alexametrics
25.4 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Kedua Nelayan Hilang Dikenal Pelaut Ulung

RadarBali.com – Dua orang nelayan asal Banjar Dinas Bunut Panggang, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, dilaporkan hilang sejak Senin (31/7) lalu.

Aparat gabungan dari Pos SAR Buleleng, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, serta kepolisian, dikerahkan melakukan pencarian.

Rekan-rekan korban yang tergabung dalam KUB Sinar Bahari juga melaut membantu melakukan penyisiran.

Kedua korban hilang adalah Husni, 32, dan rekannya Abdul Wahid, 25. Mereka berdua dilaporkan berangkat melaut pada pukul 04.00, Senin (31/7) lalu.

Salah satu korban, yakni Husni, dikenal sebagai nelayan tangkap. Ia sudah melaut sejak remaja. Kemampuan itu ia warisi turun temurun.

Sebelum melaut dan akhirnya dinyatakan hilang, Husni pun tetap beraktivitas seperti biasa. Keluarga juga tak pernah mendapat firasat apa pun.

Ditemui di rumahnya kemarin, ayah Husni, Hunaini mengatakan anaknya berangkat pada pukul 04.00 pagi.

Baca Juga:  Mesin Mati Disapu Gelombang Tinggi, Supandi Selamat Berkat Ikuti Arus

“Seperti sebelum-sebelumnya sudah. Saya siapkan makan, minum, lalu saya tinggal tidur. Tidak pernah pamitan atau apa, karena sudah biasa begitu,” kata Hunaini.

Biasanya Husni akan mencari rumpon di tengah laut yang berjarak tiga hingga empat jam perjalanan.

Menjelang malam, sekitar pukul 18.00 atau selambat-lambatnya pukul 22.00, Husni sudah sampai di rumah.

Jika beruntung, hasil tangkapan bisa senilai Rp 2,5 juta. Jika buntung, pulang dengan selamat saja sudah syukur.

Semula Hunaini tidak merasa khawatir, putranya terlambat pulang. “Saya kira dia keasyikan mancing. Tapi teman-temannya bilang tidak ketemu. Baru kemarin sore saya pusing, khawatir anak saya hilang. Bagaimana nasib anak saya di tengah,” katanya lagi.

Baca Juga:  Wabup Buleleng Prediksi Pandemi Covid-19 Capai Puncak Pada Mei - Juni

Sedangkan korban hilang Abdul Wahid, baru menekuni kehidupan sebagai nelayan sejak dua bulan terakhir.

Sebelumnya dia dikenal sebagai teknisi listrik, dan memilih resign karena merasa nyaman dengan kehidupan nelayan.

Sebelum melaut pada Senin dini hari, Wahid sempat diminta tak melaut oleh ayahnya, Hasan Basri. Saat itu Hasan Basri meminta agar Wahid menemani ke perajin perahu.

“Tapi kakak saya tetap ngotot melaut,” ujar Novianti, adik dari korban hilang Abdul Wahid. Keduanya disebut sempat dilihat oleh salah seorang nelayan bernama Andriansyah.

Mereka disebut tengah sibuk mancing di salah satu rumpon. “Ada teman kakak saya yang sempat lihat. Sudah sempat diajak pulang sekitar jam 12.00 hari Senin itu, tapi kakak saya masih mau mancing di rumpon,” imbuh Novianti.



RadarBali.com – Dua orang nelayan asal Banjar Dinas Bunut Panggang, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, dilaporkan hilang sejak Senin (31/7) lalu.

Aparat gabungan dari Pos SAR Buleleng, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, serta kepolisian, dikerahkan melakukan pencarian.

Rekan-rekan korban yang tergabung dalam KUB Sinar Bahari juga melaut membantu melakukan penyisiran.

Kedua korban hilang adalah Husni, 32, dan rekannya Abdul Wahid, 25. Mereka berdua dilaporkan berangkat melaut pada pukul 04.00, Senin (31/7) lalu.

Salah satu korban, yakni Husni, dikenal sebagai nelayan tangkap. Ia sudah melaut sejak remaja. Kemampuan itu ia warisi turun temurun.

Sebelum melaut dan akhirnya dinyatakan hilang, Husni pun tetap beraktivitas seperti biasa. Keluarga juga tak pernah mendapat firasat apa pun.

Ditemui di rumahnya kemarin, ayah Husni, Hunaini mengatakan anaknya berangkat pada pukul 04.00 pagi.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Hadiri Pelebon Almarhum IB Sunartha

“Seperti sebelum-sebelumnya sudah. Saya siapkan makan, minum, lalu saya tinggal tidur. Tidak pernah pamitan atau apa, karena sudah biasa begitu,” kata Hunaini.

Biasanya Husni akan mencari rumpon di tengah laut yang berjarak tiga hingga empat jam perjalanan.

Menjelang malam, sekitar pukul 18.00 atau selambat-lambatnya pukul 22.00, Husni sudah sampai di rumah.

Jika beruntung, hasil tangkapan bisa senilai Rp 2,5 juta. Jika buntung, pulang dengan selamat saja sudah syukur.

Semula Hunaini tidak merasa khawatir, putranya terlambat pulang. “Saya kira dia keasyikan mancing. Tapi teman-temannya bilang tidak ketemu. Baru kemarin sore saya pusing, khawatir anak saya hilang. Bagaimana nasib anak saya di tengah,” katanya lagi.

Baca Juga:  Tepati Janji Politik, 21 Jalan Rusak di Tabanan Segera Di-hotmix

Sedangkan korban hilang Abdul Wahid, baru menekuni kehidupan sebagai nelayan sejak dua bulan terakhir.

Sebelumnya dia dikenal sebagai teknisi listrik, dan memilih resign karena merasa nyaman dengan kehidupan nelayan.

Sebelum melaut pada Senin dini hari, Wahid sempat diminta tak melaut oleh ayahnya, Hasan Basri. Saat itu Hasan Basri meminta agar Wahid menemani ke perajin perahu.

“Tapi kakak saya tetap ngotot melaut,” ujar Novianti, adik dari korban hilang Abdul Wahid. Keduanya disebut sempat dilihat oleh salah seorang nelayan bernama Andriansyah.

Mereka disebut tengah sibuk mancing di salah satu rumpon. “Ada teman kakak saya yang sempat lihat. Sudah sempat diajak pulang sekitar jam 12.00 hari Senin itu, tapi kakak saya masih mau mancing di rumpon,” imbuh Novianti.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/