alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Tegallinggah Diyakini Jadi Pusat Peradaban Kuno Bali Masa Neolitikum

SINGARAJA – Desa Tegallinggah di Kecamatan Sukasada diyakini sebagai salah satu pusat peradaban kuno di masa neolitikum.

Keyakinan itu muncul dari para peneliti di Balai Arkeologi Bali, seiring dengan temuan sebuah sarkofagus di desa tersebut.

Tim dari Balai Arkeologi Bali dan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali telah melakukan penelitian di Desa Tegallinggah pada Sabtu (3/4) pekan lalu.

Dari hasil penelitian, ditemukan fakta bahwa temuan sarkofagus itu terbilang unik. Karena tidak sama dengan temuan-temuan sarkofagus di tempat lain.

Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, sarkofagus berfungsi sebagai peti kubur pada masa lalu.

Tak semua orang dikubur menggunakan sarkofagus. Menurut Suarbhawa, hanya orang dengan status tertentu saja yang berhak dikubur menggunakan sarkofagus.

Baca Juga:  Cek Lokasi Bandara Bali Utara, Konsorsium Sepakati Pakai Skema KPBU

“Bisa dibilang status orang yang dikubur pada peti batu itu terbilang tinggi. Entah dari ekonomi atau kedudukan sosial.

Kalau jaman sekarang, orang tertentu menggunakan bade tertentu. Jadi sarkofagus ya semacam itu,” kata Suarbhawa.

Para peneliti di Balai Arkeologi meyakini bahwa Tegallinggah dan Desa Selat sempat menjadi pusat peradaban pada masa kuno.

Terbukti dengan temuan sarkofagus tersebut. Uniknya bahan batuan yang digunakan sebagai sarkofagus, tidak ditemukan di sekitar Tegallinggah.

“Jadi butuh energi lebih untuk membuat sarkofagus. Bisa dibilang peradaban di sini cukup maju pada masa itu.

Apalagi menurut penuturan masyarakat, banyak ditemukan peti batu. Sayangnya sudah hancur dan dibuang, karena masyarakat juga tidak paham fungsinya untuk apa,” imbuhnya.

Baca Juga:  OMG! Unggah Foto Emak-emak Mandi di Sungai, Warga Mendoyo Dipolisikan

SINGARAJA – Desa Tegallinggah di Kecamatan Sukasada diyakini sebagai salah satu pusat peradaban kuno di masa neolitikum.

Keyakinan itu muncul dari para peneliti di Balai Arkeologi Bali, seiring dengan temuan sebuah sarkofagus di desa tersebut.

Tim dari Balai Arkeologi Bali dan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali telah melakukan penelitian di Desa Tegallinggah pada Sabtu (3/4) pekan lalu.

Dari hasil penelitian, ditemukan fakta bahwa temuan sarkofagus itu terbilang unik. Karena tidak sama dengan temuan-temuan sarkofagus di tempat lain.

Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, sarkofagus berfungsi sebagai peti kubur pada masa lalu.

Tak semua orang dikubur menggunakan sarkofagus. Menurut Suarbhawa, hanya orang dengan status tertentu saja yang berhak dikubur menggunakan sarkofagus.

Baca Juga:  Longsor di Bondalem Paling Parah, Ini Update Terbaru BPBD Buleleng

“Bisa dibilang status orang yang dikubur pada peti batu itu terbilang tinggi. Entah dari ekonomi atau kedudukan sosial.

Kalau jaman sekarang, orang tertentu menggunakan bade tertentu. Jadi sarkofagus ya semacam itu,” kata Suarbhawa.

Para peneliti di Balai Arkeologi meyakini bahwa Tegallinggah dan Desa Selat sempat menjadi pusat peradaban pada masa kuno.

Terbukti dengan temuan sarkofagus tersebut. Uniknya bahan batuan yang digunakan sebagai sarkofagus, tidak ditemukan di sekitar Tegallinggah.

“Jadi butuh energi lebih untuk membuat sarkofagus. Bisa dibilang peradaban di sini cukup maju pada masa itu.

Apalagi menurut penuturan masyarakat, banyak ditemukan peti batu. Sayangnya sudah hancur dan dibuang, karena masyarakat juga tidak paham fungsinya untuk apa,” imbuhnya.

Baca Juga:  Gelar PPKM di Tabanan, Usaha Kelewat Jam Operasional Dibubarkan

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/