alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Sidak RS dan Puskesmas, DPRD Gianyar Kaget, Ini Temuannya

GIANYAR – Komisi IV DPRD Gianyar menggelar monitoring dan evaluasi (monev) ke RSUD Sanjiwani, Puskesmas Ubud 1 dan RSU Payangan. Dewan menemukan sejumlah temuan. Ruangan kelas 3 di gedung baru RSUD Sanjiwani justru lebih sedikit dibanding kelas 2 dan kelas 1.

 

 

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi IV DPRD Gianyar, Ni Made Ratnadi.

 

“Di Sanjiwani, kami melihat perbandingan kelas. Kenapa kelas 3 kamarnya lebih sedikit disana? Sedangkan di Gianyar, masyarakat dominan di kelas 3,” ujarnya, usai monev, Senin (7/6).

 

 

Dia berharap, tidak terulang kasus lama. Dengan modus kehabisan kamar, pasien diminta naik kelas.

 

“Jangan sampai masyarakat Gianyar disuruh bayar karena kehabisan kamar kelas 3,” ujarnya.

Baca Juga:  Linglung dan Jadi Tontonan Warga, Perempuan Paruh Baya Diamankan

 

 

Dia pun mendesak rumah sakit melayani pasien kelas 3 meskipun penuh.

 

“Kalau masyarakat punya kartu kelas 3, kalau penuh, tetap tidak bayar 2×24 jam meskipun ditaruh di VIP. Setelah itu, RS berkewajiban pindahkan pasien ke kelas 3,” pintanya.

 

 

Apabila selama dua hari dirawat di VIP pasien kelas 3 tadi tetap tidak dapat kamar, itu resiko rumah sakit. “Kalau penuh di kelas 3, tetap harus difasilitasi dengan Bantuan Kesehatan (BK),” ungkapnya.

 

 

Selanjutnya, temuan di Puskesmas Ubud 1, dewan kaget karena ada kursi tunggu roboh dibiarkan begitu saja.

 

“Padahal kami datang kesana bersurat. Mestinya dibersihkan, merusak pandangan,” jelasnya.

 

 

Baca Juga:  Pulang dari Italia, Mendadak Demam, Warga Beng Dirujuk ke RS Sanjiwani

Yang miris, Puskesmas yang punya ruangan rawat inap, justru yang menginap sangat rendah. “Malah hampir tidak ada. Mestinya dicari langkah. Apalagi disini banyak bule. Banyak hotel, kenapa gak kerjasama dengan hotel?,” ujarnya.

 

 

Sekarang klinik swasta justru dicari oleh turis. “Berarti belum optimal. Nanti ada rencana sistem on call pakai motor. Itu inovasi dari kepala Puskesmas. Setiap ada on call, dokter masuk ke rumah maupun vila,” ujarnya.

 

 

Selain itu, kendala di Puskesmas Ubud 1 terkendala tenaga kesehatan. “Kekurangan tenaga dokter disana,” jelasnya.

 

Sedangkan, di RSU Payangan dipandang sudah bagus. “Selain gedung baru, secara kualitas dan perencanaan sangat baik. Yang kerja disana (nakes) dedikasi tinggi,” pungkasnya.


GIANYAR – Komisi IV DPRD Gianyar menggelar monitoring dan evaluasi (monev) ke RSUD Sanjiwani, Puskesmas Ubud 1 dan RSU Payangan. Dewan menemukan sejumlah temuan. Ruangan kelas 3 di gedung baru RSUD Sanjiwani justru lebih sedikit dibanding kelas 2 dan kelas 1.

 

 

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Komisi IV DPRD Gianyar, Ni Made Ratnadi.

 

“Di Sanjiwani, kami melihat perbandingan kelas. Kenapa kelas 3 kamarnya lebih sedikit disana? Sedangkan di Gianyar, masyarakat dominan di kelas 3,” ujarnya, usai monev, Senin (7/6).

 

 

Dia berharap, tidak terulang kasus lama. Dengan modus kehabisan kamar, pasien diminta naik kelas.

 

“Jangan sampai masyarakat Gianyar disuruh bayar karena kehabisan kamar kelas 3,” ujarnya.

Baca Juga:  RS Sanjiwani Overload Pasien Positif Corona, Ini Respons Kadiskes Bali

 

 

Dia pun mendesak rumah sakit melayani pasien kelas 3 meskipun penuh.

 

“Kalau masyarakat punya kartu kelas 3, kalau penuh, tetap tidak bayar 2×24 jam meskipun ditaruh di VIP. Setelah itu, RS berkewajiban pindahkan pasien ke kelas 3,” pintanya.

 

 

Apabila selama dua hari dirawat di VIP pasien kelas 3 tadi tetap tidak dapat kamar, itu resiko rumah sakit. “Kalau penuh di kelas 3, tetap harus difasilitasi dengan Bantuan Kesehatan (BK),” ungkapnya.

 

 

Selanjutnya, temuan di Puskesmas Ubud 1, dewan kaget karena ada kursi tunggu roboh dibiarkan begitu saja.

 

“Padahal kami datang kesana bersurat. Mestinya dibersihkan, merusak pandangan,” jelasnya.

 

 

Baca Juga:  Terima Ganti Rugi Miliaran, Warga 4 Desa di Buleleng Senyum Semringah

Yang miris, Puskesmas yang punya ruangan rawat inap, justru yang menginap sangat rendah. “Malah hampir tidak ada. Mestinya dicari langkah. Apalagi disini banyak bule. Banyak hotel, kenapa gak kerjasama dengan hotel?,” ujarnya.

 

 

Sekarang klinik swasta justru dicari oleh turis. “Berarti belum optimal. Nanti ada rencana sistem on call pakai motor. Itu inovasi dari kepala Puskesmas. Setiap ada on call, dokter masuk ke rumah maupun vila,” ujarnya.

 

 

Selain itu, kendala di Puskesmas Ubud 1 terkendala tenaga kesehatan. “Kekurangan tenaga dokter disana,” jelasnya.

 

Sedangkan, di RSU Payangan dipandang sudah bagus. “Selain gedung baru, secara kualitas dan perencanaan sangat baik. Yang kerja disana (nakes) dedikasi tinggi,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/