alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 11, 2022

Sebut Covid-19 Gering Agung, Koster Ajak Krama Kembali Beraktivitas

AMLAPURA – Pandemi Covid-19 di Bali telah menimbulkan dampak luas dalam berbagai bidang kehidupan kesehatan, sosial, dan ekonomi termasuk pariwisata.

Dampak itu telah dirasakan oleh masyarakat sejak pandemi ini muncul empat bulan lalu. Selama pandemi berlangsung, seluruh masyarakat tidak dapat melaksanakan aktivitas secara normal.

Masyarakat terpaksa bekerja dari rumah, belajar dari rumah, berdoa di rumah, tidak boleh berkerumun, dan berbagai pembatasan aktivitas lainnya di luar rumah.

Untuk menangani pandemi Covid-19, seluruh komponen masyarakat telah bergerak Bersama. Kerjasama apik itu ditandai dengan terkendalinya kasus positif baru, tingkat kesembuhan yang tinggi, dan jumlah yang meninggal relatif kecil.

“Oleh karena itu, kita harus terus berupaya dengan sebaik-baiknya menangani Covid-19, seraya dalam waktu bersamaan kita mesti mulai melakukan aktivitas demi keberlangsungan

Baca Juga:  Catat!!DCS Masih Berpeluang Dicoret

kehidupan masyarakat. Aktivitas ini harus dilakukan secara bertahap, selektif, dan terbatas dengan melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru untuk

Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19,” kata Gubernur Koster usai persembahyangan Upacara Yadnya Pamahayu Jagat di Pura Agung Besakih, Karangasem.

Koster menambahkan, wabah Covid-19 saat ini, merupakan salah satu jenis gering, yang cakupan penularannya mendunia dengan tingkat infeksi yang tinggi sehingga disebut Gering Agung.

Ia menambahkan wabah sebagai penanda adanya ketidakharmonisan/ ketidak-seimbangan alam beserta isinya pada tingkatan berbahaya akibat ulah manusia yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasar nilai-nilai kearifan lokal.

“Bahwa hidup harus menyatu dengan alam, yaitu manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi.

Baca Juga:  Bupati Suwirta Pantau Kondisi Warganya yang Dikarantina

Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam,” kata Gubernur asal desa tua bernama Desa Sembiran, Buleleng ini.

Gubernur Koster mengatakan, pandemi COVID-19 mesti dimaknai secara positif sebagai proses alam, dari situasi negatif-berbahaya untuk mencapai kondisi di titik nol,

sebagai pondasi menuju suatu keseimbangan baru yang akan menjadi tatanan kehidupan baru secara holistik dalam Era Baru.



AMLAPURA – Pandemi Covid-19 di Bali telah menimbulkan dampak luas dalam berbagai bidang kehidupan kesehatan, sosial, dan ekonomi termasuk pariwisata.

Dampak itu telah dirasakan oleh masyarakat sejak pandemi ini muncul empat bulan lalu. Selama pandemi berlangsung, seluruh masyarakat tidak dapat melaksanakan aktivitas secara normal.

Masyarakat terpaksa bekerja dari rumah, belajar dari rumah, berdoa di rumah, tidak boleh berkerumun, dan berbagai pembatasan aktivitas lainnya di luar rumah.

Untuk menangani pandemi Covid-19, seluruh komponen masyarakat telah bergerak Bersama. Kerjasama apik itu ditandai dengan terkendalinya kasus positif baru, tingkat kesembuhan yang tinggi, dan jumlah yang meninggal relatif kecil.

“Oleh karena itu, kita harus terus berupaya dengan sebaik-baiknya menangani Covid-19, seraya dalam waktu bersamaan kita mesti mulai melakukan aktivitas demi keberlangsungan

Baca Juga:  I Wayan Jarum Gantung Diri karena Depresi Sakit Tak Kunjung Sembuh

kehidupan masyarakat. Aktivitas ini harus dilakukan secara bertahap, selektif, dan terbatas dengan melaksanakan Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru untuk

Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19,” kata Gubernur Koster usai persembahyangan Upacara Yadnya Pamahayu Jagat di Pura Agung Besakih, Karangasem.

Koster menambahkan, wabah Covid-19 saat ini, merupakan salah satu jenis gering, yang cakupan penularannya mendunia dengan tingkat infeksi yang tinggi sehingga disebut Gering Agung.

Ia menambahkan wabah sebagai penanda adanya ketidakharmonisan/ ketidak-seimbangan alam beserta isinya pada tingkatan berbahaya akibat ulah manusia yang tidak melaksanakan tata kehidupan berdasar nilai-nilai kearifan lokal.

“Bahwa hidup harus menyatu dengan alam, yaitu manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang menguripi.

Baca Juga:  Bupati Suwirta Pantau Kondisi Warganya yang Dikarantina

Hidup harus menghormati alam, alam ibarat orang tua, oleh karena itu hidup harus mengasihi alam,” kata Gubernur asal desa tua bernama Desa Sembiran, Buleleng ini.

Gubernur Koster mengatakan, pandemi COVID-19 mesti dimaknai secara positif sebagai proses alam, dari situasi negatif-berbahaya untuk mencapai kondisi di titik nol,

sebagai pondasi menuju suatu keseimbangan baru yang akan menjadi tatanan kehidupan baru secara holistik dalam Era Baru.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/