alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Diklaim Turun, Ternyata Harga Cabai di Pasar Tradisional Masih Tinggi

MANGUPURA – Harga komoditas khususnya cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Badung masih tinggi atau tak kunjung turun. Padahal sudah dikabarkan bahwa harga cabai mestinya sudah turun.

Bahkan per Selasa (4/1) di sejumlah pasar tradisional Badung harga cabai rawit yang sebelumnya menyentuh harga Rp 100.000/kg kini di kisaran Rp 70.000/kg hingga Rp 95.000/kg.  

 

Kabag Perekonomian Kabupaten Badung, AA Sagung Rosyawati mengakui harga cabai rawit di pasar masih tingginya. Kondisi ini terkait pasokan cabai rawit dari luar Bali.

 

“Info yang kami dapat sementara, kalau cabai rawit lebih banyak pasokan dari Jawa. Untuk harga malah tadi kami dapat info dari salah satu pedagang kalau harga cabai mulai turun Rp 50.000/ kg,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kejar Target UHC 2019, RS Negara Dipermak dengan Anggaran Rp 185 M

 

- Advertisement -

Kendati mengalami penurunan, namun harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional masih tergolong tinggi. Seperti di Pasar Tradisional Mengwi harga cabai rawit masih di angka Rp 95.000/kg dan Pasar Blahkiuh mencapai Rp 87.000/kg.

 

“Kami masih mencari tahu dan berkoordinasi dengan dinas terkait kenapa harganya di sejumlah pasar masih tinggi. Padahal, info dari pedagang dan supplier kalau harga sudah turun,” bebernya.

 

Lebih lanjut, kalau dilihat dari siklus tahunan gejolak harga cabai rawit akan terjadi hingga Februari mendatang. Hal ini disebabkan cuaca ekstrim yang mengakibatkan hasil produksi petani menurun atau banyak petani cabai gagal panen.

 

“Biasanya harga cabai akan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari ini, Maret baru ada perubahan. Ini karena cuaca yang mengakibatkan gagal panen,” terangnya.

Baca Juga:  Gereja Santa Maria Ratu Rosari Gianyar Diresmikan

Sementara,  hingga saat ini tidak ada komoditas yang mengalami lonjakan harga yang signifikan. Kecuali cabai rawit yang mengalami lonjakan sejak Desember lantaran faktor cuaca. Guna mengatasi tingginya harga cabai, pihaknya bersama Dinas Pertanian dan Pangan Badung telah turun memantau tanaman cabai. Diketahui, Badung telah memiliki kampung cabai seluas 10 hektare di Subak Abian Sedana Winangun, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang.

- Advertisement -

MANGUPURA – Harga komoditas khususnya cabai rawit di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Badung masih tinggi atau tak kunjung turun. Padahal sudah dikabarkan bahwa harga cabai mestinya sudah turun.

Bahkan per Selasa (4/1) di sejumlah pasar tradisional Badung harga cabai rawit yang sebelumnya menyentuh harga Rp 100.000/kg kini di kisaran Rp 70.000/kg hingga Rp 95.000/kg.  

 

Kabag Perekonomian Kabupaten Badung, AA Sagung Rosyawati mengakui harga cabai rawit di pasar masih tingginya. Kondisi ini terkait pasokan cabai rawit dari luar Bali.

 

“Info yang kami dapat sementara, kalau cabai rawit lebih banyak pasokan dari Jawa. Untuk harga malah tadi kami dapat info dari salah satu pedagang kalau harga cabai mulai turun Rp 50.000/ kg,” ungkapnya.

Baca Juga:  Datang Lebih Awal, Vaksinasi Covid-19 di Jembrana Dimajukan

 

Kendati mengalami penurunan, namun harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional masih tergolong tinggi. Seperti di Pasar Tradisional Mengwi harga cabai rawit masih di angka Rp 95.000/kg dan Pasar Blahkiuh mencapai Rp 87.000/kg.

 

“Kami masih mencari tahu dan berkoordinasi dengan dinas terkait kenapa harganya di sejumlah pasar masih tinggi. Padahal, info dari pedagang dan supplier kalau harga sudah turun,” bebernya.

 

Lebih lanjut, kalau dilihat dari siklus tahunan gejolak harga cabai rawit akan terjadi hingga Februari mendatang. Hal ini disebabkan cuaca ekstrim yang mengakibatkan hasil produksi petani menurun atau banyak petani cabai gagal panen.

 

“Biasanya harga cabai akan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari ini, Maret baru ada perubahan. Ini karena cuaca yang mengakibatkan gagal panen,” terangnya.

Baca Juga:  NEW! Kisruh Dwijendra, Ketua Yayasan Ancam Polisikan Dosen Provokator

Sementara,  hingga saat ini tidak ada komoditas yang mengalami lonjakan harga yang signifikan. Kecuali cabai rawit yang mengalami lonjakan sejak Desember lantaran faktor cuaca. Guna mengatasi tingginya harga cabai, pihaknya bersama Dinas Pertanian dan Pangan Badung telah turun memantau tanaman cabai. Diketahui, Badung telah memiliki kampung cabai seluas 10 hektare di Subak Abian Sedana Winangun, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/