alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Memohon Keturunan di Tirta Bulan dengan Tulus Diyakini Terkabul

Pura Tirta Bulan di Banjar Negari, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, merupakan salah satu, dari cukup banyak tempat melukat di Gianyar. Sekitar 200 meter sebelah utara Puskesmas Sukawati II. Pura Tirta Bulan diyakini sebagai peninggalan Ida Dukuh Sakti yang ahli dalam pengobatan skala niskala. Masyarakat setempat pun meyakini segala permohonan tulus yang diminta akan terkabul. 

 

ib.indra prasetia/candra gupta

 

PEMANGKU Pura Tirta Bulan, Jro Mangku Made Sergog, 77, didampingi anak angkatnya Jro Mangku Nyoman Sumerta, 50, menuturkan jika awal mulanya, Pura Tirta Bulan adalah semak belukar di pinggir aliran Sungai Wos. “Penglingsir kami menemukan tempat ini belum seperti sekarang. Masih semak belukar,” ujarnya.

 

Namun tempat ini sudah dijadikan tempat permandian umum. “Nak lingsir kami setiap kali usai mandi, lanjut melakukan pembersihan,” jelas Jro Mangku Nyoman Sumerta.  

 

Jro Mangku tidak mengetahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi. Yang jelas, Jro Mangku merupakan generasi keempat yang meneruskan ngayah menjadi Janbanggul di Pura Tirta Bulan. 

 

Nah, saat pembersihan semak-semak, ditemukan sebuah goa. Kemudian ditemukan sumber mata air berupa kelebutan dari bawah Pohon Beringin sebelah timur Pura. Kini, klebutan tersebut sudah ditata menjadi pancoran penglukatan Tirta Bulan.

“Nak lingsir tyang lemah peteng ngayah driki, nangkil driki. Sungkan napi-napi, nunas ice driki, metamba. Abing asahine, kepanggih wenten goa. Tanahnya miring,” kenangnya dalam Bahasa Bali yang artinya “Orang tua saya siang malam di sini. Sakit apa pun berdoa dan mohon kesembuhan di sini. Saat meratakan jurang dan ditemukan goa. Tanahnya agak miring.”

 

Di dalam goa terdapat terowongan yang cukup panjang sekitar 200 meter. Tepat di bagian atas ada sebuah lingkaran putih menyerupai bulan. Yang sekaligus menjadi cikal bakal, pura ini disebut Pura Tirta Bulan.

 

Atas petunjuk niskala pula, semenjak saat itu keturunan Jro Mangku Lingsir mulai ngayah menjadi pemangku Pura Tirta Bulan. “Nak lingsir dumun kebrebehan. Punya anak, meninggal dunia. Lagi menikah, sama juga. Akhirnya nak lingsir menjadi bingung, harus berbuat apa. Ada petunjuk, ragane diminta terus ngayah, ngaryanin pelinggih ngiring sesuhunan driki,” jelasnya.

 

Saat ini utama mandala, terdapat sejumlah Pelinggih. Terdiri dari Pelinggih Ida Bhatara Tengahin Segara, Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped, dan Ida Bhatara Ratu Dukuh Sakti Lingsir. 

 

Lanjut dia, goa sepanjang 200 meter tersebut sejatinya tembus sampai selatan. Namun karena sempat longsor, saat ini kondisinya tertutup. “Kemungkinan dulu, ini saluran irigasi. Ada semacam pengaturan buka tutup air. Di ujungnya ada patung Ida Dukuh nempel asli bukan buatan. Tapi ketika ada longsor, hilang misterius” jelasnya. 

 

Awalnya, Pengempon Pura mulanya hanya 5 KK. Lalu berkembang menjadi 13 KK. Dan kini disungsung oleh krama Banjar Negari. Bahkan setiap kali pujawali, Budha Wage Merakih banyak pengayah yang datang dari krama luar Banjar. “Ada dari Mawang, Silungan. Termasuk luar Gianyar juga banyak yang datang,” jelas Jro Mangku Nyoman Sumerta. 

 

Pada pancoran Tirta Bulan, sejatinya sebelum Tahun 1990an tempatnya tinggi. Sehingga krama yang melukat dengan posisi berdiri. Namun semenjak gencarnya eksploitasi batu padas, aliran Tukad Wos menjadi dangkal. “Dulu orang melukat berdiri, sekarang harus duduk atau bersimpuh,” jelasnya. 

 

Untuk tahap persembahyangan, dimulai dari penyucian diri secara sekala niskala di pancoran Tirta Bulan. Sarananya berupa banten pejati. Selanjutnya melakukan persembahyangan di utama mandala juga menggunakan banten pejati. “Kebanyakan yang datang, biasanya mandi dulu di Tukad Wos, kemudian pakai kamen baru melukat di Tirta Bulan,” jelas Jro Mangku. 

 

Pemedek yang melukat, bisa menyampaikan langsung segala permasalahan yang dihadapi dan permohonan yang diinginkan saat melukat. Atas kehendak Ida Dukuh Sakti, permohonan tulus tersebut diyakini terkabul. “Sudah banyak yang membuktikan. Lama tidak dikaruniai keturunan, setelah melukat bisa hamil,” ungkap Jro Mangku Sumerta. 

 

Saat melukat, akan muncul beberapa pertanda. Kemungkinan air menjadi puek, berbau atau rasanya yang berubah manis atau sepet. “Itu tergantung siapa yang melukat. Kalau kapice, biasanya ada pertanda,” jelasnya. 

 

Di samping itu, Tirta Bulan dikenal pingit. Sehingga tidak sembarangan bisa melukat. Seperti misalnya wanita sedang haid maupun warga yang sedang berduka dilarang melukat. “Pernah warga baru datang dari acara ngubur mayat langsung ke pancoran melukat. Saat melukat tiba-tiba dililit ular, entah darimana datangnya. Lari telanjang menyelamatkan diri. Maka itu, kami menjaga betul kesakralan tempat ini,” jelasnya. 

 

Di tempat terpisah, juga terdapat Penglukatan Siwa Melahange di Desa Suwat, Kecamatan Gianyar. Menurut Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibia, penglukatan sudah ada sejak dulu. 

 

Di Penglukatan tersebut tersedia 36 pancoran untuk tempat pembersihan diri. “Untuk sembilan Pancoran utama merupakan Penglukatan Siwa, Durga dan Tujuh bidadari yang menurunkan Tirta ke dunia ini,” ujarnya. 

 

Di tempat itu, tersedia tempat sembahyang dan bermeditasi. Kini, desa Suwat mulai menata lokasi penglukatan. Di antaranya membangun patung Siwa. Kemudian menata jalan setapak menuju lokasi pancoran. “Dulu tempat ini adalah pura beji dan tempat melukat Krama Desa Adat Suwat. Tempat ini sejak dulu memang disakralkan dan memiliki aura magis yang sangat kuat,” terangnya. 

 

Penglukatan tersebut untuk semua umat di Bali dan dunia.

 

“Sejumlah wisatawan bahkan sudah mulai melukat di Penglukatan ini,” imbuhnya. 

 

Penglukatan ini berada di sebelah timur Pura Dalem Desa Adat Suwat. Akses jalan menuju lokasi beraspal. Dari areal parkir, pengunjung akan berjalan kaki menuruni sejumlah anak tangga. (bersambung)

 

 

 



Pura Tirta Bulan di Banjar Negari, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, merupakan salah satu, dari cukup banyak tempat melukat di Gianyar. Sekitar 200 meter sebelah utara Puskesmas Sukawati II. Pura Tirta Bulan diyakini sebagai peninggalan Ida Dukuh Sakti yang ahli dalam pengobatan skala niskala. Masyarakat setempat pun meyakini segala permohonan tulus yang diminta akan terkabul. 

 

ib.indra prasetia/candra gupta

 

PEMANGKU Pura Tirta Bulan, Jro Mangku Made Sergog, 77, didampingi anak angkatnya Jro Mangku Nyoman Sumerta, 50, menuturkan jika awal mulanya, Pura Tirta Bulan adalah semak belukar di pinggir aliran Sungai Wos. “Penglingsir kami menemukan tempat ini belum seperti sekarang. Masih semak belukar,” ujarnya.

 

Namun tempat ini sudah dijadikan tempat permandian umum. “Nak lingsir kami setiap kali usai mandi, lanjut melakukan pembersihan,” jelas Jro Mangku Nyoman Sumerta.  

 

Jro Mangku tidak mengetahui pasti kapan peristiwa tersebut terjadi. Yang jelas, Jro Mangku merupakan generasi keempat yang meneruskan ngayah menjadi Janbanggul di Pura Tirta Bulan. 

 

Nah, saat pembersihan semak-semak, ditemukan sebuah goa. Kemudian ditemukan sumber mata air berupa kelebutan dari bawah Pohon Beringin sebelah timur Pura. Kini, klebutan tersebut sudah ditata menjadi pancoran penglukatan Tirta Bulan.

“Nak lingsir tyang lemah peteng ngayah driki, nangkil driki. Sungkan napi-napi, nunas ice driki, metamba. Abing asahine, kepanggih wenten goa. Tanahnya miring,” kenangnya dalam Bahasa Bali yang artinya “Orang tua saya siang malam di sini. Sakit apa pun berdoa dan mohon kesembuhan di sini. Saat meratakan jurang dan ditemukan goa. Tanahnya agak miring.”

 

Di dalam goa terdapat terowongan yang cukup panjang sekitar 200 meter. Tepat di bagian atas ada sebuah lingkaran putih menyerupai bulan. Yang sekaligus menjadi cikal bakal, pura ini disebut Pura Tirta Bulan.

 

Atas petunjuk niskala pula, semenjak saat itu keturunan Jro Mangku Lingsir mulai ngayah menjadi pemangku Pura Tirta Bulan. “Nak lingsir dumun kebrebehan. Punya anak, meninggal dunia. Lagi menikah, sama juga. Akhirnya nak lingsir menjadi bingung, harus berbuat apa. Ada petunjuk, ragane diminta terus ngayah, ngaryanin pelinggih ngiring sesuhunan driki,” jelasnya.

 

Saat ini utama mandala, terdapat sejumlah Pelinggih. Terdiri dari Pelinggih Ida Bhatara Tengahin Segara, Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped, dan Ida Bhatara Ratu Dukuh Sakti Lingsir. 

 

Lanjut dia, goa sepanjang 200 meter tersebut sejatinya tembus sampai selatan. Namun karena sempat longsor, saat ini kondisinya tertutup. “Kemungkinan dulu, ini saluran irigasi. Ada semacam pengaturan buka tutup air. Di ujungnya ada patung Ida Dukuh nempel asli bukan buatan. Tapi ketika ada longsor, hilang misterius” jelasnya. 

 

Awalnya, Pengempon Pura mulanya hanya 5 KK. Lalu berkembang menjadi 13 KK. Dan kini disungsung oleh krama Banjar Negari. Bahkan setiap kali pujawali, Budha Wage Merakih banyak pengayah yang datang dari krama luar Banjar. “Ada dari Mawang, Silungan. Termasuk luar Gianyar juga banyak yang datang,” jelas Jro Mangku Nyoman Sumerta. 

 

Pada pancoran Tirta Bulan, sejatinya sebelum Tahun 1990an tempatnya tinggi. Sehingga krama yang melukat dengan posisi berdiri. Namun semenjak gencarnya eksploitasi batu padas, aliran Tukad Wos menjadi dangkal. “Dulu orang melukat berdiri, sekarang harus duduk atau bersimpuh,” jelasnya. 

 

Untuk tahap persembahyangan, dimulai dari penyucian diri secara sekala niskala di pancoran Tirta Bulan. Sarananya berupa banten pejati. Selanjutnya melakukan persembahyangan di utama mandala juga menggunakan banten pejati. “Kebanyakan yang datang, biasanya mandi dulu di Tukad Wos, kemudian pakai kamen baru melukat di Tirta Bulan,” jelas Jro Mangku. 

 

Pemedek yang melukat, bisa menyampaikan langsung segala permasalahan yang dihadapi dan permohonan yang diinginkan saat melukat. Atas kehendak Ida Dukuh Sakti, permohonan tulus tersebut diyakini terkabul. “Sudah banyak yang membuktikan. Lama tidak dikaruniai keturunan, setelah melukat bisa hamil,” ungkap Jro Mangku Sumerta. 

 

Saat melukat, akan muncul beberapa pertanda. Kemungkinan air menjadi puek, berbau atau rasanya yang berubah manis atau sepet. “Itu tergantung siapa yang melukat. Kalau kapice, biasanya ada pertanda,” jelasnya. 

 

Di samping itu, Tirta Bulan dikenal pingit. Sehingga tidak sembarangan bisa melukat. Seperti misalnya wanita sedang haid maupun warga yang sedang berduka dilarang melukat. “Pernah warga baru datang dari acara ngubur mayat langsung ke pancoran melukat. Saat melukat tiba-tiba dililit ular, entah darimana datangnya. Lari telanjang menyelamatkan diri. Maka itu, kami menjaga betul kesakralan tempat ini,” jelasnya. 

 

Di tempat terpisah, juga terdapat Penglukatan Siwa Melahange di Desa Suwat, Kecamatan Gianyar. Menurut Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibia, penglukatan sudah ada sejak dulu. 

 

Di Penglukatan tersebut tersedia 36 pancoran untuk tempat pembersihan diri. “Untuk sembilan Pancoran utama merupakan Penglukatan Siwa, Durga dan Tujuh bidadari yang menurunkan Tirta ke dunia ini,” ujarnya. 

 

Di tempat itu, tersedia tempat sembahyang dan bermeditasi. Kini, desa Suwat mulai menata lokasi penglukatan. Di antaranya membangun patung Siwa. Kemudian menata jalan setapak menuju lokasi pancoran. “Dulu tempat ini adalah pura beji dan tempat melukat Krama Desa Adat Suwat. Tempat ini sejak dulu memang disakralkan dan memiliki aura magis yang sangat kuat,” terangnya. 

 

Penglukatan tersebut untuk semua umat di Bali dan dunia.

 

“Sejumlah wisatawan bahkan sudah mulai melukat di Penglukatan ini,” imbuhnya. 

 

Penglukatan ini berada di sebelah timur Pura Dalem Desa Adat Suwat. Akses jalan menuju lokasi beraspal. Dari areal parkir, pengunjung akan berjalan kaki menuruni sejumlah anak tangga. (bersambung)

 

 

 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/