alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Ini Analisis PVMBG Terbaru Terkait Kondisi Gunung Agung…

AMLAPURA – Aktifitas Gunung Agung setelah erupsi besar Senin (2/7) malam masih terlihat Selasa (3/7) pagi.

Bahkan, pagi ini terjadi dua kali letupan cukup besar. Pertama terjadi pada pukul 09.28 Wita dengan tinggi kolom abu setinggi 2.000 meter.

Letusan kedua terjadi pada pukul 09.46 Wita dengan kolom abu setinggi 500 meter. Dua kali ini letusan ini melengkapi letusan pada Selasa dini hari pukul 04.13 Wita.

Letusan pagi buta itu menghasilkan kolom setinggi 2.000 meter. Kolom abu berwarna putih kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

“Erupsi disertai dengan amplitude maksimum 21 mm,” ujar Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho di akun twitternya.

Kepala Pusat PVMBG Kementerian ESDM Kasbani kepada wartawan di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, menjelaskan, secara visual,

kejadian erupsi masih terus teramati sejak 27 Juni lalu dengan ketinggian kolom erupsi (gas dan abu) cenderung menurun

namun tidak terlalu signifikan yaitu dari 2500 meter di atas puncak menjadi pada kisaran 200-2000 meter di atas puncak.

Selama erupsi, kata Kasbani, kerap teramati sinar glow atau sinar api. ini menandakan ada material lava segar dengan temparatur tinggi di dalam kawah.

Itu menandakan adanya pergerakan magma ke permukaan bumi. Sementara itu, untuk aktifitas gempa atau seismik masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah (hembusan dan letusan, red).  

Jumlah hembusan dari 28 Juni hingga 2 Juli mengalami penurunan dari 69 per hari menjadi 14 per harinya.

Sekalipun turun, namun jumlah hembusan masih tinggi. Untuk gempa frekuensi tinggi seperti gempa vulkanik dan tektonik sempat terekam sekitar dua kali per hari.

Baca Juga:  Kehabisan Uang, Nekat Jadi Pengedar, Ya Begini Nasibmu Im…

Amplitude siesmik Gunung Agung meningkat tajam pada 28 Juni pukuk 09.00 wita. Dan amplitude siesmik menurun kembali pada 29 Juni pukul 05.00 wita.

Seteleh itu cendrung fluktuatif dan belum menunjukan pola peningkatan yang jelas. Yang perlu diketahui, sebelum terjadi erupsi 28 dan 28 Juni lalu, Gunung Agung mengalami deformasi.

Ini menandakan terjadinya penghembusan atau inflasi di tubuh Gunung Agung dengan uplife mencapai 1 cm.

Tapi, sejak 29 Juni Gunung Agung kembali mengalami penghempisan ata deflasi. Saat ini sistem vulkanik belum sepenuhnya mengalami releksasi.

Pengukuran deformasi masih mengindikasikan kalau pembangunan tekanan magma di kedalaman masih terjadi.

Citra satlit masih menunjukan terjadi erupsi efusif berupa aliran lava ke dalam kawah masih berlangsung hingga sekarang ini.

Sejak 28 Juni sampai 1 Juli lava baru mengalir keluar dari tengah kawah dan menyebar melingkar memenuhi volume kawah.

Volume lava saat ini mencapai 4-5 juta meter kubik. Sebagai catatan, sejak awal 21 November 2017 hingga 1 Juli 2018, volume total kubah lava mencapai 27 sampai 28 juta meter kubik.

Jumlah itu setara 50 persen total volume kawah Gunung Agung. Total volume kawah Gunung Agung sendiri mencapai 60 juta meter kubik.

Ketinggian bibir kawah terendah ada di barat daya dengan kubah lava tertinggi sekitar 85 sampai 90 meter.

 

Citra satelit juga masih merekam adanya hotspot atau titik panas di kawah Gunung Agung terkait aktivitas efusi atau aliran lava.

Pada periode 28 Juni hingga 2 Juli 2018, energi termal cenderung mengalami penurunan dari maksimum 819 Megawatt ke 58 Megawatt.

Meski mengalami penurunan, namun energi termal masih termasuk tinggi. “Saat ini Gunung Agung masih berada pada fase erupsi,” bebernya.

Baca Juga:  Woow…Erupsi, Pendapatan Besakih Lebihi Target, Tembus Rp 2 Miliar

Erupsi yang terjadi pada umumnya bersifat efusif berupa aliran lava yang mengisi kawah dan eksplosif berupa lontaran lava pijar di sekitar kawah maupun erupsi abu.

Artinya kemungkinan untuk terpenuhinya kawah oleh material lava dalam waktu singkat masih rendah karena laju efusi lava saat ini lambat.

”Selain itu aktivitas Gunung Agung dalam kondisi yang berkembang dan belum stabil dan kemungkinan untuk terjadinya erupsi efusif maupun eksplosif masih tinggi,” tegasnya.

Potensi bahaya yang kemungkinan bisa terjadi yakni, bahaya primer. Yang paling mungkin terjadi yaitu berupa lontaran batu atau lava pijar dan jatuhan pasir atau abu lebat di dalam maupun keluar kawah.

Kemungkinan terjadinya hujan abu dengan intensitas lebih rendah dapat melanda jarak yang lebih jauh di mana penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

“Abu vulkanik jika tertahan di udara juga dapat mengancam keselamatan penerbangan. Potensi terjadinya aliran lava ke luar kawah masih rendah karena lava saat ini mengisi kurang dari setengah volume kawah,” paparnya.

Terdapat skenario dimana kubah lava dapat dilontarkan keluar kawah dan membentuk aliran piroklastik atau awan panas.

Namun, menurutnya kemungkinan untuk itu terjadi saat ini masih rendah karena pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung belum signifikan.

Estimasi  potensi bahaya akan terus dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan data pemantauan, dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Dari analisis tersebut pihaknya menegaskan belum mengarah pada peningkatan status Gunung Agung dari level III atau siaga ke level IV awas. Jadi sampai saat ini Gunung Agung masih bebrada di level III.  



AMLAPURA – Aktifitas Gunung Agung setelah erupsi besar Senin (2/7) malam masih terlihat Selasa (3/7) pagi.

Bahkan, pagi ini terjadi dua kali letupan cukup besar. Pertama terjadi pada pukul 09.28 Wita dengan tinggi kolom abu setinggi 2.000 meter.

Letusan kedua terjadi pada pukul 09.46 Wita dengan kolom abu setinggi 500 meter. Dua kali ini letusan ini melengkapi letusan pada Selasa dini hari pukul 04.13 Wita.

Letusan pagi buta itu menghasilkan kolom setinggi 2.000 meter. Kolom abu berwarna putih kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat.

“Erupsi disertai dengan amplitude maksimum 21 mm,” ujar Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho di akun twitternya.

Kepala Pusat PVMBG Kementerian ESDM Kasbani kepada wartawan di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, menjelaskan, secara visual,

kejadian erupsi masih terus teramati sejak 27 Juni lalu dengan ketinggian kolom erupsi (gas dan abu) cenderung menurun

namun tidak terlalu signifikan yaitu dari 2500 meter di atas puncak menjadi pada kisaran 200-2000 meter di atas puncak.

Selama erupsi, kata Kasbani, kerap teramati sinar glow atau sinar api. ini menandakan ada material lava segar dengan temparatur tinggi di dalam kawah.

Itu menandakan adanya pergerakan magma ke permukaan bumi. Sementara itu, untuk aktifitas gempa atau seismik masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah (hembusan dan letusan, red).  

Jumlah hembusan dari 28 Juni hingga 2 Juli mengalami penurunan dari 69 per hari menjadi 14 per harinya.

Sekalipun turun, namun jumlah hembusan masih tinggi. Untuk gempa frekuensi tinggi seperti gempa vulkanik dan tektonik sempat terekam sekitar dua kali per hari.

Baca Juga:  Hujan Abu, Rapel UAS di Pengungsian Tanpa Pengawasan Guru

Amplitude siesmik Gunung Agung meningkat tajam pada 28 Juni pukuk 09.00 wita. Dan amplitude siesmik menurun kembali pada 29 Juni pukul 05.00 wita.

Seteleh itu cendrung fluktuatif dan belum menunjukan pola peningkatan yang jelas. Yang perlu diketahui, sebelum terjadi erupsi 28 dan 28 Juni lalu, Gunung Agung mengalami deformasi.

Ini menandakan terjadinya penghembusan atau inflasi di tubuh Gunung Agung dengan uplife mencapai 1 cm.

Tapi, sejak 29 Juni Gunung Agung kembali mengalami penghempisan ata deflasi. Saat ini sistem vulkanik belum sepenuhnya mengalami releksasi.

Pengukuran deformasi masih mengindikasikan kalau pembangunan tekanan magma di kedalaman masih terjadi.

Citra satlit masih menunjukan terjadi erupsi efusif berupa aliran lava ke dalam kawah masih berlangsung hingga sekarang ini.

Sejak 28 Juni sampai 1 Juli lava baru mengalir keluar dari tengah kawah dan menyebar melingkar memenuhi volume kawah.

Volume lava saat ini mencapai 4-5 juta meter kubik. Sebagai catatan, sejak awal 21 November 2017 hingga 1 Juli 2018, volume total kubah lava mencapai 27 sampai 28 juta meter kubik.

Jumlah itu setara 50 persen total volume kawah Gunung Agung. Total volume kawah Gunung Agung sendiri mencapai 60 juta meter kubik.

Ketinggian bibir kawah terendah ada di barat daya dengan kubah lava tertinggi sekitar 85 sampai 90 meter.

 

Citra satelit juga masih merekam adanya hotspot atau titik panas di kawah Gunung Agung terkait aktivitas efusi atau aliran lava.

Pada periode 28 Juni hingga 2 Juli 2018, energi termal cenderung mengalami penurunan dari maksimum 819 Megawatt ke 58 Megawatt.

Meski mengalami penurunan, namun energi termal masih termasuk tinggi. “Saat ini Gunung Agung masih berada pada fase erupsi,” bebernya.

Baca Juga:  Perintah Menteri Susi Jelas, Usir Nelayan Luar Bali, HNSI Bilang...

Erupsi yang terjadi pada umumnya bersifat efusif berupa aliran lava yang mengisi kawah dan eksplosif berupa lontaran lava pijar di sekitar kawah maupun erupsi abu.

Artinya kemungkinan untuk terpenuhinya kawah oleh material lava dalam waktu singkat masih rendah karena laju efusi lava saat ini lambat.

”Selain itu aktivitas Gunung Agung dalam kondisi yang berkembang dan belum stabil dan kemungkinan untuk terjadinya erupsi efusif maupun eksplosif masih tinggi,” tegasnya.

Potensi bahaya yang kemungkinan bisa terjadi yakni, bahaya primer. Yang paling mungkin terjadi yaitu berupa lontaran batu atau lava pijar dan jatuhan pasir atau abu lebat di dalam maupun keluar kawah.

Kemungkinan terjadinya hujan abu dengan intensitas lebih rendah dapat melanda jarak yang lebih jauh di mana penyebarannya bergantung pada arah dan kecepatan angin.

“Abu vulkanik jika tertahan di udara juga dapat mengancam keselamatan penerbangan. Potensi terjadinya aliran lava ke luar kawah masih rendah karena lava saat ini mengisi kurang dari setengah volume kawah,” paparnya.

Terdapat skenario dimana kubah lava dapat dilontarkan keluar kawah dan membentuk aliran piroklastik atau awan panas.

Namun, menurutnya kemungkinan untuk itu terjadi saat ini masih rendah karena pembangunan tekanan di dalam tubuh Gunung Agung belum signifikan.

Estimasi  potensi bahaya akan terus dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan data pemantauan, dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Dari analisis tersebut pihaknya menegaskan belum mengarah pada peningkatan status Gunung Agung dari level III atau siaga ke level IV awas. Jadi sampai saat ini Gunung Agung masih bebrada di level III.  


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/