alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

FIX! Bupati Agus Putuskan Semua Pekerja Migran Karantina di Denpasar

SINGARAJA – Skema karantina terhadap pekerja migran yang pulang kampung, kembali berubah. Kemarin (6/5) Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyatakan, skema baru terkait proses karantina para pekerja migran.

Ini ketiga kalinya pemerintah mengubah kebijakan terkait karantina para pekerja migran. Awalnya, para pekerja migran diizinkan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Hasil evaluasi gugus tugas, ternyata ada pekerja migran yang tak disiplin saat karantina mandiri di rumah. Pemerintah kemudian mengubah sistem karantina.

Karantina mandiri yang tadinya dilakukan di rumah, diubah menjadi karantina pada fasilitas umum yang disiapkan pemerintah. Entah itu rumah kost atau gedung sekolah.

Karena fasilitas yang terbatas, pemerintah kembali mengubah sistem karantina. Para pekerja migran menjalani karantina pada hotel dan penginapan yang disiapkan pemerintah.

Namun fasilitas umum tetap disiapkan, karena terbatasnya jumlah kamar penginapan yang tersedia. Nah kemarin, Bupati Agus Suradnyana menyampaikan skema baru karantina.

Nantinya para pekerja migran akan menjalani karantina di Denpasar. Sehingga satgas tingkat desa, bisa fokus melakukan langkah pencegahan potensi transmisi lokal Covid-19 di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga:  Anggaran Covid-19 Tak Cair, Fraksi Golkar Badung Curiga untuk Pilkada

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, perubahan kebijakan itu, mengikuti perubahan skema karantina pekerja migran yang dilakukan Pemprov Bali.

Selain itu, beroperasinya laboratorium uji PCR di Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa (FK Unwar) dan RS Universitas Udayana (Unud), juga bisa mempercepat proses uji sampel swab.

Nantinya pekerja migran yang masuk lewat Benoa, akan menjalani pengambilan sampel swab di atas kapal.

Selagi menunggu hasil uji lab, mereka akan dikarantina di fasilitas yang disediakan Pemprov Bali. Sementara pekerja migran yang datang lewat Bandara Ngurah Rai, akan menjalani rapid test.

Apabila hasil uji lab negatif, maka mereka diserahkan pada pemerintah daerah masing-masing. Khusus di Kabupaten Buleleng, para pekerja migran akan dikarantina lima hari lagi di penginapan yang disiapkan pemerintah.

Selanjutnya mereka akan menjalani pengambilan swab di penginapan tersebut. Khusus pekerja migran yang masuk lewat Benoa, akan diambil sampel swab pada karantina hari kelima.

Sementara yang masuk dari Bandara Ngurah Rai, akan diambil sampel swab pada karantina hari kelima dan ketujuh. Sebab pekerja migran yang masuk dari Bandara Ngurah Rai sebelumnya belum diambil sampel swab.

Baca Juga:  Cegah Penerimaan Ganda, Dewan Buleleng Janji Kawal Penyaluran BLT

“Ini kami lakukan karena ada kecenderungan sampel swab meleset. Seperti yang kemarin (di Bondalem), swab pertama negatif, yang kedua positif.

Saya ambil keputusan dikarantina di Denpasar, biar nanti (satgas) di Buleleng fokus menangani transmisi lokal,” kata Agus saat ditemui di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng.

Apabila sudah dua kali berturut-turut negative, mereka akan diizinkan pulang ke desanya masing-masing. Namun para pekerja migran ini tetap diimbau melakukan karantina mandiri selama 14 hari, sejak kedatangan mereka di rumah.

“Kami khawatir betul dengan transmisi lokal ini. Mudah-mudahan dengan kebijakan ini, pekerja migran bisa mengerti.

Saya karantina di Denpasar, sebab kalau ada kegagalan pembacaan sampel karena salah prosedur saat mengambil atau menyimpan, bisa dilakukan pengambilan ulang dengan cepat.

Nanti saya siagakan Pol PP, petugas medis, ambulans, dan petugas penghubung juga di Denpasar,” pungkas Agus. 



SINGARAJA – Skema karantina terhadap pekerja migran yang pulang kampung, kembali berubah. Kemarin (6/5) Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyatakan, skema baru terkait proses karantina para pekerja migran.

Ini ketiga kalinya pemerintah mengubah kebijakan terkait karantina para pekerja migran. Awalnya, para pekerja migran diizinkan melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Hasil evaluasi gugus tugas, ternyata ada pekerja migran yang tak disiplin saat karantina mandiri di rumah. Pemerintah kemudian mengubah sistem karantina.

Karantina mandiri yang tadinya dilakukan di rumah, diubah menjadi karantina pada fasilitas umum yang disiapkan pemerintah. Entah itu rumah kost atau gedung sekolah.

Karena fasilitas yang terbatas, pemerintah kembali mengubah sistem karantina. Para pekerja migran menjalani karantina pada hotel dan penginapan yang disiapkan pemerintah.

Namun fasilitas umum tetap disiapkan, karena terbatasnya jumlah kamar penginapan yang tersedia. Nah kemarin, Bupati Agus Suradnyana menyampaikan skema baru karantina.

Nantinya para pekerja migran akan menjalani karantina di Denpasar. Sehingga satgas tingkat desa, bisa fokus melakukan langkah pencegahan potensi transmisi lokal Covid-19 di wilayahnya masing-masing.

Baca Juga:  Lansia pun Semangat Ikut BPJS

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, perubahan kebijakan itu, mengikuti perubahan skema karantina pekerja migran yang dilakukan Pemprov Bali.

Selain itu, beroperasinya laboratorium uji PCR di Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa (FK Unwar) dan RS Universitas Udayana (Unud), juga bisa mempercepat proses uji sampel swab.

Nantinya pekerja migran yang masuk lewat Benoa, akan menjalani pengambilan sampel swab di atas kapal.

Selagi menunggu hasil uji lab, mereka akan dikarantina di fasilitas yang disediakan Pemprov Bali. Sementara pekerja migran yang datang lewat Bandara Ngurah Rai, akan menjalani rapid test.

Apabila hasil uji lab negatif, maka mereka diserahkan pada pemerintah daerah masing-masing. Khusus di Kabupaten Buleleng, para pekerja migran akan dikarantina lima hari lagi di penginapan yang disiapkan pemerintah.

Selanjutnya mereka akan menjalani pengambilan swab di penginapan tersebut. Khusus pekerja migran yang masuk lewat Benoa, akan diambil sampel swab pada karantina hari kelima.

Sementara yang masuk dari Bandara Ngurah Rai, akan diambil sampel swab pada karantina hari kelima dan ketujuh. Sebab pekerja migran yang masuk dari Bandara Ngurah Rai sebelumnya belum diambil sampel swab.

Baca Juga:  Desa Sidan Gianyar akan Buat Pasar Burung Dilengkapi Gantangan

“Ini kami lakukan karena ada kecenderungan sampel swab meleset. Seperti yang kemarin (di Bondalem), swab pertama negatif, yang kedua positif.

Saya ambil keputusan dikarantina di Denpasar, biar nanti (satgas) di Buleleng fokus menangani transmisi lokal,” kata Agus saat ditemui di Lobi Atiti Wisma Kantor Bupati Buleleng.

Apabila sudah dua kali berturut-turut negative, mereka akan diizinkan pulang ke desanya masing-masing. Namun para pekerja migran ini tetap diimbau melakukan karantina mandiri selama 14 hari, sejak kedatangan mereka di rumah.

“Kami khawatir betul dengan transmisi lokal ini. Mudah-mudahan dengan kebijakan ini, pekerja migran bisa mengerti.

Saya karantina di Denpasar, sebab kalau ada kegagalan pembacaan sampel karena salah prosedur saat mengambil atau menyimpan, bisa dilakukan pengambilan ulang dengan cepat.

Nanti saya siagakan Pol PP, petugas medis, ambulans, dan petugas penghubung juga di Denpasar,” pungkas Agus. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/