alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 15, 2022

Bangun Tower di Depan Sekolah, KPPAD Minta Dipindahkan

RadarBali.com – Menindaklanjuti keluhan warga dan juga pemberitaan di Jawa Pos Radar Bali mengenai tower di halaman sekolah,

Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali terjun ke Desa Ketewel Kecamatan Sukawati.

Dua komisioner KPPAD Bali mendatangi SDN 2 Ketewel, menjajaki warga dan bertemu prajuru desa pakraman Lembeng di Ketewel kemarin (3/11).

Komisioner KPPAD Bali Kadek Ariasa menyarankan Dinas Pendidikan dan penyedia tower memindahkan tower yang sudah berdiri menjulang itu.

“Ini belum bentuk rekomendasi KPPAD, ini saran dari kami supaya mencari lokasi lain, jangan di sekolah,” tegas Kadek Ariasa usai meninjau lokasi pembangunan tower di SDN 2 Ketewel.

Menurut Ariasa, lokasi di SD itu sangat membahayakan anak-anak yang sedang mengikuti proses belajar mengajar.

Baca Juga:  Tonton Video Desak Made Darmawati, Anggota DPRD Bali Mengaku Malu

“Apalagi setelah saya tanyai guru-gurunya, katanya disamping tiang tower itu ada sumur. Artinya tanah untuk menahan beban tower itu rentan,” jelasnya.

Pihaknya tidak ingin ke depan ada korban dalam kejadian ini. “Ini saja sudah membuat masyarakat khawatir. Kami juga turun ke rumah-rumah penduduk

kok bertanya kepada orang tuanya siswanya, mereka tidak setuju,” ungkap Ariasa yang juga masuk ke rumah-rumah warga mencari pendapat warga langsung.

Pada prinsipnya, lanjut Ariasa yang juga pria asal Gianyar itu, dia mengajak pihak terkait mencari lokasi pembangunan di luar sekolah.

“Apakah harus di sekolah? Tidak boleh direlokasi ke tempat yang lebih aman?” tanyanya. Ariasa yang biasa mengkoordinir anak-anak di Yayasan Ketut Alon itu menambahkan,

Baca Juga:  Berbekal Rekomendasi, Dewan Minta Tower SDN 2 Ketewel Dibatalkan

psikologis anak-anak bisa terganggu karena terus dihantui tower ini. “Apalagi tower ini akan berdiri tahunan. Kenapa tidak dicari lokasi lain selain sekolah?,” ujarnya heran.

Menurutnya, relokasi tower ini belum terlambat. Itu karena tower belum rampung total, besi di bagian atas tower juga belum terpasang.

“Harus bercermin pada proyek lain. Kasus terakhir, pabrik kembang api. Rekomendasinya untuk gudang, tak ada pengawasan berubah fungsi jadi pabrik kembang api.

Dan, setelah meledak makan korban, baru semua menyesal. Tidak harus begitu, mari antisipasi,” pintanya. 



RadarBali.com – Menindaklanjuti keluhan warga dan juga pemberitaan di Jawa Pos Radar Bali mengenai tower di halaman sekolah,

Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali terjun ke Desa Ketewel Kecamatan Sukawati.

Dua komisioner KPPAD Bali mendatangi SDN 2 Ketewel, menjajaki warga dan bertemu prajuru desa pakraman Lembeng di Ketewel kemarin (3/11).

Komisioner KPPAD Bali Kadek Ariasa menyarankan Dinas Pendidikan dan penyedia tower memindahkan tower yang sudah berdiri menjulang itu.

“Ini belum bentuk rekomendasi KPPAD, ini saran dari kami supaya mencari lokasi lain, jangan di sekolah,” tegas Kadek Ariasa usai meninjau lokasi pembangunan tower di SDN 2 Ketewel.

Menurut Ariasa, lokasi di SD itu sangat membahayakan anak-anak yang sedang mengikuti proses belajar mengajar.

Baca Juga:  Sasar Sampah Plastik, Wabup Kembang Bersih-bersih Pantai Candikusuma

“Apalagi setelah saya tanyai guru-gurunya, katanya disamping tiang tower itu ada sumur. Artinya tanah untuk menahan beban tower itu rentan,” jelasnya.

Pihaknya tidak ingin ke depan ada korban dalam kejadian ini. “Ini saja sudah membuat masyarakat khawatir. Kami juga turun ke rumah-rumah penduduk

kok bertanya kepada orang tuanya siswanya, mereka tidak setuju,” ungkap Ariasa yang juga masuk ke rumah-rumah warga mencari pendapat warga langsung.

Pada prinsipnya, lanjut Ariasa yang juga pria asal Gianyar itu, dia mengajak pihak terkait mencari lokasi pembangunan di luar sekolah.

“Apakah harus di sekolah? Tidak boleh direlokasi ke tempat yang lebih aman?” tanyanya. Ariasa yang biasa mengkoordinir anak-anak di Yayasan Ketut Alon itu menambahkan,

Baca Juga:  Berbekal Rekomendasi, Dewan Minta Tower SDN 2 Ketewel Dibatalkan

psikologis anak-anak bisa terganggu karena terus dihantui tower ini. “Apalagi tower ini akan berdiri tahunan. Kenapa tidak dicari lokasi lain selain sekolah?,” ujarnya heran.

Menurutnya, relokasi tower ini belum terlambat. Itu karena tower belum rampung total, besi di bagian atas tower juga belum terpasang.

“Harus bercermin pada proyek lain. Kasus terakhir, pabrik kembang api. Rekomendasinya untuk gudang, tak ada pengawasan berubah fungsi jadi pabrik kembang api.

Dan, setelah meledak makan korban, baru semua menyesal. Tidak harus begitu, mari antisipasi,” pintanya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/