alexametrics
28.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Sebelum Dibangun Jembatan, Ada Tiga Warga Hanyut saat Seberangi Sungai

TABANAN – Jembatan gantung penghubung antar Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebonjero Kangin, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan tak kini dapat dilalui warga setempat.

 

Itu setelah jembatan gantung itu diterjang air bah atau air blabar saat hujan deras, yang terjadi Rabu (3/11). Ternyata, jembatan itu dibangun tahun 2000 lalu. Itu setelah adanya tiga warga hanyut karena menyeberang di sungai tanpa jembatan.

 

Perbekel Kebon Padangan I Made Arif Hartawan menjelaskan, akibat putusnya jembatan gantung yang melintas di Tukad (Sungai) Yeh Ho, itu aktivitas perekonomian dan pengangkutan hasil pertanian masyarakat tersendat.

 

“Jembatan dengan panjang 24 meter dengan lebar 1,5 meter tak bisa difungsi sama sekali oleh warga. Hanya bisa menunggu perbaikan dari pemerintah daerah,” ungkapnya, Kamis (4/11).

 

Dia menambahkan sebelumnya warga yang memanfaatkan jembatan gantung untuk melakukan aktivitas apapun. Akibat jembatan yang terputus tersebut terpaksa warga harus memutar untuk menuju wilayah desa lainnya atau pusat wilayah kecamatan Pupuan. Dengan dengan menempuh jarak sekitar 20 meter.

Baca Juga:  Meninggal Karena Sakit, Perbekel Kerambitan di-PAW

 

“Kalau dulu dengan jembatan ini hanya 6 menit, tapi sekarang harus memutar jadinya. Untuk menuju ke arah Desa Pupuan. Warga harus melintas Desa Munduktemu. Dengan jarak lebih jauh sekitar 20 kilometer yang memakan waktu sekitar 40 menitan,” ujarnya.

 

Arif mengatakan, sebetulnya sudah ada usulan jembatan permanen agar memudahkan aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan ini.

 

Pihaknya bersama warga setempat sudah membuatkan akses baru. Pihaknya juga sempat mengusulkan ke pihak DPRD Tabanan dari Dapil Pupuan, I Gusti Nyoman Omardani dan dilanjutkan ke Gubernur Bali. Namun, jika ada bantuan kemungkinan akan dibuatkan jembatan sementara dengan konsep jembatan gantung seperti sebelumnya.

 

“Kemarin sempat reka-reka, biaya yang diperlukan untuk pembuatan jembatan permanen sekitar Rp5-7 Miliar. Sekarang kami masih menunggu dulu, harapan kami sih segera direalisasikan agar ekonomi masyarakat bisa kembali normal dan kendaraan roda empat juga bisa masuk,” harapnya.

Baca Juga:  Baru Kelar Dibangun TNI, Jembatan Gantung Putus Diterjang Air Bah

 

Made Arif menegaskan, jembatan gantung ini dibangun Tahun 2000 secara swadaya dari masyarakat. Warga berinisiatif membangun jembatan gantung yang menghubungkan Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebonjero Kangin, Desa Munduktemu.

 

Bukan tanpa alasan sebab dulunya ada sekitar tiga orang warga yang menyeberang sungai justru hanyut. Sehingga masyarakat bersama Kelompok Tani Kudungan secara swadaya bergerak membangun jembatan.

 

“Terakhir ada 3 orang (hanyut), saat melewati sungai itu tiba-tiba air bah datang sehingga hanyut. Sehingga setelah itu, jembatan gantung ini dibuat,” ungkapnya. 

 

Pihaknya berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah terhadap jembatan gantung yang putus. Karena jembatan ini diperuntukkan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan, misalnya usaha jual beli janur dan hasil pertanian lainnya seperti kakao.

 

“Yang kami harapkan sekarang semoga ada bantuan untuk jembatan sementara sehingga akses untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan bisa kembali normal tanpa harus memutar balik,” tandasnya.


TABANAN – Jembatan gantung penghubung antar Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebonjero Kangin, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan tak kini dapat dilalui warga setempat.

 

Itu setelah jembatan gantung itu diterjang air bah atau air blabar saat hujan deras, yang terjadi Rabu (3/11). Ternyata, jembatan itu dibangun tahun 2000 lalu. Itu setelah adanya tiga warga hanyut karena menyeberang di sungai tanpa jembatan.

 

Perbekel Kebon Padangan I Made Arif Hartawan menjelaskan, akibat putusnya jembatan gantung yang melintas di Tukad (Sungai) Yeh Ho, itu aktivitas perekonomian dan pengangkutan hasil pertanian masyarakat tersendat.

 

“Jembatan dengan panjang 24 meter dengan lebar 1,5 meter tak bisa difungsi sama sekali oleh warga. Hanya bisa menunggu perbaikan dari pemerintah daerah,” ungkapnya, Kamis (4/11).

 

Dia menambahkan sebelumnya warga yang memanfaatkan jembatan gantung untuk melakukan aktivitas apapun. Akibat jembatan yang terputus tersebut terpaksa warga harus memutar untuk menuju wilayah desa lainnya atau pusat wilayah kecamatan Pupuan. Dengan dengan menempuh jarak sekitar 20 meter.

Baca Juga:  Masih Temukan Penumpang Tanpa Suket Bebas Covid-19 di Padangbai

 

“Kalau dulu dengan jembatan ini hanya 6 menit, tapi sekarang harus memutar jadinya. Untuk menuju ke arah Desa Pupuan. Warga harus melintas Desa Munduktemu. Dengan jarak lebih jauh sekitar 20 kilometer yang memakan waktu sekitar 40 menitan,” ujarnya.

 

Arif mengatakan, sebetulnya sudah ada usulan jembatan permanen agar memudahkan aktivitas ekonomi masyarakat yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan ini.

 

Pihaknya bersama warga setempat sudah membuatkan akses baru. Pihaknya juga sempat mengusulkan ke pihak DPRD Tabanan dari Dapil Pupuan, I Gusti Nyoman Omardani dan dilanjutkan ke Gubernur Bali. Namun, jika ada bantuan kemungkinan akan dibuatkan jembatan sementara dengan konsep jembatan gantung seperti sebelumnya.

 

“Kemarin sempat reka-reka, biaya yang diperlukan untuk pembuatan jembatan permanen sekitar Rp5-7 Miliar. Sekarang kami masih menunggu dulu, harapan kami sih segera direalisasikan agar ekonomi masyarakat bisa kembali normal dan kendaraan roda empat juga bisa masuk,” harapnya.

Baca Juga:  Ni Nyoman Tambir Ditemukan Tewas dalam Kondisi Sudah Mengenaskan

 

Made Arif menegaskan, jembatan gantung ini dibangun Tahun 2000 secara swadaya dari masyarakat. Warga berinisiatif membangun jembatan gantung yang menghubungkan Banjar Galiukir Kelod, Desa Kebon Padangan dengan Banjar Kebonjero Kangin, Desa Munduktemu.

 

Bukan tanpa alasan sebab dulunya ada sekitar tiga orang warga yang menyeberang sungai justru hanyut. Sehingga masyarakat bersama Kelompok Tani Kudungan secara swadaya bergerak membangun jembatan.

 

“Terakhir ada 3 orang (hanyut), saat melewati sungai itu tiba-tiba air bah datang sehingga hanyut. Sehingga setelah itu, jembatan gantung ini dibuat,” ungkapnya. 

 

Pihaknya berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah terhadap jembatan gantung yang putus. Karena jembatan ini diperuntukkan untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan, misalnya usaha jual beli janur dan hasil pertanian lainnya seperti kakao.

 

“Yang kami harapkan sekarang semoga ada bantuan untuk jembatan sementara sehingga akses untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan bisa kembali normal tanpa harus memutar balik,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/