alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Lagi, Turis Asing Bikin Ulah, Usir Warga Lokal Mandi di Pantai Pemaron

SINGARAJA – Makin banyak saja wisatawan asing yang berulah selama liburan di Bali. Salah satu yang terjadi kesekian di Buleleng adalah melarang warga lokal mandi di pantai.

Kasus terbaru dialami Ketut Suadnyana alias Jem Tatto. Musisi Bulelelng ini dilarang main-main di Pantai Pemaron, Banjar Dauh Marga, Desa Pemaron, Buleleng, oleh bule Prancis bernama Roussel Gil Pascal Andre, 51.

Kasus yang dialami musisi muda Bali ini mirip seperti kejadian yang terjadi di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, beberapa waktu lalu.

Kejadian ini sempat membuat viral dan heboh kalangan netizen di dunia maya akibat dari aksi turis yang melarang warga lokal mandi di pantai.

Beragam komentar pun berdatangan dari pengguna sosial. Pasalnya video pertengkaran wisman Roussel Gil Pascal Andre dengan Jem Tatto juga diuplod di media sosial. 

Baca Juga:  Bangkrut, 23 Koperasi di Buleleng Terancam Dilikuidasi

“Ya, saya dan teman-teman dilarang mandi di pantai oleh Roussel. Kejadiannya hari Minggu (1/9) sore sekitar pukul 17.30 Wita,” ujar Jem Tetto.

Menurut Jem Tetto, kejadian bermula ketika dirinya mencari kayu bakar dipinggir pantai untuk membakar ikan.

Ketika mencari kayu bakar, turis Roussel Gil Pascal Andre keluar dari vilanya dan melarang mereka berada di pantai. 

“Pergi kamu, jangan bakar disini, jangan beraktivitas di pantai ini. Kalau nggak mau saya boleh dong bakar rumah juga,” kata Jem Tatto menirukan perkataan Roussel. 

Singkatnya, adu mulut pun terjadi antara keduanya. Roussel menantang Jem Tatto untuk figthing (adu jotos). Beruntung warga Pemaron yang berada di pinggir pantai berdatangan ke lokasi. 

Baca Juga:  Kok Bisa, Bandara Klaim Kunjungan Turis Asing Naik, Badung Sebut Turun

“Masak untuk sekedar aktivitas di pantai kami dilarang oleh wisman. Masak pantai dan laut ingin di kuasai. Padahal kami warga lokal mendapat hak untuk menikmati pantai Pemaron,” keluh Jem Tatto. 

Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi. Bukan hanya terjadi pada dirinya saja. Tetapi juga ada warga lainnya yang dilarang mandi, mencari ikan laut.

Warga lokal dibuat resah hingga melaporkan kepada pemerintah desa dan pihak imigrasi. Namun tidak ada tanggapan yang serius menyelesaikan masalah ini. 

“Saya berharapan bule tersebut dideportasi oleh pihak Imigrasi Kelas IIB Singarja, karena selalu membuat onar dan resah dengan tindakan yang melarang warga beraktivitas di Pantai Pemaron,” harapnya. 

 



SINGARAJA – Makin banyak saja wisatawan asing yang berulah selama liburan di Bali. Salah satu yang terjadi kesekian di Buleleng adalah melarang warga lokal mandi di pantai.

Kasus terbaru dialami Ketut Suadnyana alias Jem Tatto. Musisi Bulelelng ini dilarang main-main di Pantai Pemaron, Banjar Dauh Marga, Desa Pemaron, Buleleng, oleh bule Prancis bernama Roussel Gil Pascal Andre, 51.

Kasus yang dialami musisi muda Bali ini mirip seperti kejadian yang terjadi di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, beberapa waktu lalu.

Kejadian ini sempat membuat viral dan heboh kalangan netizen di dunia maya akibat dari aksi turis yang melarang warga lokal mandi di pantai.

Beragam komentar pun berdatangan dari pengguna sosial. Pasalnya video pertengkaran wisman Roussel Gil Pascal Andre dengan Jem Tatto juga diuplod di media sosial. 

Baca Juga:  9 Desa di Tejakula Buleleng, Bali Diusulkan Jadi Desa Wisata

“Ya, saya dan teman-teman dilarang mandi di pantai oleh Roussel. Kejadiannya hari Minggu (1/9) sore sekitar pukul 17.30 Wita,” ujar Jem Tetto.

Menurut Jem Tetto, kejadian bermula ketika dirinya mencari kayu bakar dipinggir pantai untuk membakar ikan.

Ketika mencari kayu bakar, turis Roussel Gil Pascal Andre keluar dari vilanya dan melarang mereka berada di pantai. 

“Pergi kamu, jangan bakar disini, jangan beraktivitas di pantai ini. Kalau nggak mau saya boleh dong bakar rumah juga,” kata Jem Tatto menirukan perkataan Roussel. 

Singkatnya, adu mulut pun terjadi antara keduanya. Roussel menantang Jem Tatto untuk figthing (adu jotos). Beruntung warga Pemaron yang berada di pinggir pantai berdatangan ke lokasi. 

Baca Juga:  Bangkrut, 23 Koperasi di Buleleng Terancam Dilikuidasi

“Masak untuk sekedar aktivitas di pantai kami dilarang oleh wisman. Masak pantai dan laut ingin di kuasai. Padahal kami warga lokal mendapat hak untuk menikmati pantai Pemaron,” keluh Jem Tatto. 

Kejadian seperti ini sudah sering kali terjadi. Bukan hanya terjadi pada dirinya saja. Tetapi juga ada warga lainnya yang dilarang mandi, mencari ikan laut.

Warga lokal dibuat resah hingga melaporkan kepada pemerintah desa dan pihak imigrasi. Namun tidak ada tanggapan yang serius menyelesaikan masalah ini. 

“Saya berharapan bule tersebut dideportasi oleh pihak Imigrasi Kelas IIB Singarja, karena selalu membuat onar dan resah dengan tindakan yang melarang warga beraktivitas di Pantai Pemaron,” harapnya. 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/