alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Banyak Petani di Gianyar Tak Ikut Asuransi Usaha Tani

GIANYAR– Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk menjamin gagal panen rupanya belum banyak diminati para petani di Gianyar.

 

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Gianyar, I Nyoman Budi Hartanto, menyatakan belum semua petani ikut program yang sedang digalakkan oleh pemerintah pusat tersebut.

 

“Di Gianyar tercatat sebanyak 28.343 petani. Tapi belum semua ikut,” ujarnya, Rabu (5/5).

 

Menurutnya, iuran asuransi tidak terlalu mahal. Jumlahnya Rp 36 ribu per 1 hektar lahan pertanian setiap musim tanam.

- Advertisement -

 

“Pemerintah mensubsidi Rp 144.000. Pembayaran premi dilakukan 30 hari sebelum atau setelah masa tanam,” jelasnya.

 

Dengan asuransi itu, kata dia, memberikan rasa aman bagi petani.

 

Manfaat asuransi sudah dirasakan sejumlah petani di Kecamatan Tegallalang, Tampaksiring dan Gianyar yang sempat mengalami gagal panen.

 

“Di Tegallalang pernah gagal panen seluas 46,47 hektar. Di Gianyar 1 hektar dan Tampaksiring 3,14 hektar. Sudah dibayarkan klaimnya,” bebernya.

Baca Juga:  PPKM Level 3 Batal dan Ganti Nama, Virolog Tuding Pemerintah Bingung

 

Klaim dibayarkan Rp 6 juta per hektar lahan gagal panen. Sebelum pencairan klaim, lanjut dia, terlebih dahulu dilakukan pengecekan lokasi oleh tim khusus.

 

“Dari dinas laporkan ke pihak asuransi. Laporan serangan hama, nanti ada tim yang cek ke lokasi. Untuk yang di Tegallalang itu kena serangan blast,” jelasnya.

 

Lanjut dia, Blast menyerang padi usia 60 hari. Ciri-ciri nya, tanaman padi tanpa bulir atau buah.

“Padinya hampa atau puyung (kosong, red). Disebabkan oleh bakteri, jamur dan tikus,” jelasnya.

 

Lebih lanjut dikatakan, klaim senilai Rp 6 juta per hektar akan cair apabila terdapat kerusakan padi ditemukan di atas 75 persen.

 

Apabila di bawah persentase tersebut, ada upaya penanggulangan terlebih dahulu. “Kalau tidak bisa dengan pestisida dan obat Pertanian, baru dapat asuransi,” paparnya.

Baca Juga:  Dipiloti WNA, Helikopter Mendarat Darurat di Abang Karangasem

 

Berkaca dari kasus tersebut, kini petani sudah bisa menanam lagi. “Sudah nanam lagi. Sementara tidak ada laporan. Mudah-mudahan normal,” ujarnya.

 

Bagi petani yang tertarik mengikuti asuransi, harus terdaftar di Kelompok Tani (Poktan). Selanjutnya, Poktan mendaftar ke Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) setempat.

 

Nantinya pendaftaran oleh PPL dan PT Jasindo akan melakukan verifikasi teknis. Sesudah itu, penagihan premi, lalu melakukan pembayaran premi dan penerbitan polis AUTP.

 

Sedangkan langkah untuk mendapatkan klaim di antaranya. Pertama, Poktan melaporkan terjadinya kerusakan ke petugas, dengan catatan umur padi sudah melewati 10 hari dari masa tanam.

 

Kedua, petugas bersama Poktan mengisi form AUTP-6.

 

Ketiga, petugas bersama PT Jasindo melakukan pemeriksaan.

 

Langkah keempat, pembuatan berita acara hasil pemeriksaan (Form AUTP-7). Dan yang kelima, pencairan klaim melalui rekening Poktan. 

- Advertisement -

GIANYAR– Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk menjamin gagal panen rupanya belum banyak diminati para petani di Gianyar.

 

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Gianyar, I Nyoman Budi Hartanto, menyatakan belum semua petani ikut program yang sedang digalakkan oleh pemerintah pusat tersebut.

 

“Di Gianyar tercatat sebanyak 28.343 petani. Tapi belum semua ikut,” ujarnya, Rabu (5/5).

 

Menurutnya, iuran asuransi tidak terlalu mahal. Jumlahnya Rp 36 ribu per 1 hektar lahan pertanian setiap musim tanam.

 

“Pemerintah mensubsidi Rp 144.000. Pembayaran premi dilakukan 30 hari sebelum atau setelah masa tanam,” jelasnya.

 

Dengan asuransi itu, kata dia, memberikan rasa aman bagi petani.

 

Manfaat asuransi sudah dirasakan sejumlah petani di Kecamatan Tegallalang, Tampaksiring dan Gianyar yang sempat mengalami gagal panen.

 

“Di Tegallalang pernah gagal panen seluas 46,47 hektar. Di Gianyar 1 hektar dan Tampaksiring 3,14 hektar. Sudah dibayarkan klaimnya,” bebernya.

Baca Juga:  Dipiloti WNA, Helikopter Mendarat Darurat di Abang Karangasem

 

Klaim dibayarkan Rp 6 juta per hektar lahan gagal panen. Sebelum pencairan klaim, lanjut dia, terlebih dahulu dilakukan pengecekan lokasi oleh tim khusus.

 

“Dari dinas laporkan ke pihak asuransi. Laporan serangan hama, nanti ada tim yang cek ke lokasi. Untuk yang di Tegallalang itu kena serangan blast,” jelasnya.

 

Lanjut dia, Blast menyerang padi usia 60 hari. Ciri-ciri nya, tanaman padi tanpa bulir atau buah.

“Padinya hampa atau puyung (kosong, red). Disebabkan oleh bakteri, jamur dan tikus,” jelasnya.

 

Lebih lanjut dikatakan, klaim senilai Rp 6 juta per hektar akan cair apabila terdapat kerusakan padi ditemukan di atas 75 persen.

 

Apabila di bawah persentase tersebut, ada upaya penanggulangan terlebih dahulu. “Kalau tidak bisa dengan pestisida dan obat Pertanian, baru dapat asuransi,” paparnya.

Baca Juga:  Pemkab-Kejari Jembrana Gelar Sosialisasi Penerangan & Penyuluhan Hukum

 

Berkaca dari kasus tersebut, kini petani sudah bisa menanam lagi. “Sudah nanam lagi. Sementara tidak ada laporan. Mudah-mudahan normal,” ujarnya.

 

Bagi petani yang tertarik mengikuti asuransi, harus terdaftar di Kelompok Tani (Poktan). Selanjutnya, Poktan mendaftar ke Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) setempat.

 

Nantinya pendaftaran oleh PPL dan PT Jasindo akan melakukan verifikasi teknis. Sesudah itu, penagihan premi, lalu melakukan pembayaran premi dan penerbitan polis AUTP.

 

Sedangkan langkah untuk mendapatkan klaim di antaranya. Pertama, Poktan melaporkan terjadinya kerusakan ke petugas, dengan catatan umur padi sudah melewati 10 hari dari masa tanam.

 

Kedua, petugas bersama Poktan mengisi form AUTP-6.

 

Ketiga, petugas bersama PT Jasindo melakukan pemeriksaan.

 

Langkah keempat, pembuatan berita acara hasil pemeriksaan (Form AUTP-7). Dan yang kelima, pencairan klaim melalui rekening Poktan. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/