alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Harga Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Karangasem Menjerit

AMLAPURA- Sejumlah peternak ayam petelur di Karangasem benar-benar dibuat kalang kabut oleh naiknya harga pakan ayam petelur di pasaran.

 

Kenaikan harga pakan ayam, juga tidak dibarengi atau diimbangi dengan harga telur yang justru cenderung mengalami penurunan sejak awal tahun 2021.

 

Bahkan para peternak pun mulai bingung dengan kondisi saat ini.

 

Salah seorang peternak di Desa Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem, I Nyoman Sumadi, Senin (6/9) kemarin, mengakui harga telur di pasaran hari ini sudah mencapai titik terendah yakni mencapai Rp 14.400 per-trai.

 

Jika kondisi seperti ini, pihaknya tidak yakin para peternak bisa bertahan secara terus menerus.

 

“Efesiensi bagaimana lagi yang harus kami lakukan, penghematan sudah dilakukan. Sejak awal tahun kamu juga sudah lakukan efesiensi dan sekarang yang paling parah harganya,” ujarnya.

Baca Juga:  Duh, Proyek Shortcut Singaraja – Denpasar Terkendala Pembebasan Lahan

 

Turunya harga telur di pasaran, kata Sumadi yang juga anggota DPRD Karangasem ini kemungkinan disebabkan oleh pemberlakuan PPKM Jawa-Bali.

 

Selain itu, juga dampak dari Covid-19 yang belum juga usai juga membuat dunia pariwisata di Bali yang menyedot produksi telur sekarang sudah sepi.

 

Pihaknya pun harus memasarkan telur keluar daerah.

 

“Harga telur tidak bisa terangkat karena tentu saja petelur asal Bali tidak bisa bersaing dengan peternak di Jawa, sehingga kami bergeser ketimur,” ujarnya lagi.

 

Dari perhitungan dengan harga telur di pasaran saat ini, Sumadi juga mengaku setiap harinya harus norok hampir Rp 10 juta hanya untuk pakan ternak saja.

 

Belum lagi, dengan upah tenaga kerja, vaksin, air maupun listrik. Para peternak pun, hanya bisa menambah hutang untuk bisa bertahan sambil menunggu harga telur kembali normal.

Baca Juga:  Harga Anjlok, Petani Paprika Buleleng Terpaksa Ganti Tanaman

 

“Setiap hari saya harus menghabiskan dua ton pakan, ada kekhatiwaran kalau pandemi berlangsung lama para peternak tentu tidak bisa bertahan,” imbuhnya.

 

Sumadi berharap, Pemkab Karangasem mengambil langkah penyelamatan dan jangan membiarkan para peternak menunggu bangkrut.

 

Lebih-lebih, kata Sumadi dari skala UMKM, kalau ini terpuruk banyak tenaga kerja yang ada di dalamnya akan terdampak.

 

Langkah penyelamatan yang harus dilakukan oleh Pemkab Karangasem menurutnya dengan melakukan tata kelola harga jagung yang memicu naiknya harga pakan.

 

“Banyak efeknya kalau peternakan mengalami kerugian terus menerus, karena menyerap tenaga kerja, pemkab harus mengambil langkah melakukan tata kelola harga jagung,” tandas Sumadi. 


AMLAPURA- Sejumlah peternak ayam petelur di Karangasem benar-benar dibuat kalang kabut oleh naiknya harga pakan ayam petelur di pasaran.

 

Kenaikan harga pakan ayam, juga tidak dibarengi atau diimbangi dengan harga telur yang justru cenderung mengalami penurunan sejak awal tahun 2021.

 

Bahkan para peternak pun mulai bingung dengan kondisi saat ini.

 

Salah seorang peternak di Desa Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem, I Nyoman Sumadi, Senin (6/9) kemarin, mengakui harga telur di pasaran hari ini sudah mencapai titik terendah yakni mencapai Rp 14.400 per-trai.

 

Jika kondisi seperti ini, pihaknya tidak yakin para peternak bisa bertahan secara terus menerus.

 

“Efesiensi bagaimana lagi yang harus kami lakukan, penghematan sudah dilakukan. Sejak awal tahun kamu juga sudah lakukan efesiensi dan sekarang yang paling parah harganya,” ujarnya.

Baca Juga:  Manggis Jembrana Rambah Pasar Tiongkok

 

Turunya harga telur di pasaran, kata Sumadi yang juga anggota DPRD Karangasem ini kemungkinan disebabkan oleh pemberlakuan PPKM Jawa-Bali.

 

Selain itu, juga dampak dari Covid-19 yang belum juga usai juga membuat dunia pariwisata di Bali yang menyedot produksi telur sekarang sudah sepi.

 

Pihaknya pun harus memasarkan telur keluar daerah.

 

“Harga telur tidak bisa terangkat karena tentu saja petelur asal Bali tidak bisa bersaing dengan peternak di Jawa, sehingga kami bergeser ketimur,” ujarnya lagi.

 

Dari perhitungan dengan harga telur di pasaran saat ini, Sumadi juga mengaku setiap harinya harus norok hampir Rp 10 juta hanya untuk pakan ternak saja.

 

Belum lagi, dengan upah tenaga kerja, vaksin, air maupun listrik. Para peternak pun, hanya bisa menambah hutang untuk bisa bertahan sambil menunggu harga telur kembali normal.

Baca Juga:  Duh, Proyek Shortcut Singaraja – Denpasar Terkendala Pembebasan Lahan

 

“Setiap hari saya harus menghabiskan dua ton pakan, ada kekhatiwaran kalau pandemi berlangsung lama para peternak tentu tidak bisa bertahan,” imbuhnya.

 

Sumadi berharap, Pemkab Karangasem mengambil langkah penyelamatan dan jangan membiarkan para peternak menunggu bangkrut.

 

Lebih-lebih, kata Sumadi dari skala UMKM, kalau ini terpuruk banyak tenaga kerja yang ada di dalamnya akan terdampak.

 

Langkah penyelamatan yang harus dilakukan oleh Pemkab Karangasem menurutnya dengan melakukan tata kelola harga jagung yang memicu naiknya harga pakan.

 

“Banyak efeknya kalau peternakan mengalami kerugian terus menerus, karena menyerap tenaga kerja, pemkab harus mengambil langkah melakukan tata kelola harga jagung,” tandas Sumadi. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/