alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Stok Makanan Menipis, Kawanan Kera Berkeliaran di Pura Goa Lawah

SEMARAPURA – Pura Goa Lawah merupakan salah satu pura di Kabupaten yang banyak dikunjungi umat Hindu untuk bersembahyang dan juga wisatawan mancanegara untuk berwisata.

Hanya saja sejak virus corona mewabah, pura itu ditutup untuk kunjungan wisatawan mancanegara. Tidak hanya itu, jumlah umat yang melakukan persembahyangan pun dibatasi.

Namun begitu, pengayah dan panitia Pura Goa Lawah tetap sibuk menjaga pura tersebut lantaran adanya kawanan kera yang berkeliaran di sekitar pura.

Salah seorang panitia Pura Goa Lawah, I Putu Juliadi, membenarkan hal itu. Dituturkannya, habitat dari kera-kera itu berada di Bukit Tengah, Desa Pesinggahan, tepatnya di atas Pura Goa Lawah.

Sejak musim kemarau terjadi di wilayah tersebut, kera-kera itu kesulitan mendapatkan makanan.

Baca Juga:  Pertama Kali Muncul 2019, Turun ke Pura Saat Purnama dan Pujawali

“Biasanyakan ada pisang, ketela, sirsak dan lainnya yang tumbuh di bukit itu. Tapi sejak kemarau, kera-kera ini sulit mencari makanan,” ungkapnya.

Lantaran itulah, kawanan kera yang jumlahnya sekitar 30-40 ekor pun turun ke kaki bukit. Sasaran kawanan kera itu adalah Pura Goa Lawah, rumah warga dan sekitarnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya perusakan pelinggih atau ornamen pura oleh kawanan kera, para pengayah dan panitia pura terus memantau pergerakan kera.

Uniknya, kawanan kera itu akan datang ke rumah warga ketika mencium bau dupa. Seolah mereka mengerti ketika ada bau dupa, maka ada sarana persembahan yang telah diaturkan dan bisa mereka makan.

“Kalau ada pemedek (umat Hindu) yang sembahyang di Pura Goa Lawah, biasanya kera-kera ini akan berada di sekitar pura.

Baca Juga:  Siapkan Ruang Isolasi, Pasien Positif Bertambah, RS Klungkung Overload

Saat pemedek meninggalkan pura, baru mereka turun dan mengambil lungsuran yang ditinggalkan pemedek,” jelasnya.

Pihaknya mengungkapkan wabah corona ini sangat memberi dampak bagi warganya yang selama ini mencari nafkah di sekitar pura.

Seperti pedagang canang, makanan ringan dan suvenir. Lantaran pendapatan yang merosot tajam, mereka akhirnya beralih profesi

sebagai pedang sate dan juga melaut. “Kondisi ini sangat mempengaruhi kondisi ekonomi warga,” tandasnya.



SEMARAPURA – Pura Goa Lawah merupakan salah satu pura di Kabupaten yang banyak dikunjungi umat Hindu untuk bersembahyang dan juga wisatawan mancanegara untuk berwisata.

Hanya saja sejak virus corona mewabah, pura itu ditutup untuk kunjungan wisatawan mancanegara. Tidak hanya itu, jumlah umat yang melakukan persembahyangan pun dibatasi.

Namun begitu, pengayah dan panitia Pura Goa Lawah tetap sibuk menjaga pura tersebut lantaran adanya kawanan kera yang berkeliaran di sekitar pura.

Salah seorang panitia Pura Goa Lawah, I Putu Juliadi, membenarkan hal itu. Dituturkannya, habitat dari kera-kera itu berada di Bukit Tengah, Desa Pesinggahan, tepatnya di atas Pura Goa Lawah.

Sejak musim kemarau terjadi di wilayah tersebut, kera-kera itu kesulitan mendapatkan makanan.

Baca Juga:  Pertama Kali Muncul 2019, Turun ke Pura Saat Purnama dan Pujawali

“Biasanyakan ada pisang, ketela, sirsak dan lainnya yang tumbuh di bukit itu. Tapi sejak kemarau, kera-kera ini sulit mencari makanan,” ungkapnya.

Lantaran itulah, kawanan kera yang jumlahnya sekitar 30-40 ekor pun turun ke kaki bukit. Sasaran kawanan kera itu adalah Pura Goa Lawah, rumah warga dan sekitarnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya perusakan pelinggih atau ornamen pura oleh kawanan kera, para pengayah dan panitia pura terus memantau pergerakan kera.

Uniknya, kawanan kera itu akan datang ke rumah warga ketika mencium bau dupa. Seolah mereka mengerti ketika ada bau dupa, maka ada sarana persembahan yang telah diaturkan dan bisa mereka makan.

“Kalau ada pemedek (umat Hindu) yang sembahyang di Pura Goa Lawah, biasanya kera-kera ini akan berada di sekitar pura.

Baca Juga:  Positif Covid-19 di Jembrana Jadi 9 Orang, Merata di Semua Kecamatan

Saat pemedek meninggalkan pura, baru mereka turun dan mengambil lungsuran yang ditinggalkan pemedek,” jelasnya.

Pihaknya mengungkapkan wabah corona ini sangat memberi dampak bagi warganya yang selama ini mencari nafkah di sekitar pura.

Seperti pedagang canang, makanan ringan dan suvenir. Lantaran pendapatan yang merosot tajam, mereka akhirnya beralih profesi

sebagai pedang sate dan juga melaut. “Kondisi ini sangat mempengaruhi kondisi ekonomi warga,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/