alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Pendapatan RSUD Buleleng Turun Drastis, Margin Laba Makin Tipis

SINGARAJA – Pendapatan di RSUD Buleleng mengalami penurunan secara signifikan. Tak pelak hal itu juga berdampak pada

pendapatan jasa pelayanan (jaspel) yang diterima tenaga medis maupun tenaga teknis, yang bertugas di rumah sakit milik Pemkab Buleleng itu.

Hitung-hitungan manajemen rumah sakit, rata-rata pendapatan rumah sakit mengalami penurunan hingga 25,51 persen per bulan.

Biasanya pendapatan di RSUD Buleleng mencapai Rp 9,8 miliar per bulan. Namun sepanjang tahun ini, pendapatan turun menjadi Rp 7,3 miliar per bulan.

Margin laba makin tipis, karena manajemen harus mengeluarkan tambahan biaya operasional pada masa pandemi ini.

Dirut RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana mengungkapkan, bila merujuk data kunjungan pasien, memang terjadi penurunan drastis.

Baca Juga:  Stok Logistik Posko Induk Tejakula Menipis, Hanya Tersisa Beras

Untuk instalasi rawat jalan, kunjungan turun hingga 40 persen. Sementara untuk instalasi rawat inap, kunjungan turun sebesar 12,5 persen.

“Itu kondisi yang kami hadapi. Sedangkan suasana covid begini, belanja operasional kami meningkat. Seperti pegawai harus pakai masker dari sebelumnya tidak.

Untuk operasi juga harus menggunakan APD level 3. Ruangan juga harus dilakukan sterilisasi rutin, ini kan sebelumnya tidak intens kami lakukan,” ujar dr. Wiartana.

Menurutnya, penurunan pendapatan itu bukan semata-mata karena turunnya pasien pada masa pandemi Covid-19.

Namun, lebih disebabkan pola rujukan online (rujol) yang diterapkan pada pasien yang menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pihaknya pun tak bisa berbuat banyak, karena prosedur rujukan itu sudah menjadi kebijakan pemerintah.

Baca Juga:  Tersisa 4 PDP di RS Negara, 57 PMI yang Dikarantina Uji Swab Terakhir

“Hal yang bisa kami lakukan ya melakukan efisiensi. Mutu dan kualitas layanan kan tidak boleh kami turunkan. Intinya kami tetap menjaga mutu,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Luh Hesti Ranitasari menyebut grafik penurunan yang terjadi di RSUD Buleleng memang cukup berdampak.

Selain itu masyarakat juga kini memilih membatasi kunjungan mereka ke fasilitas kesehatan.

“Rujukan online juga berdampak, karena ada beberapa kriteria yang tidak bisa langsung dirujuk ke RSUD. Ini harus dengan tingkat keseriusan penyakit. Situasi covid ini memang berdampak,” kata Rani.



SINGARAJA – Pendapatan di RSUD Buleleng mengalami penurunan secara signifikan. Tak pelak hal itu juga berdampak pada

pendapatan jasa pelayanan (jaspel) yang diterima tenaga medis maupun tenaga teknis, yang bertugas di rumah sakit milik Pemkab Buleleng itu.

Hitung-hitungan manajemen rumah sakit, rata-rata pendapatan rumah sakit mengalami penurunan hingga 25,51 persen per bulan.

Biasanya pendapatan di RSUD Buleleng mencapai Rp 9,8 miliar per bulan. Namun sepanjang tahun ini, pendapatan turun menjadi Rp 7,3 miliar per bulan.

Margin laba makin tipis, karena manajemen harus mengeluarkan tambahan biaya operasional pada masa pandemi ini.

Dirut RSUD Buleleng dr. Gede Wiartana mengungkapkan, bila merujuk data kunjungan pasien, memang terjadi penurunan drastis.

Baca Juga:  Stok Logistik Posko Induk Tejakula Menipis, Hanya Tersisa Beras

Untuk instalasi rawat jalan, kunjungan turun hingga 40 persen. Sementara untuk instalasi rawat inap, kunjungan turun sebesar 12,5 persen.

“Itu kondisi yang kami hadapi. Sedangkan suasana covid begini, belanja operasional kami meningkat. Seperti pegawai harus pakai masker dari sebelumnya tidak.

Untuk operasi juga harus menggunakan APD level 3. Ruangan juga harus dilakukan sterilisasi rutin, ini kan sebelumnya tidak intens kami lakukan,” ujar dr. Wiartana.

Menurutnya, penurunan pendapatan itu bukan semata-mata karena turunnya pasien pada masa pandemi Covid-19.

Namun, lebih disebabkan pola rujukan online (rujol) yang diterapkan pada pasien yang menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pihaknya pun tak bisa berbuat banyak, karena prosedur rujukan itu sudah menjadi kebijakan pemerintah.

Baca Juga:  Tersisa 4 PDP di RS Negara, 57 PMI yang Dikarantina Uji Swab Terakhir

“Hal yang bisa kami lakukan ya melakukan efisiensi. Mutu dan kualitas layanan kan tidak boleh kami turunkan. Intinya kami tetap menjaga mutu,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Komisi IV DPRD Buleleng Luh Hesti Ranitasari menyebut grafik penurunan yang terjadi di RSUD Buleleng memang cukup berdampak.

Selain itu masyarakat juga kini memilih membatasi kunjungan mereka ke fasilitas kesehatan.

“Rujukan online juga berdampak, karena ada beberapa kriteria yang tidak bisa langsung dirujuk ke RSUD. Ini harus dengan tingkat keseriusan penyakit. Situasi covid ini memang berdampak,” kata Rani.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/