alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 17, 2022

Penari Ratu Roro Kidul Kerauhan, Pasek: Mana Tanggungjawab Bupati Eka

TABANAN – Kerauhan masal kembali terjadi. Puluhan siswi SMPN 1 Selemadeg Barat, Tabanan, yang terlibat dalam pementasan tarian Rejang Sandat Ratu Segara (RSRS)

saat Art And Food Festival Tanah Lot Ke-2 beberapa waktu, kembali kerauhan masal sebelum proses pembelajaran di kelas kemarin.

Orang tua yang tidak terima anaknya kembali mengalami kerauhan masal di sekolah spontan melayangkan protes melalui akun facebook tertuju langsung kepada Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti.

Caranya dengan menguplaod foto kerauhan masal di SMPN 1 Selemadeg Barat. Dalam status di akun facebook miliknya, Putra Pasek melayangkan protes keras.

“Hari ini terjadi kerauhan lagi di SMPN 1 Selemadeg Barat dan salah satu korbannya adalah anak saya. Saya mau tanya dimana letak tanggung jawab Bupati Tabanan”.

Baca Juga:  Ngenes, Ribuan Pegawai Kontrak di Badung Belum Gajian,Ngebon Sana sini

Protes dari salah satu orang tua siswa mendapat komentar dari warga net sebanyak 340 komentar, 292 menyukai dan 16 kali dibagikan.

Seperti diberitakan, pelajar SMPN 1 Selemadeg Barat kembali mengalami kerauhan saat akan memasuki ruang kelas untuk mengikuti proses belajar.

“Hari ini sebanyak 55 siswi kerauhan dari 67 siswa yang mengikuti tarian RSRS. Siswa yang kerauhan mulai dari kelas VII, VIII dan IX.

Kerauhan terjadi sejak pukul 07.00 pagi hingga pukul 09.30,” kata Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Selemadeg Barat I Nyoman Sumreg.

Menurutnya, kerauhan itu ditandai dengan ulah para pelajar menarikan tarian RSRS. Mereka kemudian berteriak histeris tanpa dapat dikendalikan.

 “Kami yang panik dan khawatir sehingga harus memulangkan siswa lebih awal. Takut terjadi kontak langsung dengan siswa lainnya. Sehingga terjadi kerauhan yang lebih banyak,” ungkapnya.

Baca Juga:  Klaster Kantor Tambah, Pulang Dinas Luar, Pegawai Wajib Tes Covid-19

Melihat fenomena kerauhan massal di sekolah. Pihak sekolah langsung melakukan koordinasi dengan camat Selemadeg Barat, perbekel dan orang tua siswa.

Kemudian juga sudah melaporkan kepada Siwa Murti Bali agar dapat ditangani secara langsung.

“Mengenai apakah akan menghanturkan guru piduka di pura sekolah dan pura Tanah Lot. Menunggu hasil penanganan dari Jro Mangku Made Astawa (guru spiritual)

Siswa Murti Bali yang ditunjuk langsung oleh Pemkab Tabanan untuk menangani fenomena kerauhan. Seperti apa arahan nantinya,” pungkasnya.



TABANAN – Kerauhan masal kembali terjadi. Puluhan siswi SMPN 1 Selemadeg Barat, Tabanan, yang terlibat dalam pementasan tarian Rejang Sandat Ratu Segara (RSRS)

saat Art And Food Festival Tanah Lot Ke-2 beberapa waktu, kembali kerauhan masal sebelum proses pembelajaran di kelas kemarin.

Orang tua yang tidak terima anaknya kembali mengalami kerauhan masal di sekolah spontan melayangkan protes melalui akun facebook tertuju langsung kepada Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti.

Caranya dengan menguplaod foto kerauhan masal di SMPN 1 Selemadeg Barat. Dalam status di akun facebook miliknya, Putra Pasek melayangkan protes keras.

“Hari ini terjadi kerauhan lagi di SMPN 1 Selemadeg Barat dan salah satu korbannya adalah anak saya. Saya mau tanya dimana letak tanggung jawab Bupati Tabanan”.

Baca Juga:  Ngenes, Ribuan Pegawai Kontrak di Badung Belum Gajian,Ngebon Sana sini

Protes dari salah satu orang tua siswa mendapat komentar dari warga net sebanyak 340 komentar, 292 menyukai dan 16 kali dibagikan.

Seperti diberitakan, pelajar SMPN 1 Selemadeg Barat kembali mengalami kerauhan saat akan memasuki ruang kelas untuk mengikuti proses belajar.

“Hari ini sebanyak 55 siswi kerauhan dari 67 siswa yang mengikuti tarian RSRS. Siswa yang kerauhan mulai dari kelas VII, VIII dan IX.

Kerauhan terjadi sejak pukul 07.00 pagi hingga pukul 09.30,” kata Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Selemadeg Barat I Nyoman Sumreg.

Menurutnya, kerauhan itu ditandai dengan ulah para pelajar menarikan tarian RSRS. Mereka kemudian berteriak histeris tanpa dapat dikendalikan.

 “Kami yang panik dan khawatir sehingga harus memulangkan siswa lebih awal. Takut terjadi kontak langsung dengan siswa lainnya. Sehingga terjadi kerauhan yang lebih banyak,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tak Banyak Tahu, Ini Jenis Penyu yang Dibolehkan untuk Keperluan Adat

Melihat fenomena kerauhan massal di sekolah. Pihak sekolah langsung melakukan koordinasi dengan camat Selemadeg Barat, perbekel dan orang tua siswa.

Kemudian juga sudah melaporkan kepada Siwa Murti Bali agar dapat ditangani secara langsung.

“Mengenai apakah akan menghanturkan guru piduka di pura sekolah dan pura Tanah Lot. Menunggu hasil penanganan dari Jro Mangku Made Astawa (guru spiritual)

Siswa Murti Bali yang ditunjuk langsung oleh Pemkab Tabanan untuk menangani fenomena kerauhan. Seperti apa arahan nantinya,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/