alexametrics
24.8 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Parade Ogoh-ogoh Mendadak Ditiadakan, Pemuda Buleleng Kecewa

SINGARAJA– Sejumlah pemuda yang telah merencanakan membuat ogoh-ogoh pada Tahun Baru Caka 1944, harus gigit jari. Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng dan Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, memutuskan meniadakan pembuatan dan parade ogoh-ogoh.

Keputusan itu diambil setelah Satgas menggelar rapat membahas masalah ogoh-ogoh, Jumat (4/2). Rapat tersebut dilangsungkan di Ruang Rapat Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng. Rapat dipimpin Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa.

Keputusan tersebut berpotensi membuat para pemuda kecewa. Sebab keputusan itu diambil hanya berselang 3 pekan, sebelum ogoh-ogoh diarak. Terlebih beberapa desa telah membuat ogoh-ogoh sejak dua pekan terakhir.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengungkapkan, selama ini seluruh desa adat diberi kesempatan membuat serta melaksanakan parade ogoh-ogoh. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) MDA Bali, serta Surat Penegasan Gubernur Bali.

Baca Juga:  Terungkap, Biar Tak Ketahuan, Tamu Boshe Masuk Lewat Pintu Samping

Namun mencermati kasus dua pekan terakhir, satgas merekomendasikan agar parade ditunda. Menurut Suyasa hal itu sejalan dengan poin 2b yang tercantum dalam Surat Penegasan Gubernur Bali.

“Dalam surat itu jelas disebutkan bahwa ogoh-ogoh dapat dilaksanakan bila kasus covid melandai dan stabil. Sedangkan saat ini, justru dalam posisi yang signifikan lonjakan kasusnya. Sehingga kami antisipasi dengan meminta menunda. Secara resmi penundaan akan disampaikan oleh MDA,” kata Suyasa.

Sementara itu Penyarikan Madya MDA Buleleng Nyoman Westha mengatakan, pihaknya akan segera menyurati seluruh Bendesa Alit MDA di tingkat kecamatan. Surat itu akan diteruskan kepada seluruh Bendesa Adat.

“Kami MDA punya kepentingan juga. Kami himbau agar menunda pembuatan ogoh-ogoh. Agar tidak mengakibatkan kerugian lebih jauh. Kami akan segera bersurat. Harapan kami lewat penundaan ini, covid tidak menyebar dan bisa dicegah,” kata Westha.

Baca Juga:  Menarik, Dua Kali Menolak Jadi Pemangku, Cobaan Datang Bertubi-tubi

Di sisi lain, Bendesa Adat Alapsari, Ketut Suranasa mengatakan, sejak dua pekan terakhir para pemuda di desa adat telah gotong royong membuat ogoh-ogoh. Proses pembuatan ogoh-ogoh itu disebut telah menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta. Penundaan pembuatan ogoh-ogoh diyakini akan membuat para pemuda kecewa.

“Saya kan baru sebatas mendapat informasi via WA. Kalau memang sudah itu keputusan dari MDA kabupaten, ya bagaimana lagi. Kami sekarang tinggal menunggu surat resmi saja dari MDA,” katanya. 



SINGARAJA– Sejumlah pemuda yang telah merencanakan membuat ogoh-ogoh pada Tahun Baru Caka 1944, harus gigit jari. Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Buleleng dan Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, memutuskan meniadakan pembuatan dan parade ogoh-ogoh.

Keputusan itu diambil setelah Satgas menggelar rapat membahas masalah ogoh-ogoh, Jumat (4/2). Rapat tersebut dilangsungkan di Ruang Rapat Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng. Rapat dipimpin Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa.

Keputusan tersebut berpotensi membuat para pemuda kecewa. Sebab keputusan itu diambil hanya berselang 3 pekan, sebelum ogoh-ogoh diarak. Terlebih beberapa desa telah membuat ogoh-ogoh sejak dua pekan terakhir.

Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa mengungkapkan, selama ini seluruh desa adat diberi kesempatan membuat serta melaksanakan parade ogoh-ogoh. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) MDA Bali, serta Surat Penegasan Gubernur Bali.

Baca Juga:  Mimih, Over Haluan, Motor Pengawal Konvoi Sapu Scoopy Hingga Remuk

Namun mencermati kasus dua pekan terakhir, satgas merekomendasikan agar parade ditunda. Menurut Suyasa hal itu sejalan dengan poin 2b yang tercantum dalam Surat Penegasan Gubernur Bali.

“Dalam surat itu jelas disebutkan bahwa ogoh-ogoh dapat dilaksanakan bila kasus covid melandai dan stabil. Sedangkan saat ini, justru dalam posisi yang signifikan lonjakan kasusnya. Sehingga kami antisipasi dengan meminta menunda. Secara resmi penundaan akan disampaikan oleh MDA,” kata Suyasa.

Sementara itu Penyarikan Madya MDA Buleleng Nyoman Westha mengatakan, pihaknya akan segera menyurati seluruh Bendesa Alit MDA di tingkat kecamatan. Surat itu akan diteruskan kepada seluruh Bendesa Adat.

“Kami MDA punya kepentingan juga. Kami himbau agar menunda pembuatan ogoh-ogoh. Agar tidak mengakibatkan kerugian lebih jauh. Kami akan segera bersurat. Harapan kami lewat penundaan ini, covid tidak menyebar dan bisa dicegah,” kata Westha.

Baca Juga:  Prajuru Jagatnatha Lakukan Melasti Ngubeng

Di sisi lain, Bendesa Adat Alapsari, Ketut Suranasa mengatakan, sejak dua pekan terakhir para pemuda di desa adat telah gotong royong membuat ogoh-ogoh. Proses pembuatan ogoh-ogoh itu disebut telah menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta. Penundaan pembuatan ogoh-ogoh diyakini akan membuat para pemuda kecewa.

“Saya kan baru sebatas mendapat informasi via WA. Kalau memang sudah itu keputusan dari MDA kabupaten, ya bagaimana lagi. Kami sekarang tinggal menunggu surat resmi saja dari MDA,” katanya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/