alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Rumah Warga Miskin Jadi Korban Longsor, Sekeluarga Nyaris Tertimbun

SINGARAJA– Musibah tanah longsor kembali terjadi di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Senin dini hari (4/1) sekitar pukul 04.12 WITA.

Satu keluarga nyaris tertimbun material longsor. Peristiwa itu kembali membuka tragedi warga di Desa Mengening atas bencana tanah longsor yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

Terlebih musibah itu sama-sama terjadi di Banjar Dinas Sangker atau tepatnya di wilayah Kelompok IV Tukad Oot, Banjar Dinas Sangker.

Lokasi bencana hanya terpisah sungai saja dari Desa Satra di Kecamatan Bangli.

Rumah yang dihuni oleh Wayan Wardana, 35, tiba-tiba tertimbun longsor. Sebelum longsor, pemilik rumah atau korban sempat mengaku gelisah.

Korban gelisah karena rumahnya terletak di lokasi rawan longsor atau berada di sisi tebing.

Kelian Banjar Dinas Sangker, Made Kastawa saat dihubungi mengatakan, wilayah Desa Mengening diguyur hujan lebat sejak Minggu (3/1) malam atau tepatnya dari pukul 19.00 Wita hingga pukul 22.00 malam.

Sekitar pukul 04.00 dini hari, pemilik rumah yang saat itu tidur bersama anaknya yang berusia 9 tahun, merasakan tembok rumahnya goyang.

Korban pun saat itu segera membangunkan anaknya. Ia lantas membangunkan istri dan anaknya yang berusia sekitar 14 tahun, yang tidur di kamar sebelah.

Baca Juga:  Warga Buleleng Protes Kenaikan Tarif PBB Enam Kali Lipat

“Belum sampai 5 menit keluar rumah, tebing di sebelah rumahnya itu sudah longsor. Memang warga kami ini mengaku tidurnya agak kurang tenang. Pas merasa tembok rumahnya goyang, dia keluar rumah. Dilihat tanahnya sudah mulai gembid (longsor, Red). Makanya dia langsung membangunkan keluarganya. Kalau nggak, bisa kejadian seperti tahun 2019 lalu. Karena satu kamarnya itu sudah habis kena longsor,” kata Kastawa.

Menurut Kastawa wilayah tersebut memang rawan longsor. Di wilayah itu dalam beberapa tahun sudah beberapa kali diterjang longsor.

Bahkan rumah paman korban, almarhum Made Tiasa sempat diterjang batu dengan diameter 1,5 meter pada tahun 2015 lalu.

“Sebenarnya lokasinya memang tidak layak untuk membangun rumah. Tapi karena warga kami ini tidak mampu, dan hanya punya tanah di sana, ya mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Pria yang juga Ketua Relawan Siaga Bencana Desa Mengening itu mengungkapkan, korban merupakan keluarga tidak mampu di Desa Mengening.

Korban tercatat sebagai penerima bantuna Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan pada tahun 2020 lalu, keluarga ini baru menerima bantuan rehabilitasi rumah dari dana desa. Namun rumah yang dihuni keburu mengalami rusak berat karena bencana alam.

Baca Juga:  Sebelum Meninggal Sempat Temui Warga, Ini Sosok Almarhum di Mata Camat

“Sementara terpaksa kami anjurkan mengungsi dulu ke tempat aman. Orang tuanya dan mertuanya masih tinggal di sekitar sana. Tadi juga kami dari warga, relawan, kepolisian, TNI, dan BPBD sudah kerja bakti. Paling tidak setelah musim hujan selesai, baru kami izinkan tinggal di sana lagi. Karena kejadian 2019 itu benar-benar membuat kami trauma,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng Ida Bagus Suadnyana mengatakan, bila melihat peta desa, sebenarnya Desa Mengening tidak masuk dalam zona rawan bencana. Namun bila melihat kondisi dua tahun terakhir, tak menutup kemungkinan BPBD Buleleng akan mengevaluasi peta zona rawan bencana itu.

Lebih lanjut Suadnyana mengatukan, di wilayah tersebut sebenarnya banyak terdapat tanaman cengkih yang cukup menahan lajur air.

“Tapi memang di sana ada bukit yang didekatnya ada tanaman semusim. Makanya rawan juga. Kami sudah lakukan assessment tadi, mudah-mudahan bisa segera dapat bantuan,” tukas Suadnyana.



SINGARAJA– Musibah tanah longsor kembali terjadi di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Senin dini hari (4/1) sekitar pukul 04.12 WITA.

Satu keluarga nyaris tertimbun material longsor. Peristiwa itu kembali membuka tragedi warga di Desa Mengening atas bencana tanah longsor yang terjadi pada tahun 2019 lalu.

Terlebih musibah itu sama-sama terjadi di Banjar Dinas Sangker atau tepatnya di wilayah Kelompok IV Tukad Oot, Banjar Dinas Sangker.

Lokasi bencana hanya terpisah sungai saja dari Desa Satra di Kecamatan Bangli.

Rumah yang dihuni oleh Wayan Wardana, 35, tiba-tiba tertimbun longsor. Sebelum longsor, pemilik rumah atau korban sempat mengaku gelisah.

Korban gelisah karena rumahnya terletak di lokasi rawan longsor atau berada di sisi tebing.

Kelian Banjar Dinas Sangker, Made Kastawa saat dihubungi mengatakan, wilayah Desa Mengening diguyur hujan lebat sejak Minggu (3/1) malam atau tepatnya dari pukul 19.00 Wita hingga pukul 22.00 malam.

Sekitar pukul 04.00 dini hari, pemilik rumah yang saat itu tidur bersama anaknya yang berusia 9 tahun, merasakan tembok rumahnya goyang.

Korban pun saat itu segera membangunkan anaknya. Ia lantas membangunkan istri dan anaknya yang berusia sekitar 14 tahun, yang tidur di kamar sebelah.

Baca Juga:  Diterjang Puting Beliung, Delapan Rumah di Buleleng Bali Rusak Parah

“Belum sampai 5 menit keluar rumah, tebing di sebelah rumahnya itu sudah longsor. Memang warga kami ini mengaku tidurnya agak kurang tenang. Pas merasa tembok rumahnya goyang, dia keluar rumah. Dilihat tanahnya sudah mulai gembid (longsor, Red). Makanya dia langsung membangunkan keluarganya. Kalau nggak, bisa kejadian seperti tahun 2019 lalu. Karena satu kamarnya itu sudah habis kena longsor,” kata Kastawa.

Menurut Kastawa wilayah tersebut memang rawan longsor. Di wilayah itu dalam beberapa tahun sudah beberapa kali diterjang longsor.

Bahkan rumah paman korban, almarhum Made Tiasa sempat diterjang batu dengan diameter 1,5 meter pada tahun 2015 lalu.

“Sebenarnya lokasinya memang tidak layak untuk membangun rumah. Tapi karena warga kami ini tidak mampu, dan hanya punya tanah di sana, ya mau bagaimana lagi,” ungkapnya.

Pria yang juga Ketua Relawan Siaga Bencana Desa Mengening itu mengungkapkan, korban merupakan keluarga tidak mampu di Desa Mengening.

Korban tercatat sebagai penerima bantuna Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan pada tahun 2020 lalu, keluarga ini baru menerima bantuan rehabilitasi rumah dari dana desa. Namun rumah yang dihuni keburu mengalami rusak berat karena bencana alam.

Baca Juga:  Warga Buleleng Protes Kenaikan Tarif PBB Enam Kali Lipat

“Sementara terpaksa kami anjurkan mengungsi dulu ke tempat aman. Orang tuanya dan mertuanya masih tinggal di sekitar sana. Tadi juga kami dari warga, relawan, kepolisian, TNI, dan BPBD sudah kerja bakti. Paling tidak setelah musim hujan selesai, baru kami izinkan tinggal di sana lagi. Karena kejadian 2019 itu benar-benar membuat kami trauma,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng Ida Bagus Suadnyana mengatakan, bila melihat peta desa, sebenarnya Desa Mengening tidak masuk dalam zona rawan bencana. Namun bila melihat kondisi dua tahun terakhir, tak menutup kemungkinan BPBD Buleleng akan mengevaluasi peta zona rawan bencana itu.

Lebih lanjut Suadnyana mengatukan, di wilayah tersebut sebenarnya banyak terdapat tanaman cengkih yang cukup menahan lajur air.

“Tapi memang di sana ada bukit yang didekatnya ada tanaman semusim. Makanya rawan juga. Kami sudah lakukan assessment tadi, mudah-mudahan bisa segera dapat bantuan,” tukas Suadnyana.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/