alexametrics
26.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Disinari Radiasi Nuklir, Beras Merah Munduk Bisa Panen Lebih Cepat

SINGARAJA – Rekayasa genetik terhadap padi beras merah khas Desa Munduk, nampaknya masih memakan waktu lama. Diperkirakan butuh waktu tiga tahun lagi, hingga bibit padi siap ditanam oleh petani. Melalui rekayasa genetik melalui penyinaran radiasi nuklir, padi khas Munduk itu akan panen lebih cepat. 

 

Saat ini Dinas Pertanian Buleleng dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah melakukan rekayasa genetik terhadap padi beras merah khas Desa Munduk. Lewat rekayasa genetik itu, masa panen padi beras merah menjadi lebih singkat. Padi juga diyakini lebih tahan dari hama dan penyakit.

 

Hingga kini proses rekayasa genetik itu baru masuk dalam tahap uji coba kelima. Rabu (3/11), Dinas Pertanian Buleleng melakukan penanaman bibit uji coba M5 di Subak Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan  Sukasada.

 

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, benih padi yang ditanam telah melalui serangkaian rekayasa genetik. Salah satunya penyinaran radiasi nuklir. Rekayasa genetik itu dilakukan oleh tim ahli dari Batan.

 

Setelah melalui proses penanaman, tim akan mempelajari karakter bibit. Selama proses penanaman juga akan dilakukan serangkaian pengujian. Mulai dari uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, uji hama dan penyakit, hingga pengujian mutu.

 

Menurut Sumiarta, hingga percobaan kelima, dampak yang dihasilkan belum terlalu signifikan.

“Salah satu targetnya kan memperpendek waktu panen. Dari 6 bulan, bisa jadi 3-4 bulan. Dari empat kali percobaan, baru berhasil mempersingkat selama 2 minggu saja,” kata Sumiarta.

 

Menurutnya proses pengujian masih akan berlangsung cukup panjang. Sebab ada target-target tertentu yang harus dicapai. Selain waktu panen lebih pendek, padi beras merah juga diharapkan bisa ditanam di seluruh ketinggian.

 

“Selama ini kan masih terbatas. Hanya cocok di Munduk saja. Makanya kami lakukan uji coba di beberapa lokasi, dengan karakter ketinggian yang berbeda. Untuk mengetahui kecocokan bibit. Prosesnya masih sangat panjang. Paling tidak butuh waktu 3 tahun lagi,” kata Sumiarta.

 

Asal tahu saja, rekayasa genetik padi beras merah khas Desa Munduk, telah dilakukan sejak tahun 2019 lalu. Hingga kini, telah dilakukan 5 kali uji coba penanaman terhadap hasil rekayasa genetik itu.

Lewat rekayasa genetik, masa panen bibit padi beras merah diharapkan bisa lebih singkat. Dari tadinya 6 bulan, menjadi 3-4 bulan. Selain itu padi diharapkan bisa ditanam pada ketinggian yang variatif.



SINGARAJA – Rekayasa genetik terhadap padi beras merah khas Desa Munduk, nampaknya masih memakan waktu lama. Diperkirakan butuh waktu tiga tahun lagi, hingga bibit padi siap ditanam oleh petani. Melalui rekayasa genetik melalui penyinaran radiasi nuklir, padi khas Munduk itu akan panen lebih cepat. 

 

Saat ini Dinas Pertanian Buleleng dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) tengah melakukan rekayasa genetik terhadap padi beras merah khas Desa Munduk. Lewat rekayasa genetik itu, masa panen padi beras merah menjadi lebih singkat. Padi juga diyakini lebih tahan dari hama dan penyakit.

 

Hingga kini proses rekayasa genetik itu baru masuk dalam tahap uji coba kelima. Rabu (3/11), Dinas Pertanian Buleleng melakukan penanaman bibit uji coba M5 di Subak Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan  Sukasada.

 

Kepala Dinas Pertanian Buleleng I Made Sumiarta mengatakan, benih padi yang ditanam telah melalui serangkaian rekayasa genetik. Salah satunya penyinaran radiasi nuklir. Rekayasa genetik itu dilakukan oleh tim ahli dari Batan.

 

Setelah melalui proses penanaman, tim akan mempelajari karakter bibit. Selama proses penanaman juga akan dilakukan serangkaian pengujian. Mulai dari uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, uji hama dan penyakit, hingga pengujian mutu.

 

Menurut Sumiarta, hingga percobaan kelima, dampak yang dihasilkan belum terlalu signifikan.

“Salah satu targetnya kan memperpendek waktu panen. Dari 6 bulan, bisa jadi 3-4 bulan. Dari empat kali percobaan, baru berhasil mempersingkat selama 2 minggu saja,” kata Sumiarta.

 

Menurutnya proses pengujian masih akan berlangsung cukup panjang. Sebab ada target-target tertentu yang harus dicapai. Selain waktu panen lebih pendek, padi beras merah juga diharapkan bisa ditanam di seluruh ketinggian.

 

“Selama ini kan masih terbatas. Hanya cocok di Munduk saja. Makanya kami lakukan uji coba di beberapa lokasi, dengan karakter ketinggian yang berbeda. Untuk mengetahui kecocokan bibit. Prosesnya masih sangat panjang. Paling tidak butuh waktu 3 tahun lagi,” kata Sumiarta.

 

Asal tahu saja, rekayasa genetik padi beras merah khas Desa Munduk, telah dilakukan sejak tahun 2019 lalu. Hingga kini, telah dilakukan 5 kali uji coba penanaman terhadap hasil rekayasa genetik itu.

Lewat rekayasa genetik, masa panen bibit padi beras merah diharapkan bisa lebih singkat. Dari tadinya 6 bulan, menjadi 3-4 bulan. Selain itu padi diharapkan bisa ditanam pada ketinggian yang variatif.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/