alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Diancam Denda Jutaan Rupiah, Tak Ada Berani Tangkap Burung di Desa Ini

AMLAPURA – Untuk melindungi keberadaan populasi burung, Desa Adat Pejeng, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, memberlakukan sanksi tegas bagi siapa saja yang berani menangkap hingga menangkarkan burung di wilayah tersebut.

Keberadaan burung di Desa Adat Pejeng sendiri masih cukup banyak. Dengan letak desa yang berada di kawasan hutan kaki Gunung Agung tersebut masih cukup asri. Hal tersebut menjadi alasan kuat Desa Adat Pejeng menetapkan pararem/aturan adat tentang larangan menembak atau menangkap burung.

Pararem tersebut tertuang dalam keputusan Desa Adat Pejeng, yakni pararem Nomor 4 Tahun 2020 tentang larangan memburu, menembak, bahkan sekadar menangkar burung di wilayah desa. Aturan itu berlaku bagi warga setempat juga warga luar desa adat. Jika aturan itu dilanggar, warga bakal disanksi denda Rp 2,5 juta.

Baca Juga:  7 Event Budaya Terbesar di Bali Akan Kembali Digelar tahun 2022

Hal itu diungkapkan Bendesa Adat Pejeng, Desa Menanga, I Gusti Agung Ngurah Kepakisan. Kata dia, aturan yang dibuat berdasarkan keputusan bersama prama warga desa adat setempat. Aturan itu tercetus atas keprihatinan warga desa yang melihat banyaknya para pemburu burung dari luar desa yang dinilai meresahkan.

 

“Sejak ada aturan itu, tidak ada lagi yang berani memburu burung di desa adat kami,” ujarnya.

Diakui, dulunya desa Adat Pejeng banyak dihuni berbagai spesies burung. Namun sejak adanya perburuan liar, membuat keberadaan burung-burung itu terancam. Melalui aturan ini, ia berharap tidak ada lagi perburuan burung.

- Advertisement -

 

“Harapannya agar kelestarian hutan dan populasi burung terjaga,” tegasnya.

Baca Juga:  Kelamaan Menganggur, Buruh Bangunan Curi Tabung Gas untuk Bayar Utang

Pemberlakuan sanksi berupa denda uang Rp 2,5 juta itu berlaku untuk semua yang melanggar. “Baik itu krama kami sendiri maupun orang luar di desa kami. Kami berlakukan sanksi itu sebagai efek jera,” tandasnya.

- Advertisement -

AMLAPURA – Untuk melindungi keberadaan populasi burung, Desa Adat Pejeng, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, memberlakukan sanksi tegas bagi siapa saja yang berani menangkap hingga menangkarkan burung di wilayah tersebut.

Keberadaan burung di Desa Adat Pejeng sendiri masih cukup banyak. Dengan letak desa yang berada di kawasan hutan kaki Gunung Agung tersebut masih cukup asri. Hal tersebut menjadi alasan kuat Desa Adat Pejeng menetapkan pararem/aturan adat tentang larangan menembak atau menangkap burung.

Pararem tersebut tertuang dalam keputusan Desa Adat Pejeng, yakni pararem Nomor 4 Tahun 2020 tentang larangan memburu, menembak, bahkan sekadar menangkar burung di wilayah desa. Aturan itu berlaku bagi warga setempat juga warga luar desa adat. Jika aturan itu dilanggar, warga bakal disanksi denda Rp 2,5 juta.

Baca Juga:  Bus Angkut Puluhan Pemedek ke Pura Besakih Tergelincir di Selat, Karangasem

Hal itu diungkapkan Bendesa Adat Pejeng, Desa Menanga, I Gusti Agung Ngurah Kepakisan. Kata dia, aturan yang dibuat berdasarkan keputusan bersama prama warga desa adat setempat. Aturan itu tercetus atas keprihatinan warga desa yang melihat banyaknya para pemburu burung dari luar desa yang dinilai meresahkan.

 

“Sejak ada aturan itu, tidak ada lagi yang berani memburu burung di desa adat kami,” ujarnya.

Diakui, dulunya desa Adat Pejeng banyak dihuni berbagai spesies burung. Namun sejak adanya perburuan liar, membuat keberadaan burung-burung itu terancam. Melalui aturan ini, ia berharap tidak ada lagi perburuan burung.

 

“Harapannya agar kelestarian hutan dan populasi burung terjaga,” tegasnya.

Baca Juga:  Angka Kesembuhan di Bali Terus Naik, Satgas Catat Angka 93,22 Persen

Pemberlakuan sanksi berupa denda uang Rp 2,5 juta itu berlaku untuk semua yang melanggar. “Baik itu krama kami sendiri maupun orang luar di desa kami. Kami berlakukan sanksi itu sebagai efek jera,” tandasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/