alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Terungkap! Mantan Kasi Camat Nusa Penida Akui Ada Pungutan ke Desa

SEMARAPURA – Kasus dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan pawai pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2019 duta Kecamatan Nusa Penida yang menjadi bidikan Kejaksaan Negeri Klungkung makin seru. 

 

Sebelumnya mantan Camat Nusa Penida, I Gusti Agung Gede Putra Mahajaya yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Klungkung mengaku tidak tahu-menahu berkaitan dengan kasus tersebut. Hal berbeda diungkapkan mantan Kasi Sosial Budaya Kecamatan Nusa Penida, Wayan Sudana.

 

Sudana yang pensiun sejak Januari 2021 itu, Senin (5/7) membenarkan bahwa ada sembilan desa yang menyetorkan uang masing-masing sebesar Rp 10 juta untuk menyukseskan pawai pembukaan PKB Tahun 2019 yang mana pada saat itu Kecamatan Nusa Penida ditunjuk untuk mewakili Kabupaten Klungkung.

 

“Saya sudah diperiksa Kejaksaan. Dan saya sudah sampaikan apa adanya,” terangnya.

- Advertisement -

 

Menurutnya hal itu bermula ketika anggaran sebesar Rp 225 juta untuk pawai PKB Tahun 2019 yang setelah dipotong pajak tersisa Rp 211 juta dirasa Putra Mahajaya tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan tersebut. Sehingga Mahajaya yang pada saat itu sebagai Camat Nusa Penida mengundang Perbekel se-Kecamatan Nusa Penida di sebuah tempat masih di wilayah Nusa Penida.

Baca Juga:  Badung Targetkan Vaksinasi Tahap Tiga untuk Nakes Tuntas Sepekan

 

“Pak Camat (Mahajaya) yang mengundang semuanya,” ujarnya.

 

Dalam pertemuan yang dihadiri seluruh perbekel itu Mahajaya mengutarakan persoalan yang dihadapi Nusa Penida sebagai duta Klungkung dalam kegiatan pawai pembukaan PKB 2019 itu. Saat itu Mahajaya menjelaskan, mengirim sebanyak 80 penari Baris Jangkang, 80 orang pembawa Kobe, sekitar 24 orang Jegeg Bagus, 40 orang pemain Bale Ganjur, 10 pecalang.

 

Dengan kontingen sebanyak itu, diungkapkannya bahwa Mahajaya dalam pertemuan itu mengungkapkan anggaran Rp 211 juta dirasakan tidak mencukupi. Apalagi sejumlah pesertanya juga akan menggunakan kain tenun Cepuk dan Rang-rang.

 

“Setelah itu ada kesepakatan dari forum Perbekel itu untuk urunan sama-sama Rp10 juta,” katanya.

Baca Juga:  Sulit Cari Penginapan di Nusa Penida Jadi Tempat Isolasi Covid-19

 

Namun dalam perjalanannya, hanya 9 desa yang menyetor sehingga terkumpul dana sebesar Rp 90 juta. Terkait desa yang tidak menyetor, ia mengaku tidak tahu menahu.

 

“Saya tidak bertanya apa penyebab desa lain tidak menyetor. Jadi saya tidak meminta kepada para perbekel karena sudah ada kesepakatan. Masalah apakah di desa telah menganggarkan atau tidak, saya tidak tahu. Saya fokusnya di kantor camat dengan PKB itu. Mereka (perbekel) yang datang ke kantor camat,” jelasnya.

 

Menurutnya dana urunan dari 9 desa itu digunakan dengan penuh tanggung jawab dan juga telah dibuatkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ).

 

“Uang itu sudah saya gabungkan dengan dana yang Rp 211 juta itu. SPJ-nya ada,” tandasnya.

- Advertisement -

SEMARAPURA – Kasus dugaan penyalahgunaan anggaran kegiatan pawai pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) Tahun 2019 duta Kecamatan Nusa Penida yang menjadi bidikan Kejaksaan Negeri Klungkung makin seru. 

 

Sebelumnya mantan Camat Nusa Penida, I Gusti Agung Gede Putra Mahajaya yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Klungkung mengaku tidak tahu-menahu berkaitan dengan kasus tersebut. Hal berbeda diungkapkan mantan Kasi Sosial Budaya Kecamatan Nusa Penida, Wayan Sudana.

 

Sudana yang pensiun sejak Januari 2021 itu, Senin (5/7) membenarkan bahwa ada sembilan desa yang menyetorkan uang masing-masing sebesar Rp 10 juta untuk menyukseskan pawai pembukaan PKB Tahun 2019 yang mana pada saat itu Kecamatan Nusa Penida ditunjuk untuk mewakili Kabupaten Klungkung.

 

“Saya sudah diperiksa Kejaksaan. Dan saya sudah sampaikan apa adanya,” terangnya.

 

Menurutnya hal itu bermula ketika anggaran sebesar Rp 225 juta untuk pawai PKB Tahun 2019 yang setelah dipotong pajak tersisa Rp 211 juta dirasa Putra Mahajaya tidak mencukupi untuk membiayai kegiatan tersebut. Sehingga Mahajaya yang pada saat itu sebagai Camat Nusa Penida mengundang Perbekel se-Kecamatan Nusa Penida di sebuah tempat masih di wilayah Nusa Penida.

Baca Juga:  Semaraknya Parade Ogoh-Ogoh Siswa PAUD dan TK Se-Jembrana

 

“Pak Camat (Mahajaya) yang mengundang semuanya,” ujarnya.

 

Dalam pertemuan yang dihadiri seluruh perbekel itu Mahajaya mengutarakan persoalan yang dihadapi Nusa Penida sebagai duta Klungkung dalam kegiatan pawai pembukaan PKB 2019 itu. Saat itu Mahajaya menjelaskan, mengirim sebanyak 80 penari Baris Jangkang, 80 orang pembawa Kobe, sekitar 24 orang Jegeg Bagus, 40 orang pemain Bale Ganjur, 10 pecalang.

 

Dengan kontingen sebanyak itu, diungkapkannya bahwa Mahajaya dalam pertemuan itu mengungkapkan anggaran Rp 211 juta dirasakan tidak mencukupi. Apalagi sejumlah pesertanya juga akan menggunakan kain tenun Cepuk dan Rang-rang.

 

“Setelah itu ada kesepakatan dari forum Perbekel itu untuk urunan sama-sama Rp10 juta,” katanya.

Baca Juga:  GTPP Laporkan Dua Pasien Positif Meninggal di Klungkung dan Badung

 

Namun dalam perjalanannya, hanya 9 desa yang menyetor sehingga terkumpul dana sebesar Rp 90 juta. Terkait desa yang tidak menyetor, ia mengaku tidak tahu menahu.

 

“Saya tidak bertanya apa penyebab desa lain tidak menyetor. Jadi saya tidak meminta kepada para perbekel karena sudah ada kesepakatan. Masalah apakah di desa telah menganggarkan atau tidak, saya tidak tahu. Saya fokusnya di kantor camat dengan PKB itu. Mereka (perbekel) yang datang ke kantor camat,” jelasnya.

 

Menurutnya dana urunan dari 9 desa itu digunakan dengan penuh tanggung jawab dan juga telah dibuatkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ).

 

“Uang itu sudah saya gabungkan dengan dana yang Rp 211 juta itu. SPJ-nya ada,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/