juga:  Lagi, 33 Travel Bandel Terjaring Razia di Gilimanuk

Hanya bongkar muat yang dipercepat dan memperioritaskan kendaraan mana yang lonjakanya padat,”ungkapnya.

Sebab jika semua kapal dioperasikan, dikhawatirkan akan terjadi krodit. Terutama antrean kapal untuk bersandar di dermaga akan lebih lama atau sama saja memindahkan antrean dari darat ke laut.

“Waktu mengapung kapal akan lebih lama. Itu beresiko menimbulkan kecelakaan laut terutama saat terjadi cuaca buruk. Kita lebih mengutamakan keselamatan,” terangnya,

Untuk  pengoperasian menurut Heru, masih dikaji ulang, lantaran kapal besar akan mengganggu proses sandar kapal kecil lainnya.

“Kapal besar saat sandar itu kan memerlukan tempat untuk dua kapal kecil, jadi sangat mengganggu. Tapi, jika pemerintah mewajibkan untuk pengoperasian kapal besar,

kami akan laksanakan. Yang jelas kami berusaha agar arus mudik lancar, aman dan selamat,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/