alexametrics
30.4 C
Denpasar
Saturday, May 21, 2022

Perusahaan Sebut Omset turun 60%, Beban Naker Capai Rp300 Juta Sebulan

PULUHAN karyawan di PT. Tirta Mumbul Jaya Abadi (TMJA), mendatangi gedung DPRD Buleleng pada Rabu (5/1) pagi.

Mereka mengadukan nasib mereka di perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan dengan merek Yeh Buleleng itu. Lalu apa respon perusahaan atas keluhan karyawan?

EKA PRASETYA, Buleleng

DIREKTUT Utama PT. Tirta Mumbul Jaya Abadi Nyoman Artha Widnyana saat dikonfirmasi terpisah mengatakan, beban perusahaan selama masa pandemi cukup berat.

Penjualan perusahaan turun hingga 60 persen. Penjualan baru mengalami trend peningkatan pada Desember. Namun tak berhasil menutup beban operasional tetap.

Menurutnya, beban tetap perusahaan untuk tenaga kerja (naker) mencapai Rp 300 juta per bulan.

Sementara perusahaan tidak bisa mengambil langkah melakukan PHK karyawan. Karena likuiditas perusahaan sangat terbatas.

Baca Juga:  Ccckk...Jadi Pemasok Pakaian tapi Minus Paspor, WN Uganda Dideportasi
- Advertisement -

“Mereka semua karyawan tetap, tidak ada buruh harian. Sehingga tidak bisa kami PHK semena-mena. Kami berusaha bertahan, supaya ada harapan. Kami akan berupaya melakukan mediasi dengan staf,” kata Artha.

Seperti diketahui, dalam pengaduannya, karyawan menyebut selama 1,5 tahun terakhir tidak pernah menerima kepastian soal gaji.

Mereka hanya menerima uang kasbon yang jauh di bawah standar gaji. Dalam sepekan mereka hanya menerima bayaran sebesar Rp 200.000 atau Rp 800.000 sebulan. Jumlah itu hanya sepertiga dari upah rata-rata karyawan.

“Kalau dihitung-hitung, sampai sekarang 7 bulan gaji kami belum dibayar perusahaan. Padahal produksi masih jalan. Malah masih ada lembur,” ungkap Nyoman Sumiarta, salah seorang karyawan.

Baca Juga:  Porprov Gotong Royong, Solusi Cekak Anggaran (1)

Pada awal tahun ini, perusahaan disebut melakukan sejumlah efisiensi. Diantaranya memaksa 12 orang karyawan divisi pengiriman melakukan pengunduran diri.

Selain itu akan memangkas gaji hingga 75 persen. Konon hal itu merupakan hasil keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan pada akhir Desember 2021 lalu.

- Advertisement -

PULUHAN karyawan di PT. Tirta Mumbul Jaya Abadi (TMJA), mendatangi gedung DPRD Buleleng pada Rabu (5/1) pagi.

Mereka mengadukan nasib mereka di perusahaan yang memproduksi air minum dalam kemasan dengan merek Yeh Buleleng itu. Lalu apa respon perusahaan atas keluhan karyawan?

EKA PRASETYA, Buleleng

DIREKTUT Utama PT. Tirta Mumbul Jaya Abadi Nyoman Artha Widnyana saat dikonfirmasi terpisah mengatakan, beban perusahaan selama masa pandemi cukup berat.

Penjualan perusahaan turun hingga 60 persen. Penjualan baru mengalami trend peningkatan pada Desember. Namun tak berhasil menutup beban operasional tetap.

Menurutnya, beban tetap perusahaan untuk tenaga kerja (naker) mencapai Rp 300 juta per bulan.

Sementara perusahaan tidak bisa mengambil langkah melakukan PHK karyawan. Karena likuiditas perusahaan sangat terbatas.

Baca Juga:  FIX!Kesurupan Massal di SMA Saraswati Terulang Pasca Tebang Pohon Pule

“Mereka semua karyawan tetap, tidak ada buruh harian. Sehingga tidak bisa kami PHK semena-mena. Kami berusaha bertahan, supaya ada harapan. Kami akan berupaya melakukan mediasi dengan staf,” kata Artha.

Seperti diketahui, dalam pengaduannya, karyawan menyebut selama 1,5 tahun terakhir tidak pernah menerima kepastian soal gaji.

Mereka hanya menerima uang kasbon yang jauh di bawah standar gaji. Dalam sepekan mereka hanya menerima bayaran sebesar Rp 200.000 atau Rp 800.000 sebulan. Jumlah itu hanya sepertiga dari upah rata-rata karyawan.

“Kalau dihitung-hitung, sampai sekarang 7 bulan gaji kami belum dibayar perusahaan. Padahal produksi masih jalan. Malah masih ada lembur,” ungkap Nyoman Sumiarta, salah seorang karyawan.

Baca Juga:  Digugat Cerai Suami, Caleg Terpilih Dapil Klungkung Bilang Begini…

Pada awal tahun ini, perusahaan disebut melakukan sejumlah efisiensi. Diantaranya memaksa 12 orang karyawan divisi pengiriman melakukan pengunduran diri.

Selain itu akan memangkas gaji hingga 75 persen. Konon hal itu merupakan hasil keputusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan pada akhir Desember 2021 lalu.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/