alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Ini Fakta-fakta Baru Sarkofagus yang Ditemukan di Keramas Gianyar Bali

GIANYAR – Sarkofagus yang ditemukan di Subak Amping, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh sepekan lalu,

menambah koleksi sarkofagus di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, di Jalan Raya Tampaksiring, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh.

Total ada 16 sarkofagus Desa Keramas yang ditemukan sejak 1970-an. Kasi Perlindungan dan Pengembangan BPCB Bali Komang Anik Purniti mengatakan, sarkofagus terbaru yang ditemukan memiliki panjang 111 centimeter (cm) dengan lebar 64 cm.

“Teknologi saat itu sudah baik sekali. Ini lihat mereka harus mencari batu paras gelondongan, lalu diserut,” papar Komang Anik.

“Lihat ini sudutnya, mereka sudah mampu membuat sudut yang rapi. Entah pakai pahat apa, yang jelas saat itu zaman batu,” jelasnya.

Lanjut Komang Anik, saat ini BPCB Bali, melakukan pemilahan terhadap isi dari sarkofagus yang baru ditemukan. Terdiri dari tulang belulang yang dimasukkan ke dalam kardus kecil.

Tulang-tulang itu dipilah berdasarkan ukurannya. Juga ada tulang gigi orang dewasa. Termasuk membungkus 7 gelang perunggu yang sudah korosi dan berwarna kehijauan.

Petugas juga mengambil sampel tanah di dalam sarkofagus itu. “Isi dalamnya sudah campur aduk, sehingga cukup sulit menemukan fakta-fakta terkait,” imbuhnya.

Selanjutnya, untuk merinci temuan itu, menjadi kewenangan Balai Purbakala dan Arkeologi (Balar) Provinsi Bali.

“Tulang ini bisa dites DNA oleh Balar untuk mengetahui kapan waktu meninggal, jenis kelamin dan fakta lain,” ungkapnya.

Tes DNA, kata Komang Anik membutuhkan waktu yang panjang. Pertama-tama harus mengirim sampel tulang ke Jakarta. “Kami sudah koordinasi dengan Balar,” terangnya.

Dengan diameter di dalam ruang sarkofagus yang sempit, diperkirakan cara penguburan jenazah pada zaman itu dilipat atau ditekuk menyerupai posisi orang jongkok atau posisi bayi dalam kandungan.

“Pastinya yang di dalam sarkofagus ini status sosialnya tinggi. Kalau semuanya dimasukkan begini, bisa ada ratusan sarkofagus,” ujar Komang Anik.

Sampai saat ini, koleksi sarkofagus di BPCB berjumlah 32. Ditambah temuan baru di Keramas sepekan lalu, maka total sarkofagus menjadi 33.

Hanya saja, sarkofagus yang baru ditemukan belum mendapat tempat untuk meletakkannya. Dari koleksi yang ada, ada beragam bentuk ditemukan di beberapa desa di Kabupaten Gianyar, Bangli dan Jembrana.

Kebanyakan berbentuk bulat mirip telur, lalu ada berbentuk peti tanpa penutup, ada berbentuk kura-kura raksasa, bahkan ada yang berbentuk vagina. 



GIANYAR – Sarkofagus yang ditemukan di Subak Amping, Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh sepekan lalu,

menambah koleksi sarkofagus di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali, di Jalan Raya Tampaksiring, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh.

Total ada 16 sarkofagus Desa Keramas yang ditemukan sejak 1970-an. Kasi Perlindungan dan Pengembangan BPCB Bali Komang Anik Purniti mengatakan, sarkofagus terbaru yang ditemukan memiliki panjang 111 centimeter (cm) dengan lebar 64 cm.

“Teknologi saat itu sudah baik sekali. Ini lihat mereka harus mencari batu paras gelondongan, lalu diserut,” papar Komang Anik.

“Lihat ini sudutnya, mereka sudah mampu membuat sudut yang rapi. Entah pakai pahat apa, yang jelas saat itu zaman batu,” jelasnya.

Lanjut Komang Anik, saat ini BPCB Bali, melakukan pemilahan terhadap isi dari sarkofagus yang baru ditemukan. Terdiri dari tulang belulang yang dimasukkan ke dalam kardus kecil.

Tulang-tulang itu dipilah berdasarkan ukurannya. Juga ada tulang gigi orang dewasa. Termasuk membungkus 7 gelang perunggu yang sudah korosi dan berwarna kehijauan.

Petugas juga mengambil sampel tanah di dalam sarkofagus itu. “Isi dalamnya sudah campur aduk, sehingga cukup sulit menemukan fakta-fakta terkait,” imbuhnya.

Selanjutnya, untuk merinci temuan itu, menjadi kewenangan Balai Purbakala dan Arkeologi (Balar) Provinsi Bali.

“Tulang ini bisa dites DNA oleh Balar untuk mengetahui kapan waktu meninggal, jenis kelamin dan fakta lain,” ungkapnya.

Tes DNA, kata Komang Anik membutuhkan waktu yang panjang. Pertama-tama harus mengirim sampel tulang ke Jakarta. “Kami sudah koordinasi dengan Balar,” terangnya.

Dengan diameter di dalam ruang sarkofagus yang sempit, diperkirakan cara penguburan jenazah pada zaman itu dilipat atau ditekuk menyerupai posisi orang jongkok atau posisi bayi dalam kandungan.

“Pastinya yang di dalam sarkofagus ini status sosialnya tinggi. Kalau semuanya dimasukkan begini, bisa ada ratusan sarkofagus,” ujar Komang Anik.

Sampai saat ini, koleksi sarkofagus di BPCB berjumlah 32. Ditambah temuan baru di Keramas sepekan lalu, maka total sarkofagus menjadi 33.

Hanya saja, sarkofagus yang baru ditemukan belum mendapat tempat untuk meletakkannya. Dari koleksi yang ada, ada beragam bentuk ditemukan di beberapa desa di Kabupaten Gianyar, Bangli dan Jembrana.

Kebanyakan berbentuk bulat mirip telur, lalu ada berbentuk peti tanpa penutup, ada berbentuk kura-kura raksasa, bahkan ada yang berbentuk vagina. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/