alexametrics
28.7 C
Denpasar
Monday, July 4, 2022

Dua Banjar di Nusa Penida Kampanyekan Jangan Takut Makan Daging Babi

SEMARAPURA – Puluhan warga Banjar Gelagah dan Behu, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida menggelar acara Mekaronan atau makan bersama dengan lauk dari berbagai olahan daging babi di Banjar Behu, Sabtu (8/2).

Kegiatan itu digelar untuk mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa babi di Kecamatan Nusa Penida hingga saat ini masih aman dari wabah virus African Swine Fever (ASF).

Sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir dalam mengonsumsi dagang babi.

Panitia kegiatan I Nengah Dharmawan menuturkan, babi di sejumlah kabupaten di Bali banyak yang telah mati dan diduga akibat terinfeksi virus ASF.

Kondisi itupun membuat masyarakat mulai khawatir untuk mengonsumsi daging babi.

“Dan ini membuat harga babi anjlok. Meski sebenarnya virus tersebut tidak menginfeksi manusia ketika daging dimasak dengan benar dan matang,” katanya.

Melihat dampak dari hal tersebut, menurutnya penting bagi warga Banjar Gelagah yang berjumlah 40 KKdan Banjar Behu yang berjumlah 44 KK untuk mengkampanyekan bahwa babi di Kecamatan Nusa Penida hingga saat ini bebas wabah ASF.

Dan sangat kecil potensinya untuk mewabah di Nusa Penida, mengingat Telur Emas Bali itu merupakan wilayah kepulauan.

“Harga daging babi di Nusa Penida masih normal, yakni berkisar Rp 40 ribu per kilogram. Meski begitu, kampanye bahwa babi di Nusa Penida tidak terjangkit virus ASF penting untuk dilakukan agar masyarakat tidak khawatir. Jadi sebagai langkah antisipasi, jangan sampai harga daging babi di Nusa Penida juga berpengaruh,” terangnya.

Adapun bentuk kampanye puluhan warga tersebut, yakni dengan menggelar acara Mekaronan atau makan bersama, Sabtu (8/2).

Dalam acara Mekaronan tersebut, lauk yang dihidangkan adalah berbagai olahan dari daging babi. Seperti sate lilit, sate tusuk, tim babi, sayur ares, dan urutan.

“Berbagai olahan makanan itu menggunakan daging babi sebanyak 200 kilogram. Di mana ratusan kilogram daging babi itu didapat dari swadaya warga di Banjar Gelagah dan Banjar Behu,” ujarnya.

Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat luas tahu bahwa wabah virus tersebut tidak sampai ke Kecamatan Nusa Penida pada utamanya. Sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir untuk mengonsumsi daging babi.

 Mengingat kekhawatiran masyarakat tersebut dapat mempengaruhi harga daging babi. “Setiap kepala keluarga di Nusa Penida memiliki minimal satu ekor babi. Itu dipelihara para ibu-ibu untuk membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semoga wabah itu tidak sampai ke Nusa Penida,” tukasnya



SEMARAPURA – Puluhan warga Banjar Gelagah dan Behu, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida menggelar acara Mekaronan atau makan bersama dengan lauk dari berbagai olahan daging babi di Banjar Behu, Sabtu (8/2).

Kegiatan itu digelar untuk mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa babi di Kecamatan Nusa Penida hingga saat ini masih aman dari wabah virus African Swine Fever (ASF).

Sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir dalam mengonsumsi dagang babi.

Panitia kegiatan I Nengah Dharmawan menuturkan, babi di sejumlah kabupaten di Bali banyak yang telah mati dan diduga akibat terinfeksi virus ASF.

Kondisi itupun membuat masyarakat mulai khawatir untuk mengonsumsi daging babi.

“Dan ini membuat harga babi anjlok. Meski sebenarnya virus tersebut tidak menginfeksi manusia ketika daging dimasak dengan benar dan matang,” katanya.

Melihat dampak dari hal tersebut, menurutnya penting bagi warga Banjar Gelagah yang berjumlah 40 KKdan Banjar Behu yang berjumlah 44 KK untuk mengkampanyekan bahwa babi di Kecamatan Nusa Penida hingga saat ini bebas wabah ASF.

Dan sangat kecil potensinya untuk mewabah di Nusa Penida, mengingat Telur Emas Bali itu merupakan wilayah kepulauan.

“Harga daging babi di Nusa Penida masih normal, yakni berkisar Rp 40 ribu per kilogram. Meski begitu, kampanye bahwa babi di Nusa Penida tidak terjangkit virus ASF penting untuk dilakukan agar masyarakat tidak khawatir. Jadi sebagai langkah antisipasi, jangan sampai harga daging babi di Nusa Penida juga berpengaruh,” terangnya.

Adapun bentuk kampanye puluhan warga tersebut, yakni dengan menggelar acara Mekaronan atau makan bersama, Sabtu (8/2).

Dalam acara Mekaronan tersebut, lauk yang dihidangkan adalah berbagai olahan dari daging babi. Seperti sate lilit, sate tusuk, tim babi, sayur ares, dan urutan.

“Berbagai olahan makanan itu menggunakan daging babi sebanyak 200 kilogram. Di mana ratusan kilogram daging babi itu didapat dari swadaya warga di Banjar Gelagah dan Banjar Behu,” ujarnya.

Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat luas tahu bahwa wabah virus tersebut tidak sampai ke Kecamatan Nusa Penida pada utamanya. Sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir untuk mengonsumsi daging babi.

 Mengingat kekhawatiran masyarakat tersebut dapat mempengaruhi harga daging babi. “Setiap kepala keluarga di Nusa Penida memiliki minimal satu ekor babi. Itu dipelihara para ibu-ibu untuk membantu suaminya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semoga wabah itu tidak sampai ke Nusa Penida,” tukasnya



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/